Jumat, 19 Desember 2014

. Stand by Me Doraemon (STAND BY ME ドラえもん) (2014) Quality: BRRip

. Stand by Me Doraemon
(STAND BY ME ドラえもん)
(2014)
Quality:
BRRip
Released 18 December 2014
(Indonesia)
Country Japan
Language Japanese
Genre Animation | Comedy |
Family
Directors Ryuichi Yagi , Takashi
Yamazaki
Writers
Fujio F. Fujiko (manga),
Takashi Yamazaki
(screenplay)
Starcast
Satoshi Tsumabuki |
See full cast and crew
»
Rating
7.7/10
Ratings: 7.7/10 from
547 users
Reviews: 1 user | 11
critic
Review:
`Stand By Me Doraemon` yang menjadi film CG 3D
pertama Doraemon, memiliki nuansa yang jauh lebih
mengharukan ketimbang serial televisi maupun film-film
animasi Doraemon sebelumnya .Akan tetapi, film animasi
2D terbaru Doraemon ternyata masih tayang tahun
depan. Sehingga, film ini bisa dikatakan hanya sebagai
"kisah terakhir dari pertemuan antara Doraemon dan
Nobita demi sebuah masa depan yang bahagia". Menurut
ulasan dari Eiga.com, film ini menyuguhkan berbagai
adegan yang diambil dari episode-episode serial televisi
anime Doraemon.
Hasil arahan sutradara Takashi Yamazaki dan Ryuichi
Yagi ini, dibilang memiliki keindahan luar biasa dalam
memamaparkan tampilan grafis komputer. Salah satu
keindahan yang disajikan secara apik di film ini adalah
adegan Doraemon, Nobita, Shizuka, Gian, dan Suneo
sedang berada di atas langit serta ketika mereka
menggunakan Baling-baling Bambu (Take-copter) untuk
bepergian.
Penampilan Doraemon dalam bentuk CG pun disajikan
sedemikian rupa hingga penonton bisa merasakan
kehadiran sang robot kucing secara nyata. Ditambah
lagi, film ini menampilkan adegan yang mengingatkan
pada serial televisi hingga membuat penonton dewasa
serasa bernostalgia. Kehangatan hati dalam cerita yang
pernah dituangkan oleh Fujiko Fujio pun terasa sangat
kental.
Film ini dimulai dengan kedatangan Doraemon dan buyut
Nobita, Sewashi, yang berasal dari abad 22, demi
mengubah masa depan Nobita yang dipenuhi dengan
masalah, salah satunya adalah pernikahan Nobita
dengan Jaiko (adik Gian). Untuk itu, Sewashi memaksa
Doraemon untuk membantu Nobita, dengan menyetel alat
yang mencegah Doraemon kembali ke masa depan,
sebelum memenuhi persyaratannya, yaitu membuat
Nobita bahagia.
Akan tetapi, pada saat Nobita telah menjadi bahagia,
apabila Doraemon ingin tinggal di jaman itu, dia tetap
akan dipaksa untuk kembali ke masa depan. Doraemon
akhirnya tinggal di rumah Nobita, dan mulai membantu
Nobita dengan berbagai macam alat-alat dari kantong
ajaibnya, sampai akhirnya Nobita merasa bahagia.
Tetapi, setelah Nobita bahagia, apakah Doraemon, yang
telah menemani Nobita setiap harinya, bisa
meninggalkan Nobita?
Cerita di film ini sendiri, merupakan bagian-bagian dari
cerita versi manga, yang dikemas ulang dan disesuaikan
di beberapa tempat, sehingga menjadi satu kesatuan
yang bisa dipastikan akan membuat para penonton
terharu pada saat menontonnya. Inti dari film Doraemon
kali ini adalah tentang persahabatan antara Doraemon
yang senantiasa menolong Nobita, yang bodoh, lemah,
cengeng, penakut dan tidak memiliki satupun
keunggulan, terutama apabila dibandingkan dengan
Dekisugi, tetapi pada akhirnya Nobita yang seperti itupun
mampu berusaha dengan kemampuannya sendiri, untuk
meraih kebahagiaannya.
Nobita mengajarkan pada kita, seperti apapun diri kita,
sejelek apapun diri kita, asalkan ada kemauan dan tekad,
semuanya bisa dicapai. Terutama, pada saat ia tidak
ingin membuat Doraemon yang akan pulang ke masa
depan khawatir akan dirinya, ia sampai nekat menantang
Gian untuk berkelahi, meski dari awal ia mengetahui
bahwa ia akan sulit menang, tetapi pada akhirnya ia
berhasil membuat Gian menyerah.
Download Film Stand by Me Doraemon (2014) BluRay
Indonesia & English Hardsub MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 34 Menit - 16 Detik
Size: 270 mb
SS:
Download Single Link:
Click here...

UC: https://userscloud.com/r1kdh5e3u5tn

TF: http://www.tusfiles.net/17a68y9d81cd

SB: http://adf.ly/vOZ1J

Kamis, 27 November 2014

Naruto Shippuden Episode 388 Subtitle Indonesia

Judul: Teman Pertamaku!
Sinopsis: Eps 388 ini bercerita tentang Gaara
yang meminta bantuan dari Shukaku untuk
membantunya menyegel Madara.

LINK DOWNLOAD

Selasa, 25 November 2014

The Maze Runner (2014) Quality: DVDRip

. The Maze Runner
(2014)
Quality: DVDRip & HDCAM
Released 19 September 2014
(USA)
Country USA | Canada | UK
Language English
Genre Action | Mystery | Sci Fi
| Thriller
Director Wes Ball
Writers
Noah Oppenheim
(screenplay), Grant
Pierce Myers
(screenplay), 2 more
credits »
Starcast
Dylan O'Brien , Kaya
Scodelario, Will Poulter
| See full cast and crew
»
Rating
7.3/10
Ratings: 7.3/10 from
64,266 users
Metascore: 56/100
Reviews: 232 user | 216
critic | 34 from
Metacritic.com
Review:
Sesungguhnya banyak alasan mengapa film
young-adult dengan tema dystopia terbaru ini
tampak meragukan, berasal dari sektor
pendanaan yang ia miliki, jadwal rilis yang
seolah menghindar dari hingar bingar
summertime dan akhir tahun yang selalu
menjadi sasaran lezat meraup keuntungan,
begitupula dengan hype yang dapat dikatakan
hanya besar dikalangan mereka yang telah
membaca novelnya. Tapi dibalik berbagai hal
pesimistis tadi film ini mampu untuk tidak
menjadi kemasan sci-fi post-apocalyptic
terbaru yang membuat penonton mulai jenuh
dengan sub-genre tersebut. The Maze Runner, a
not bad introduction.
Pria muda bernama Thomas (Dylan O'Brien)
langsung dihantui rasa bingung ketika ia
mendapati dirinya telah berada disebuah
tempat misterius, sebuah perkampungan kecil
yang berada tepat ditengah labirin berukuran
raksasa yang mengelilinginya. Thomas bahkan
pada awalnya tidak mengetahui namanya
sendiri, hal yang juga pernah dialami oleh
puluhan anak laki-laki lain yang menyebut diri
mereka the Gladers, mereka yang telah terlebih
dahulu terdampar disana dengan cara yang
sama, melalui sebuah elevator yang mereka
sebut The Box, kemudian bangun, lupa ingatan,
dan bingung.
Para penghuni terdahulu terus melakukan
metode yang sama untuk mencari jalan keluar,
di bawah pimpinan Alby (Aml Ameen) mereka
mengirimkan sekelompok pelari yang
dikomandoi oleh Minho (Ki Hong Lee) untuk
masuk kedalam labirin yang berubah bentuk
secara periodik itu di pagi hari dan kemudian
pulang menjelang malam hari.
Formula yang terus menjebak itu ternyata tidak
berhasil menangkap Thomas, yang kemudian
membawa perubahan bagi mereka yang
menghasilkan masalah lain yang ikut
melibatkan dua sosok penting lainnya, Newt
(Thomas Sangster Brodie) dan Gally (Will
Poulter).
Ketika anda tahu bahwa sebuah film punya
materi yang mumpuni untuk mempermainkan
rasa penasaran dan membawa anda kedalam
petualangan penuh kompleksitas tingkat tinggi,
tapi ternyata yang kemudian hadir dihadapan
anda adalah kombinasi tadi dalam kualitas satu
grade dibawah ekspektasi, menjadikan ia tidak
terasa sebagai sesuatu yang berbeda, satu kata
yang tepat untuk mewakili situasi tersebut
adalah mengecewakan. Mungkin sederhananya
begitu apa yang saya tangkap dari pernyataan
seorang rekan yang merupakan reader dari
novel karya James Dashner yang menjadi basis
kisah yang ditulis ulang Noah Oppenheim,
Grant Pierce Myers, dan T.S. Nowlin ini.
Lantas bagaimana dengan mereka yang bukan
reader? Jawabannya adalah tentu saja berbeda.
Bukan berarti mengatakan jika anda penonton
yang belum membaca novelnya anda akan
dengan mudahnya menyukai petualangan
sempit ini, tapi hanya dengan mengandalkan
premis sangat menarik yang ia miliki (meskipun
akan mulai terasa standard dengan populernya
konflik serupa sekarang ini), apa yang Wes Ball
tampilkan selama hampir dua jam itu mampu
memberikan sebuah petualangan dangkal yang
tidak membosankan.
Ya, sedikit bingung juga sebenarnya dimana
ketika melangkah keluar tidak ada perasaan
jengkel seperti yang eksis di beberapa film
young-adult serupa yang hadir belakangan ini,
ada petualangan cekatan yang cukup
menyenangkan. Ya, kalimat terakhir tadi itu
mungkin bisa mewakili apa yang diberikan oleh
The Maze Runner, hiburan standard yang
cekatan. Ada daya tarik yang konsisten disini
yang mampu menahan penonton untuk tidak
pergi menjauh, kumpulan berbagai pertanyaan
yang kehadirannya seperti menjadi pewarna
yang sengaja ditempatkan di panggung utama,
untuk kemudian menutupi berbagai minus yang
mayoritas berasal dari miskinnya pesona yang
ia punya.
Upaya untuk bertahan hidup terus ditekan
disini, misteri yang jika dicermati sebenarnya
tidak terbangun dengan baik itu anehnya tetap
mampu mencuri atensi, mondar-mandir dalam
gerak cepat yang mungkin akan mengingatkan
anda dengan beberapa games di gadget yang
telah populer, menebar ketegangan yang tidak
begitu buruk untuk menemani karakter yang
seperti di set untuk selalu tampak bingung dan
takut. Standard memang, seperti daur ulang
dengan berbagai sentuhan kecil dari pattern
sci-fi dystopia yang uniknya menolak untuk
mempermainkan penontonnya dengan kisah
romansa.
Ya, keputusan yang terbilang efektif memang,
karena hingga akhir yang bermain di pikiran
kita adalah labirin, jalan keluar, dan kebebasan
yang menjadi impian dari karakter yang disini
tidak dapat dipungkiri terasa charmless, terasa
datar tanpa sebuah pertumbuhan yang
mumpuni, terkesan hanya ditempel didalam
cerita tanpa dipersenjatai dengan kompleksitas
yang mumpuni dalam menghadapi konflik yang
ada didepan mereka.
Alur cerita juga banyak terbantu oleh thrill dari
visual, bahaya dari kematian dan misteri
perlahan terasa mengalami degradasi energi
semakin jauh kita berjalan bersama mereka.
Sebut saja ini sebagai kemasan uji coba dari
Fox yang mungkin sedang mencari pengganti di
sektor ini dengan Percy Jackson yang masih
belum jelas masa depannya itu, budget yang
terbilang kecil, dan seperti yang dibahas diawal
tadi ia tidak ditempatkan di time slot yang
mumpuni.
Mudah untuk menilai The Maze Runner hal tadi
karena film ini seperti hanya ingin menggoda
penontonnya, karena tidak ada rasa percaya
diri yang kuat dari Fox pada film ini, upaya
yang terlihat memang terlihat setengah hati,
seperti hanya ingin agar kita berkenalan dengan
karakter dan pondasi masalah yang mereka
punya, dan kemudian menantikan film
keduanya. Tidak heran divisi akting tidak punya
performa yang standout, mereka hanya
ditemani dengan kebingungan serta teror yang
mayoritas datang dari scoring, dan juga visual
yang telah menjadi keahlian Wes Ball.
Overall, The Maze Runner adalah film yang
cukup memuaskan. Sebuah kemasan uji coba
yang kurang rapi yang hanya berniat mencoba
menggoda penontonnya dengan petualangan
standard dan cekatan, yang uniknya terasa
cukup menyenangkan, sebuah perkenalan pada
perjuangan bertahan hidup berisikan rasa takut
dan bingung dari karakter yang memang tidak
ingin terlihat megah dan hanya ingin menjauh
dari segala kegagalan skala besar pada masalah
umum yang identik dengan tema yang ia bawa.
Standard, tapi cukup menyenangkan. Apakah
anda tergoda untuk film kedua?
Sumber
Download Film The Maze Runner (2014) DVDRip
Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 53 Menit - 29 Detik
Size: 289 mb
SS:
Download Single Link:
Click here...
UC: LINK1

TF: LINK2

SB: LINK3

Sub indo

Kamis, 20 November 2014

Naruto Shippuden Episode 387 Subtitle IndonesiaNovember 20

. Naruto Shippuden Episode 387 Subtitle IndonesiaNovember 20, 2014|samehadakuHomeNaruto ShippudenNaruto Shippuden Episode 387Subtitle Indonesia[A-]|[A+]Naruto Shippuden Episode 387 Subtitle IndonesiaDownload Naruto Shippuden 387 Subtitle IndonesiaNaruto Shippuden Episode 387 Subtitle Indonesiaini Berjudul: Menepati Janji. Bercerita tentang Obito yang berhasil dikeluarkan dariJuubi oleh Naruto dan kembalinya Kakashi.

SHAREBEAST

Minggu, 16 November 2014

Guardians of the Galaxy (2014) Quality: BRRip

. Guardians of the
Galaxy
(2014)
Quality: BRRip
Released 1 August 2014 (USA)
Country USA | UK
Language English
Genre Action | Adventure |
Sci Fi | Fantasy
Director James Gunn
Writers
James Gunn, Nicole
Perlman , 2 more
credits »
Starcast
Chris Pratt , Vin Diesel ,
Bradley Cooper | See
full cast and crew »
Rating
8.5/10
Ratings: 8.5/10 from
248,428 users
Metascore: 76/100
Reviews: 754 user |
480 critic | 46 from
Metacritic.com
Review:
Saat pertama kali Marvel mengumumkan
akan hadirnya Guardians of the Galaxy
mungkin yang terlintas di pikiran adalah
pertanyaan “untuk apa?” Mereka sudah punya
The Avengers, empat diantara anggota tim itu
bahkan sudah punya film mandiri masing-
masing. Mungkin terasa pesimis pada film ini
dengan penilaian ini hanya upaya Marvel untuk
meraih keuntungan semata, tapi kalau kamu
punya pemikiran yang sama segera buang jauh-
jauh hal itu, karena dengan konsep yang jauh
lebih ringan Guardians of the Galaxy berhasil
menjadi film terbaik Marvel setelah The
Avengers , bahkan nearly side by side.
Peter Quill (Chris Pratt), pria dengan panggilan
Star-Lord yang dibesarkan oleh kelompok
pencuri bernama The Ravagers sejak ia masih
kecil harus masuk kedalam sebuah masalah.
Sebuah bola bernama Orb yang ia curi ternyata
menjadi incaran Ronan (Lee Pace), anggota
Kree yang hendak menghancur musuh-
musuhnya. Hal itu yang memaksa Quill untuk
bergabung bersama dengan Gamora (Zoe
Saldana), Dax (David Bautista), Rocket (Bradley
Cooper), dan Groot (Vin Diesel), membentuk
sebuah tim aneh untuk berusaha menggagalkan
usaha Ronan.
Kalau anda mengikuti Marvel Cinematic
Universe beberapa diantara mereka tampak
mulai di set untuk sedikit merubah gaya
mereka menjadi sedikit lebih serius dalam
bercerita meskipun tidak begitu ekstrim. Hal
itu yang menjadikan cerita yang ditulis oleh
James Gunn dan Nicole Perlman ini terasa
menyenangkan, karena Guardians of the Galaxy
seperti ingin menjadi film superhero yang
murni ingin agar kehadiran mereka sebagai
tempat bersenang-senang, tentu saja tetap
dengan mengemban tugas sebagai sumber
waralaba serta membuka potensi untuk
semakin memperluas Marvel Cinematic
Universe sendiri.
Pola yang dipakai sama, beberapa bahkan
hafalan, tapi Marvel kembali berhasil
memberikan pukulan kepada mereka yang telah
pesimis sejak awal. Benar, termasuk saya
pastinya, dan ketika ekspektasi kamu tidak
begitu tinggi rasa puas yang kamu dapatkan
akan menjadi sebuah kejutan yang tak
terlupakan. Guardians of the Galaxy masuk
kedalam kategori itu, sinopsis berisikan orang
buangan, tanaman, hewan, bersatu untuk
berjalan dalam pola yang klasik, melarikan diri,
kemudian mencari target, dan dibumbui
dengan sedikit hal personal, bukan hanya
tampak tapi memang ceritanya itu sendiri
terasa standard bahkan mungkin akan terasa
murahan, tapi keputusan untuk tidak
menjadikan ini terlalu serius berhasil
menghapus kemampuan hal tadi untuk
mengganggu penontonnya bersenang-senang.
Tapi tunggu dulu, itu memang telah di set oleh
Marvel, menjadi menyenangkan tanpa harus
tampil terlalu serius. Ya, sangat mudah untuk
menilai bahwa Guardians of the Galaxy tidak
memberikan petualangan yang terlalu serius,
plot murahan dan sedikit kurang konsisten,
karakter yang tidak begitu kuat ketika berdiri
sendiri dan seolah murni mengandalkan ciri
khas yang mereka punya untuk menarik
perhatian, beberapa karakter dan tujuan
bahkan terasa terbuang akibat kesan terburu-
buru yang hadir.
Tapi Guardians of the Galaxy punya nyawa,
punya pesona yang mereka bentuk dari
chemistry antar karakter, tik-tok yang mereka
punya baik, dialog berisikan banyak humor juga
mayoritas mampu bekerja, memang akan
terkesan dangkal tapi Guardians of the Galaxy
berhasil membuktikan bahwa sebuah film
superhero bisa menjadi hiburan yang
menyenangkan hanya dengan mengandalkan
keunikan yang mereka punya.
Para aktor juga layak mendapatkan kredit.
Chris Pratt yang menjadi pemimpin sangat
berhasil tampil seimbang, bisa lucu dengan hal-
hal sarkasme, tapi juga mampu menciptakan
kesan tangguh dari karakternya. Tim antagonis
seperti Lee Pace dan Karen Gillan juga tidak
begitu buruk, bisa memberikan tekanan dari
sisi lain pada cerita. Yang menarik disini adalah
pengisi suara, Vin Diesel yang monoton tapi
menjadikan momen karakternya termanfaatkan
dengan baik, serta Bradley Cooper dengan
suaranya yang terasa sangat hidup terutama
pada momen humor.
Guardians of the Galaxy dalam sebuah kalimat,
sangat menyenangkan. Chemistry dari ensemble
cast yang berkembang dengan baik berhasil
menutup nilai minus yang dimiliki aksi mondar-
mandir cerita yang sesungguhnya tidak begitu
buruk, ditemani dengan beberapa
pemandangan dan sinematografi berkat kinerja
CGI yang oke, keseimbangan sisi roman, drama,
dan komedi dengan humor-humor miliknya
yang lezat, terima kasih layak diberikan kepada
Marvel karena sikap mereka untuk tidak
menerapkan aturan yang begitu ketat pada
kemasan ini kita dapat memperoleh
petualangan luar angkasa yang seru, lucu, dan
sangat menyenangkan.
Sumber ,
Download Film Guardians of the Galaxy (2014)
BluRay Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 2 Jam - 00 Menit - 51 Detik
Size: 309 mb
SS:
Download Single Link:
Click here...

LINK 1

LINK 2

LINK 3        SUB INDO

Sabtu, 15 November 2014

Kung Fu Jungle (Yat ku chan dik mou lam) (2014) Quality: HDTC

. Kung Fu Jungle
(Yat ku chan dik mou
lam)
(2014)
Quality: HDTC
Released 30 October 2014 (Hong
Kong)
Country China | Hong Korng
Language Cantonese | Mandarin
Genre Action | Thriller
Director Teddy Chan
Writer Teddy Chan , Ho Leung
Lau, 1 more credit »
Starcast
Donnie Yen, Charlie
Yeung, Baoqiang Wang
| See full cast and
crew »
Rating
7.4/10
Ratings: 7.4/10 from
155 users
Reviews: 3 user | 11
critic
Review:
Dalam pagelaran London Film Festival yang
ke 58 beberapa waktu lalu, film asal Hongkong
berjudul Kung Fu Jungle mendapat kesempatan
untuk tayang secara perdana. Film besutan
sutradara Teddy Chen yang dibintangi oleh
aktor kenamaan Hongkong, Donnie Yen dan
Michelle Bai ini ternyata banyak menarik
perhatian para penonton yang hadir.
Bagi Donni Yen sendiri, yang sudah banyak
malang melintang di dunia film action dan
Kung Fu, alasannya mau terlibat dalam Kung Fu
Jungle adalah film ini menawarkan cerita yang
berbeda dari film Kung Fu pada umumnya.
Dalam film ini Donnie Yen pun tak hanya
menjadi aktor utama, tetapi juga penata laga.
Secara garis besar, Kung Fu Jungle bercerita
tentang seorang mantan instruktur seni bela
diri, Hahou (Donnie Yen) yang dipenjara setelah
tidak sengaja membunuh lawannya. Ketika
muncul sosok seorang pembunuh lain bernama
Fung (Wang Baoqiang) yang mulai menargetkan
para master kung fu, Hahou menawarkan
jasanya untuk membantu polisi menangkap
Hung dengan imbalan kebebasannya.
Mengetahui hal itu, Hung kemudian
mengancam kekasih Hahou yang diperankan
oleh Michelle Bai.
Download Kung Fu Jungle (2010) HDTC Subtitle
Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 40 Menit - 11 Detik
Size: 241 mb
SS:
Download Single Link:
Click here...

TUSFILES

SHAREBEAST

SUB INDO

Minggu, 09 November 2014

Ketika Tuhan Jatuh Cinta (2014) Quality: DVDRip

, Ketika Tuhan Jatuh
Cinta
(2014)
Quality: DVDRip
Released 05 Juni 2014
Country Indonesia
Language Indonesian
Genre Drama
Director Fransiska Fiorella
Writers Daniel Titto , Wahyu
Sujani
Starcast
Reza Rahadian, Aulia
Sarah, Renata
Kusmanto , Enzy Storia ,
Ibnu Jamil
Rating n/a
Review:
Tuhan menciptakan segala sesuatu selalu
berpasang-pasangan; ada suka-duka, ada sedih-
gembira. Tapi kadang kalau mengalami
kesedihan, kita selalu mengeluh dan
menyalahkan Tuhan. Padahal, sebenarnya di
saat kesedihan itulah Tuhan menunjukkan
cintaNya pada kita. Demikian yang tersirat dari
film ‘Ketika Tuhan Jatuh Cinta’.
Film ini dibuka dengan pemandangan laut biru
yang terbentang. Indra penglihatan penonton
langsung dimanjakan keelokannya. Tapi begitu
tampak bebatuan yang bertebaran di pantainya
seperti film ini ingin menuturan cerita suka-
duka di dalamnya. Kemudian, berganti dengan
pemandangan kolam tambak ikan yang
ditepinya terdapat sebuah gubuk dimana
penghuninya jadi tokoh-tokoh cerita film ini.
Kisahnya tentang Ahmad Hizalul Fikri (Reza
Rahadian), seorang lelaki yang dibesarkan oleh
keluarga sederhana, tumbuh menjadi sosok
yang saleh dan mandiri. Fikri memiliki
keinginan untuk meneruskan kuliah. Sayangnya,
keinginan itu ditentang oleh Abah Qasim
(Joshua Padelaki), ayahnya, bahkan Umi
Fatimah (Dewi Irawan), ibunya, yang sehari-
hari berjualan ikan asin tidak mampu
membiayainya. Ditengah kegamangan tersebut,
Fikri mulai melukis dengan pasir dan akhirnya
memutuskan pergi ke Bandung untuk menjual
lukisannya tersebut.
Di Bandung, Fikri bertemu dengan Koh Achong
(Didi Petet),seorang pemilik gallery yang
memiliki anak perempuan bernama Lidya
(Renata Kusmanto). Ketekunan dan kerja keras
membuat Fikri sukses sebagai pelukis dan juga
berhasil mewujudkan mimpinya, yaitu kuliah.
Di tempat kuliah, Fikri menjadi idaman banyak
perempuan kampus. Tapi, hanya ada satu gadis
yang membekas di hati Fikri: Leni (Aulia Sarah).
Sebenarnya Leni menyukai Fikri, namun
selayaknya gadis muslimah yang terjaga
perilakunya, ia hanya menyimpan rapi
perasaannya pada Fikri. Bahkan Irul (Ibnu
Jamil), sahabat Fikri yang tampan, kaya dan
terkenal playboy di kampus pun ditolak Leni.
Setelah wisuda dan harus berpisah jauh,
barulah perasaan cinta Leni dan Fikri saling
terungkap. Namun, ketika keduanya
mempersiapkan rencana pinangan, Leni dan
Fikri harus menerima kenyataan bahwa Leni
akan dijodohkan dengan lelaki lain.
Fikri dengan tulus mengingatkan Leni agar
patuh pada orang tuanya. Sementara itu Irul
jatuh hati pada Lidya dan mulai berpacaran
dengan Lidya. Lidya hamil dan Irul ternyata lari
dari tanggung jawab. Tentu saja Fikri geram dan
terus mengingatkan sahabatnya dan juga
menguatkan Lidya.
Cobaan lagi: Humaira (Tamara Tyasmara) adik
Fikri yang patah hati, menjadi pribadi yang
pemberontak. Dari sosok gadis lembut dan
sangat solihah ia menjadi gadis “badung” dan
bebas. Bahkan melepas jilbab dan kerja di
hotel. Fikri berusaha menyadarkan Humaira.
Ujian kembali datang ketika ayah ibu Fikri
meninggal dunia. Ternyata Leni tidak bahagia
dengan pernikahannya. Lidya yang sangat
mengagumi Fikri semakin putus asa. Kemudian
Shira (Enzy Storia) hadir. Semula Shira ini
hendak dijodohkan dengan Irul, namun
perjodohan itu gagal.
Pada suatu pertemuan Fikri diam-diam jatuh
hati pada Shira. Fikri menyadari dirinya yang
tak sebanding dengan keluarga Shira yang
berkecukupan. Ternyata diam-diam Shira
memendam cinta pada Fikri.
Film ini sangat inspiratif. Sutradara Fransiska
Fiorella yang sebelumnya menggarap film-film
horor dengan nama Chiska Doppert, kini mulai
menunjukkan kecemerlangan dalam menggarap
sebuah film. Dari film-film hantu berubah jadi
film Tuhan alias film religi. Perubahan yang
tentu harus mendapat sambutan hangat. Dalam
film ini, ia berhasil menyajikan film drama
religi yang begitu menyentuh.
Akting para pemain bisa dibilang rata-rata
cemerlang. Terlebih, Reza Rahadian yang
mampu membawakan peran tokoh utama Fikri
dengan begitu baik. Aktor Terbaik FFI 2013 itu
kembali menunjukkan akting terbaiknya. Reza
tampak begitu sangat menjiwai dan melebur
dengan karakter Fitri. Reza juga mampu
menjalin chemistry dengan tiga aktris lawan
mainnya; Renata Kusmanto, Aulia Sarah, dan
Enzy Storia. Begitu juga dengan tiga lawan
mainnya itu mampu mengimbangi aktingnya
yang menawan. Adapun Ibnu Jamil dalam film
ini juga tak kalah aktingnya mampu
membawakan peran antagonis dengan baik.
Juga para pemeran pendukung, seperti Didi
Petet, Dewi Irawan, Joshua Pandelaki, Roy
Karyadi, Tamara Tyasmara, membuat film ini
semakin kuat.
Film produksi Studio Sembilan dan Leica
Production yang diangkat dari novel berjudul
sama karya Wahyu Sujani ini mampu
menghantar kita pada kisah cinta dan
ketegaran pelukis pasir. Cerita film ini yang
skenarionya digarap Daniel Tito ini begitu
romantis nan puitis. Ada istilah kalau orang
jatuh cinta menjadi penyair yang mengobral
rayuan gombal dengan kata-kata sanjungan dan
pujian kepada kekasihnya. Lalu bagaimana kalau
Tuhan jatuh cinta tentu lebih dari itu. Alam
semesta menjadi puisi dengan kisah romantis
nan puitis.
Download Film Ketika Tuhan Jatuh Cinta (2014)
DVDRip MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 37 Menit - 58 Detik
Size: 222 mb
SS:
Download Single Link:
Click here...

TUSFILES

SHAREBEAST

Sabtu, 08 November 2014

hantu pohon boneka 2014 Quality: DVDRip

. Quality: DVDRip
Released 07 Agustus 2014
Country Indonesia
Language Indonesian
Genre Horror
Director Nayato Fio Nuala
Writer Baskoro Adi
Starcast
Nana Mirdad, Ayu Dyah
Pasha, Stuart Collin,
Icha Anisa, Reska Tania
Rating n/a
Sinopsis:
Sepeninggal ayahnya, Lisa, mahasiswi, pindah
ke rumah baru bersama ibunya Wida, kakaknya
Vino, musisi cuek, dan adiknya Vivi. Lala,
sahabat Lisa, sering tinggal di situ, karena Lisa
butuh teman. Dalam perjalanan ke rumah baru,
mereka melewati Pohon Boneka, sebuah pohon
misterius yang digantungi banyak boneka. Saat
melewati pohon tersebut, tanpa sengaja mereka
melanggar pamali. Beruntung mereka selamat
sampai di rumah baru mereka yang jauh dari
keramaian dan tidak ada tetangga.
Menjadi orang tua tunggal membuat Wida
semakin gila kerja. Lisa juga semakin sibuk
menyelesaikan skripsi. Sementara Vino sok
sibuk dengan kegiatan bermusiknya. Keadaan
ini membuat Vivi menjadi kesepian. Lama-lama
Vivi terbiasa karena memiliki ‘teman baru’. Lisa
sekeluarga berusaha menyadarkan Vivi dari
teman barunya ini, yang ternyata adalah hantu
penunggu Pohon Boneka.
Semakin keras mereka berusaha melepaskan
Vivi, semakin besar gangguan yang dihadapi di
rumah. Gangguan yang semula kecil, semakin
mengancam keselamatan penghuni rumah.
Puncak dari gangguan itu adalah Vivi dibawa
menghilang oleh hantu penunggu Pohon
Boneka. Dibantu oleh Lala yang memiliki indera
keenam, mereka melawan balik utnuk
menyelamatkan Vivi.
Download Film Hantu Pohon Boneka (2014)
DVDRip MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 08 Menit - 43 Detik
Size: 173 mb
SS:
Download Single Link:
Click ...

TUSFILES

SHAREBEAST

Dracula Untold (2014) Quality: HDRip

. Dracula Untold
(2014)
Quality: HDRip
Released 10 October 2014 (USA)
Country USA
Language English
Genre Action | Drama |
Fantasy | Horror
Director Gary Shore
Writers
Matt Sazama, Burk
Sharpless, 1 more
credit »
Starcast
Luke Evans, Dominic
Cooper, Sarah Gadon |
See full cast and crew »
Rating
6.2/10
Ratings: 6,2/10 from
32.693 users
Metascore: 40/100
Reviews: 201 user |
173 critic | 30 from
Metacritic.com
Review:
Film yang merupakan gabungan dari dark
fantasy, action, dan juga horor ini mungkin
akan kurang mampu menghasilkan impresi
positif pada calon penonton yang sudah
kenyang mengkonsumsi film tipikal seperti ini,
bahkan dari poster yang ia berikan, tapi dibalik
itu ada ambisi dan beban besar pada film
dengan budget besar ini. Dracula Untold
dicanangkan menjadi pembuka dari rencana
reboot Universal Monsters franchises yang
katanya hendak mencoba menerapkan
Avengers-style di dalamnya. Sayangnya ambisi
yang menarik itu tidak berjalan lurus dengan
hasil yang diberikan film ini.
Kehidupan Vlad III Țepeș (Luke Evans) yang
damai berubah setelah Sultan Mehmed II
(Dominic Cooper) menebar ancaman
kepadanya, menginginkan 1000 anak laki-laki
untuk bergabung menjadi tentaranya, termasuk
didalamnya anak Vlad, Ingeras (Art Parkinson).
Untuk menyelamatkan orang-orang yang ia
kasihi, termasuk sang istri Mirena (Sarah
Gadon), Vlad pergi ke Broken Tooth Mountain
untuk bertemu dengan setan Romawi bernama
Caligula (Charles Dance). Kesepakatan mereka
buat untuk menyelematkan kerajaan, namun
resiko yang dihasilkan dari kesepakatan itu juga
tidak kalah berat.
Cerita yang ditulis oleh Matt Sazama dan Burk
Sharpless sepertinya memang sengaja di set
untuk bermain aman di zona netral, meskipun
memang kita tetap diberikan sajian dunia
kegelapan yang kita harapkan sejak awal, tapi
kualitas mereka terasa kurang kuat. Di bawah
arahan Gary Shore film ini tampak terus
berupaya keras untuk mudah dinikmati, apa
yang ia berikan tampak ambigu yang seperti
disengaja untuk meraih atensi penonton yang
telah klik dengan film-film superhero sekarang
ini. Iya, meskipun ia merupakan sosok
kegelapan tapi ada nafas komik yang kental
disini, dan itu coba di blend dengan unsur
gothic yang tetap dominan.
Sebuah ambisi yang besar, bukan? Tapi
sayangnya karena ambisi itu juga film ini terasa
loyo, terasa kurang semangat, minim energi.
Ini ibarat singa yang ompong, upaya campur
aduk berbagai warna dari superhero hingga
Game of Thrones yang tidak mampu dibentuk
dengan tajam, tidak punya taji.
Dari gambar dengan efek visual yang
menjemukan, fantasi yang tidak imajinatif dan
terkesan berantakan, tidak ada ketakutan pada
konflik, tidak ada ketegangan, tidak ada sensasi
dan juga gairah dari cerita dan karakter, dari
sisi substansi ia miskin, dari sisi style ia juga
sama miskinnya, kekacauan yang keruh dengan
kelelawar disana-sini, mencoba menakut-nakuti
tapi seperti tidak pernah bosan untuk kembali
sejenak kedalam romansa klise yang sama
tumpulnya itu. Ini yang terasa aneh, mereka
punya ambisi untuk membangun universe milik
mereka tapi mereka seperti kebingungan
bagaimana cara menjual jualan mereka.
Gary Shore gagal menarik rasa penasaran
penonton, bukan hanya pada kisah di film ini
tapi juga pada Universal Monsters itu secara
keseluruhan. Ia tidak berani memisahkan hitam
dan putih disini, baik dan jahat, semua ia
biarkan ambigu seolah-olah cara itu akan
membuat penonton merasa tertarik lebih
dalam.
Tidak mengharapkan sesuatu yang benar-benar
megah memang, dan mendapati fakta ia masih
lebih baik dari I, Frankenstein sebenarnya juga
cukup melegakan, tapi ini bisa tampil lebih baik
lagi mengingat Luke Evans tidak tampil begitu
buruk, bukan hanya perputaran cerita yang
membosankan selama satu jam untuk sebuah
pertempuran cukup menarik di bagian akhir.
Seandainya ini tampil lebih berani, bukannya
justru terjebak di antara kesan komik dan
gothic, kemudian memberikan fokus yang
sedikit lebih besar pada karakter untuk
menutupi dialog-dialog yang tidak memikat itu,
Dracula Untold mungkin bisa menjadi sebuah
guilty pleasure, bukan sebuah petualangan
dengan ambiguitas tingkat tinggi yang diwarnai
dengan hal-hal konyol seperti adegan aksi
rumit yang berantakan sampai cerita yang
disampaikan seperti seorang yang sedang
mengantuk, tidak segar dan kekurangan
semangat. Unengaging.
Sumber
Download Film Dracula Untold (2014) HDRip
Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 31 Menit - 31 Detik
Size: 222 mb
SS:
Download Single Link:
Click here...

TUSFILES

SHAREBEAST

SUB INDO

Kamis, 06 November 2014

The Pirates (해적: 바다로 간 산적 / Haejeok: Badaro Gan Sanjeok / Pirates: Bandits Going to the Sea") (2014) Quality: HDRip

. The Pirates
(해적: 바다로 간 산적 /
Haejeok: Badaro Gan
Sanjeok / Pirates:
Bandits Going to the
Sea")
(2014)
Quality: HDRip
Released 6 August 2014 (South
Korea)
Country South Korean
Language Korean
Genre Action | Adventure |
History
Director Seok-hoon Lee
Writer Seong-il Cheon
Starcast
Nam-gil Kim, Ye-jin
Son, Hae-jin Yoo | See
full cast and crew »
Rating
6.5/10
Ratings: 6,5/10 from
125 users
Reviews: write review |
5 critic
Sinopsis:
Berlatar belakang Dinasti Joseon, "Pirates"
akan mengisahkan grup bajak laut yang
dipimpin oleh seorang perempuan. Sekelompok
pria menjadi sebuah grup bandit dan selalu
berbeda pendapat dengan grup bajak laut.
Mereka dipertemukan dalam misi memburu
paus yang telah menelan cap sang raja. Dalam
pencariannya mereka dituntut untuk saling
membantu karena mereka mendapatkan
berbagai serangan kelompok lain yang juga
ingin memiliki cap tersebut.
Download Film The Pirates (2014) HDRip
Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 2 Jam - 09 Menit - 48 Detik
Size: 331 mb
SS:
Download Single Link:
Click here...

TUSFILES

ALTERNATIF

SUB INDO

Reclaim (2014) BluRay Subtitle Indonesia MP4 High Quality

. Download Film Reclaim (2014) BluRay Subtitle
Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 36 Menit - 02 Detik
Size: 240 mb
SS:
Download Single Link:
Click here...

TUSFILES

SHAREBEAST

SUB INDO

Naruto Shippuden<br> Episode 385 Subtitle<br> Indonesia

<p> Naruto Shippuden<br>
Episode 385 Subtitle<br>
Indonesia<br>
Download Naruto Shippuden 385<br>
Subtitle Indonesia<br>
Naruto Shippuden Episode 385<br>
Subtitle Indonesia ini Berjudul :<br>
Uchiha Obito. Bercerita tentang Naruto<br>
yang berhadapan dengan Obito.</p>
<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"> <a href="http://lh4.ggpht.com/-ORq_nhBWXzA/VFty7a4bwVI/AAAAAAAAAUI/2wjfefuhz4w/s1600/1483235_754590264578171_2731523284571454543_n.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"> <img border="0" src="http://lh4.ggpht.com/-ORq_nhBWXzA/VFty7a4bwVI/AAAAAAAAAUI/2wjfefuhz4w/s320/1483235_754590264578171_2731523284571454543_n.png"> </a> </div>

SHAREBEAST

Rabu, 05 November 2014

a Comic 8 (2014) Quality: DVDRip

a Comic 8
(2014)
Quality: DVDRip & TVRip
Released 29 January 2014
(Indonesia)
Country Indonesia
Language Indonesian
Genre Comedy
Director Anggy Umbara
Writers n/a
Starcast
Indro Warkop , Teuku
Rizky Muhammad ,
Iqbaal Dhiafakhri
Ramadhan | See full
cast and crew »
Rating
7.6/10
Ratings: 7,6/10 from
274 users
Reviews: 1 user
Review:
Bahkan hanya dengan dua film layar lebar
yang baru diarahkannya, Mama Cake (2012) dan
Coboy Junior The Movie (2013), Anggy Umbara
telah mampu mencuri perhatian para penikmat
film Indonesia – kebanyakan karena
kegemarannya untuk menampilkan visualisasi
dari cerita filmnya dengan warna-warna
benderang maupun tampilan a la komik yang
begitu terkesan eksentrik. Kegemarannya
tersebut kembali ia hadirkan dalam Comic 8,
sebuah film aksi komedi yang menampilkan
penampilan akting dari delapan pelaku stand up
comedy – atau yang lebih akrab dikenal dengan
sebutan komik – yang saat ini tengah meraih
popularitas yang cukup tinggi di Indonesia.
Momen-momen komedi memang mampu
mengalir lancar dalam pilihan ritme penceritaan
cepat yang dipilihkan Anggy untuk film ini.
Namun, naskah yang terasa lemah dalam
eksplorasi ceritanya seringkali membuat Comic
8 banyak menghabiskan durasi filmnya dalam
atmosfer penceritaan yang cenderung datar
daripada tampil benar-benar menghibur
penontonnya.
Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Fajar
Umbara, Comic 8 memulai kisahnya ketika tiga
penjahat amatir, Babe (Babe Cabiita), Bintang
(Bintang Timur) dan Fico (Fico Fachriza), yang
telah merasa lelah dengan kehidupan mereka
yang selalu berjalan sulit kemudian memutuskan
untuk mengubah nasib dengan merampok
sebuah bank guna mendapatkan uang sebanyak
mungkin.
Setelah melakukan beberapa observasi serta
persiapan sederhana, di hari yang telah
ditentukan, ketiganya memasuki bank yang telah
dipilih untuk dijadikan sasaran perampokan
mereka. Sial, beberapa saat sebelum memulai
aksi mereka, bank tersebut justru kemudian
menjadi sasaran perampokan yang dilakukan
oleh tiga orang penjahat yang lebih profesional,
Ernest (Ernest Prakasa), Kemal (Kemal Palevi)
dan Arie (Arie Kriting). Kacau? Tentu saja! Tidak
dapat dihindari, kedua kelompok penjahat
tersebut mulai saling berseteru mengenai siapa
yang lebih berhak melakukan perampokan di
bank tersebut.
Sialnya (lagi), ditengah perseteruan tersebut,
hadir kelompok penjahat lain yang terdiri dari
dua orang berpenampilan absurd, Mongol
(Mongol Stres) dan Mudy (Mudy Taylor), yang
(tentu saja juga) ingin merampok bank tersebut.
Masalah semakin bertambah ketika pihak
kepolisian mulai mencium keberadaan para
penjahat tersebut dan kemudian mengepung
sekeliling wilayah bank agar segera dapat
meringkus mereka.
Tidak ingin tertangkap, kedelapan penjahat yang
berasal dari tiga kelompok berbeda tersebut
memutuskan untuk menyingkirkan seluruh
perbedaan mereka dan mulai saling bekerjasama
dalam menemukan jalan keluar dari bank dan
kepungan polisi.
Comic 8 sebenarnya memiliki potensi
penceritaan aksi maupun komedi yang cukup
kuat. Anggy Umbara dan Fajar Umbara jelas
terlihat telah memiliki visi mengenai apa yang
sebenarnya ingin mereka sajikan dalam film ini.
Sayangnya, keduanya kurang mampu untuk
menyajikan berbagai visi tersebut dalam sebuah
satuan penceritaan yang erat. Keberadaan plot
dan karakter dalam jumlah yang besar kemudian
menimbulkan permasalahan tersendiri ketika
plot dan karakter yang bervariasi tersebut
dihadirkan secara potongan demi potongan
cerita yang membuat aliran emosional cerita
seringkali terasa melelahkan.
Twist yang disajikan di penghujung cerita juga
lebih terasa sebagai usaha yang “licik” dalam
menyembunyikan ketidakmampuan Fajar
Umbara untuk memadukan berbagai plot cerita
yang dihadirkan sebelumnya daripada terasa
sebagai sebuah pilihan yang cerdas dalam
menyajikan jalan ceritanya. Untungnya,
meskipun dengan lemahnya pengelolaan jalan
cerita, Anggy mampu menyajikan Comic 8
dengan ritme penceritaan lugas yang memang
sesuai dengan jalan cerita film ini.
Walaupun masih sering terasa sebagai presentasi
yang style over substance akibat kegemaran
Anggy dalam menyajikan pilihan warna
benderang tanpa pernah benar-benar berguna
bagi peningkatan kualitas penceritaan, tata
produksi film ini hadir dalam kualitas yang
cukup memuaskan, termasuk dari tata special
effect dan tata musik – meskipun jelas terasa
begitu “terinspirasi” dari tata musik arahan Hans
Zimmer di film Sherlock Holmes (2009).
Tidak adil rasanya untuk memberikan penilaian
akting pada jajaran pengisi departemen akting
film ini karena kebanyakan dari mereka tampil
sebagai diri sendiri. Bukan sebuah masalah
karena karakter-karakter yang diciptakan dalam
jalan cerita film ini memang diciptakan untuk
dihidupkan oleh masing-masing pemerannya.
Dukungan penampilan dari Nirina Zubir, Nikita
Mirzani dan Agung Hercules – yang benar-benar
mencuri perhatian, Pandji Pragiwaksono, Agus
Kuncoro dan Kiki Fatmala juga menambah solid
kualitas departemen akting film ini. Comic 8
bukannya hadir tanpa momen-momen
menyenangkan.
Beberapa kali, film ini mampu menyajikan
tampilan komedi yang akan mampu memberikan
hiburan yang cukup kuat bagi para
penontonnya. Namun, lebih dari itu, eksplorasi
cerita yang cukup lemah membuat banyak
guyonan-guyonan tersebut kemudian menjadi
terasa melelahkan dan akhirnya seringkali
menjadi tidak efektif dalam eksekusinya.
Meskipun begitu, kemampuan Anggy Umbara
untuk menyajikan cerita filmnya dalam ritme
penceritaan yang tepat serta kualitas tata
produksi yang mumpuni cukup berhasil untuk
membuat Comic 8 menjadi sebuah film aksi
komedi yang layak untuk direkomendasikan.
Sumber,
Download Film Comic 8 (2014) DVDRip MP4
High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 40 Menit - 20 Detik
Ukuran: 243 mb
SS:
Download Single Link:
Click here...

TUSFILES

SHHAREBEAST

UFFILE

ALTERNATIF

17 Tahun ke Atas (2014) Quality: DVDRip

a 17 Tahun ke Atas
(2014)
Quality: DVDRip
Released 14 Mei 2014
Country Indonesia
Language Indonesian
Genre Drama
Director Nayato Fio Nuala
Writer Haqi Achmad
Starcast
Ajun Perwira, Dahlia
Poland , Sonya Fatmala ,
Aditya Suryo
Rating n/a
Sinopsis:
Bagas (Ajun Perwira) sangat ingin menjadi
musisi. Setelah menginjak usia 17 tahun, Bagas
memutuskan untuk mengejar impian dan
mencari jalan agar bisa menjadi musisi. Bunda
(Ranty Purnamasari) tidak menyetujui keputusan
Bagas. Bunda juga tidak menyetujui hubungan
Bagas dengan Mentari (Sonya Fatmala).
Lima tahun kemudian hidup Bagas berantakan.
Jalan menjadi musisi sangat berliku dan
hubungannya dengan Mentari tidak berjalan
mulus. Hidup Bagas terasa semakin berat karena
Bunda memberi sebutan ‘musisi gagal’ untuknya.
Bunda menilai Bagas gagal menjadi contoh yang
baik untuk Bagus (Aditya Suryo Saputro),
adiknya.
Bagus memiliki masalah sendiri. Bagus dibuang
oleh pacarnya yang memilih Kevin (Rayn
Wijaya). Melihat sahabatnya yang terus
bersedih, Boy (Jordi Onsu) membantu Bagus
mencari cara untuk menyembuhkan luka
hatinya. Pelangi (Dahlia Poland) memberi warna
baru di hidup Bagus dan membawa Bagus ke
petualangan baru.
Sayangnya, kedekatan Bagus dengan Pelangi
ditentang oleh Papi (Roy Marten) yang telah
menjodohkan Pelangi dengan pria lain. Masalah
menjadi semakin rumit ketika Bagus dan Pelangi
kabur dari rumah demi memperjuangkan cinta
mereka.
Download Film 17 Tahun ke Atas (2014) DVDRip
MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 12 Menit - 43 Detik
Size: 172 mb
SS:
Download Single Link:
Click here...

TUSFILES

UFFILE

oo Nina Bobo (2014) Quality: DVDRip

a oo Nina Bobo
(2014)
Quality: DVDRip
Released 20 Maret 2014
Country Indonesia
Language Indonesian
Genre Horror
Director Jose Poernomo
Writer Jose Poernomo
Starcast
Revalina S Temat ,
Firman Ferdiansyah ,
Daniel Topan, Mega
Carefansa
Rating n/a
Sinopsis:
Seorang ibu, bapak, dan anak perempuannya
yang berumur enam tahun ditemukan tak
bernyawa di sebuah rumah. Hanya anak laki-laki
bernama Ryan, yang saat itu berumur tujuh
tahun, selamat. Sejak saat itu Ryan mengalami
Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) dan
dirawat di panti. Kondisi emosinya labil dan
seringkali mengalami mimpi buruk. Perlahan,
Ryan menutup dirinya dan bersikap seakan-akan
lupa terhadap semua peristiwa tersebut.
Lima tahun kemudian hadirlah Karina, psikiater
yang sedang mengambil tesis S2, dan
menjadikan Ryan sebagai obyek penelitiannya.
Sekalipun Ryan dianggap normal dan siap
dikeluarkan dari panti, namun Karina ingin
melakukan eksperimen terakhir. Dia ingin
mengajak Ryan kembali ke rumahnya yang lama.
Karina yang sangat percaya pada teori bahwa
cara paling efektif untuk mengatasi PTSD adalah
mengajak korban ke lokasi aslinya dan dia harus
belajar menghadapi situasi yang bisa memancing
traumanya.
Sekalipun banyak yang mengkhawatirkan
perawatan ini, Karina bersikeras bahwa dia bisa
melakukannya. Jika Ryan tetap bersikap normal,
maka berarti Ryan memang sudah berhasil
menghadapi traumanya. Karina bersikap skeptis
saat diingatkan oleh Bams, sahabatnya, bahwa
berdasarkan pegakuan Ryan di awal-awal
pemeriksaan, ada kemungkinan kerterlibatan
makhluk lain yang berada di rumah tersebut
yang menjadi penyebab kematian.
Di dalam rumah tersebut, pada awalnya Ryan
menunjukkan perilaku yang normal, namun hari
ke hari sikap Ryan berubah. Ia menjadi berjarak,
misterius dan aneh. Hubungannya menjadi jauh
dengan Karina.
Ketika suatu malam, Ryan mengalami mimpi
buruk dan mengigau, Karina meniru apa yang
dulu sering dilakukan ibu Ryan dengan
menyanyikan lagu Nina Bobo. Lagu Nina Bobo
tersebut ‘menghidupkan’ segala sesuatu yang ada
di dalam rumah tersebut. Sesuatu yang
membuat keluarganya terbunuh, enam tahun
lalu. Dan kali ini, dia mengancam hidup Karina
guna menuntaskan apa yang belum sempat
diselesaikannya lima tahun sebelumnya.
Download Film oo Nina Bobo (2014) DVDRip
MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 28 Menit - 21 Detik
Size: 221 mb
SS:
Download Single Link:
Click here...

TUSFILES

SHAREBEAST

UFFILE

After School Horror (2014) Quality: DVDRip

a After School Horror
(2014)
Quality: DVDRip
Released 22 Mei 2014
Country Indonesia
Language Indonesian
Genre Horror
Director Nayato Fio Nuala
Writers Baskoro Adi Wuryanto ,
Nana R Praptini
Starcast
Indah Permatasari ,
Maxime Bouttier, Chris
Laurent, Pamela Bowie ,
Yova Gracia
Rating n/a
Sinopsis:
Di sekolah, beredar urban legend tentang bilik
toilet yang sudah lama dikunci. Andi (Chris
Laurent), Rino (Maxime), dan Vina (Pamela
Bowie) menyuruh juniornya, Sinta (Indah
Permatasari) untuk membongkar pintu itu
sebagai bagian dari rangkaian Jurit Malam calon
pengurus OSIS.
Sejak saat itu, gangguan demi gangguan
supranatural mereka alami. Tidak hanya mereka,
tapi juga menyebar ke kakak Sinta, Arum
(Marissa Nasution). Lama kelamaan, mereka
tidak tahan, sehingga melawan balik. Dari
penjaga sekolah, mereka mendapat berita bahwa
itu adalah hantu ASIH yang penasaran.
adeganafterschoolhorror.jpg
after-school-horror-img2.jpg
Download Film After School Horror (2014)
DVDRip MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 14 Menit - 03 Detik
Size: 176 mb
SS:
Download Single Link:
Click here...
TUSFILES

A Most Wanted Man (2014) Quality: BRRip

A Most Wanted Man
(2014)
Quality: BRRip
Released 1 August 2014 (USA)
Country UK | USA | Germany
Language English | Arabic
Genre Thriller
Director Anton Corbijn
Writers
Andrew Bovell
(screenplay), John le
Carré (novel)
Starcast
Philip Seymour
Hoffman, Rachel
McAdams, Daniel Brühl
| See full cast and
crew »
Rating
7.1/10
Ratings: 7,1/10 from
17.794 users
Metascore: 73/100
Reviews: 85 user | 221
critic | 42 from
Metacritic.com
Review:
Salah satu pengalaman menonton yang paling
menyenangkan adalah ketika kamu di ajak
bermain tarik dan ulur oleh cerita, mondar-
mandir bersama pertanyaan yang hadir dalam
petualangan dingin didalam labirin penuh
ketenangan yang anehnya sesekali mampu
memancarkan suhu panas di dalamnya. A Most
Wanted Man punya itu dalam kuantitas dan
kualitas yang memikat, it takes a minnow to
catch a barracuda, and a barracuda to catch a
shark. Manis!!
Seorang imigran Chechen bernama Issa Karpov
(Grigoriy Dobrygin) berhasil masuk ke Hamburg
setelah melarikan diri dari negaranya. Celakanya
ia ternyata telah diberikan label sebagai anggota
teroris oleh Interpol. Hal tersebut sampai
ketangan Günther Bachmann (Philip Seymour
Hoffman), agen spionase Jerman yang selain
berupaya melindungi Issa juga berusaha
memecahkan masalah yang ikut melibatkan
seorang pengacara bernama Annabel Richter
(Rachel McAdams), banker Tommy Brue (Willem
Dafoe), hingga Martha Sullivan (Robin Wright),
agen asal Amerika.
Menjelaskan kenikmatan yang diberikan oleh A
Most Wanted Man akan terasa lebih mudah jika
sedikit menyinggung Tinker Tailor Soldier Spy
sebagai pembuka, gaya yang mereka tampilkan
kurang lebih sama karena sumber dari kisah
yang ditulis ulang oleh Andrew Bovell ini juga
lahir dari sosok yang sama, novel karya John le
Carré.
Ini adalah thriller yang mencoba membawa
penontonnya bukan menyaksikan aksi spy
dengan saling gesek yang panas, ia hadir dengan
cara lainnya, berjalan tenang bahkan terasa
sedikit lambat seperti Kapringen,
mempermainkan ambiguitas bersama score dan
sinematografi yang terus memertebal misteri
sembari mengintimidasi. Ya, halus, tercipta rasa
tidak nyaman yang terbakar dengan penuh
kesabaran disini, membungkus cerita yang hadir
dan menuju banyak arah, mengganti aksi kejar
kecepatan tinggi dengan berjalan kaki tanpa
harus kehilangan kekuatan untuk menghantui.
Banyak lika-liku dalam cerita, itu jelas, tapi
ditangan Anton Corbijn menariknya narasi yang
flat itu tidak menjadi monoton dan
membosankan, ia memang tenang tapi kita
sebagai penonton tetap tidak kehilangan rasa
waspada pada cerita, semua berkat hadirnya
sensasi dibalik gerak mondar-mandir yang terus
menari-nari membawa kisah terkait kebohongan
dan sikap tidak percaya yang dikemas dengan
efisien.
A Most Wanted Man adalah sebuah hiburan yang
menghibur penontonnya seolah mereka telah
“dipermainkan” dengan cara yang positif.
Ruangan kantor yang kusam, wiski dan rokok
menemani udara dingin, mereka memberikan
tarik ulur yang kuat sehingga membuat materi
yang awalnya sangat berpotensi membosankan
itu secara mengejutkan bisa menarik dan terasa
intens, dari dialog, intrik, bahkan saya juga suka
bagaimana emosi dari para karakter tidak begitu
sederhana, mereka tersusun dan terbentuk
dengan komposisi yang pas sehingga sangat
mudah bagi penonton yang menikmati diselimuti
oleh kebingungan yang tangkas itu untuk lalu
hanyut dan tenggelam bersama arus yang ia
ciptakan.
Secara personal A Most Wanted Man adalah
salah satu film terbaik di tahun ini, sebuah
thriller spionase dengan pendekatan dan
komposisi yang cerdik, cerdas, dan cermat
menggunakan isu terorisme standard yang
diputar dengan rasa modern dan penuh gaya.
Pusat cerita berhasil ia jaga dengan kuat, namun
dengan percaya diri ia juga bisa bermain-main
dengan konflik pendukung lain yang terus
menyerang penontonnya pertanyaan umum yang
kompleks dan menakutkan, mempermainkan
gairah dan ketegangan mereka dalam ketenangan
yang diwarnai kualitas mumpuni dari para aktor,
terutama Philip Seymour Hoffman yang
memukau, dan menenggelamkan penontonnya
dalam permainan thriller sensitif yang
melankolis. Manis.
Sumber,
Download Film A Most Wanted Man (2014)
BluRay Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 2 Jam - 02 Menit - 23 Detik
Size: 293 mb
SS:
Download Single Link:
(Untuk Download file diatas 250 mb di
Sharebeast (SB) silahkan REGISTER dulu, Free!!)

TUSFILES

SHAREBEAST

UFFILE

SUB INDO

Sabtu, 01 November 2014

Zombeavers (2014)

a Zombeavers
(2014)
Quality: BRRip
Released 30 October 2014
(Germany)
Country USA
Language English
Genre Action | Comedy |
Horror
Director Jordan Rubin
Writers Al Kaplan , Jon Kaplan ,
1 more credit »
Starcast
Chad Anderson , Lexi
Atkins, Brent Briscoe |
See full cast and crew »
Rating
5.4/10
Ratings: 5,4/10 from
809 users
Reviews: 9 user | 45
critic

download single link:
VIA TUSFILES

VIA SHAREBEAST

SUB INDO

john carter

a John Carter
(2012)
Quality: BRRip
Released 9 March 2012 (USA)
Country USA
Language English
Genre Action | Adventure |
Fantasy | Sci Fi
Director Andrew Stanton
Writers
Andrew Stanton
(screenplay), Mark
Andrews (screenplay), 2
more credits »
Starcast
Taylor Kitsch, Lynn
Collins , Willem Dafoe |
See full cast and crew »
Rating
6.6/10
Ratings: 6,6/10 from
179.925 users
Metascore: 51/100
Reviews: 700 user |
445 critic | 42 from
Metacritic.com
Review:
Ekspektasi jelas akan menjulang begitu tinggi
bagi John Carter. Bukan hanya karena naskah
cerita film aksi bernuansa science fiction ini
diangkat dari bagian awal dari sebelas seri
novel legendaris Barsoom karya Edgar Rice
Burroughs, John Carter juga menjadi debut
penyutradaraan film live action bagi pemenang
dua Academy Awards, Andrew Stanton, yang
mungkin lebih dikenal luas sebagai salah satu
punggawa studio animasi Pixar Animation
Studios dan otak dibalik kesuksesan luar biasa
Finding Nemo (2003) dan WALL•E (2008).
Dalam beberapa kesempatan, Stanton sempat
mengungkapkan bahwa John Carter adalah
proyek ambisius personalnya yang semenjak
lama ingin ia wujudkan – sebuah hasrat yang
akan dapat dirasakan penonton secara jelas
dalam ritme penceritaan John Carter yang
berjalan sepanjang 132 menit.
Semenjak dirilis pada tahun 1912, seri novel
Barsoom karya Burroughs telah menginspirasi
begitu banyak kisah bernuansa science fiction
yang dirilis setelahnya, termasuk beberapa
naskah cerita film yang disutradarai oleh
George Lucas, Steven Spielberg hingga James
Cameron. Karenanya, tidak perlu merasa heran
jika ketika Anda menyaksikan John Carter, Anda
akan mendapatkan beberapa bagian Indiana
Jones (1983 – 2008), Star Wars (1977 – 2008)
maupun Avatar (2009) berada di beberapa
potongan penceritaannya.
Naskah cerita John Carter sendiri, yang
diadaptasi dari seri awal Barsoom, A Princess
of Mars (1912), oleh Stanton, Mark Andrews
dan Michael Chabon, kurang begitu mampu
untuk menggali hal-hal baru dari kisah
petualangan sejenis. Dengan kedangkalan yang
sama dapat dirasakan pada deretan dialog John
Carter, film ini jelas bukanlah sebuah sajian
yang menitikberatkan kualitasnya pada inovasi
penulisan jalan cerita dan dialognya.
Berlatar belakang kisah di tahun 1861, John
Carter bercerita mengenai karakter titularnya
(Taylor Kitsch) yang merupakan seorang
mantan pasukan militer Amerika Serikat yang
terlibat dalam Perang Sipil, namun setelah
kematian istri dan puterinya, memutuskan
untuk menjauhi dunia peperangan dan memilih
untuk berburu tambang emas di berbagai
belahan wilayah Amerika Serikat.
Suatu hari, setelah dikejar-kejar sekelompok
pasukan militer Amerika Serikat yang
memaksanya untuk kembali ke medan perang
serta sekelompok pasukan dari suku primitif
Apache, John Carter bersembunyi di sebuah gua
dan secara misterius kemudian menemukan
dirinya berpindah ke planet Mars – atau oleh
masyarakat asli planet tersebut disebut sebagai
Barsoom.
Pertemuan pertama John Carter dengan
masyarakat asli planet Mars terjadi ketika ia
bertemu dengan pimpinan suku alien Tharks,
Tars Tarkas (Willem Dafoe), yang kemudian
membawa John Carter ke kumpulan koloninya
dan menganggapnya sebagai salah satu
binatang peliharaan. Namun, tidak
membutuhkan waktu lama bagi John Carter
untuk terlibat dalam sebuah peperangan yang
sedang berlangsung di planet merah tersebut:
peperangan yang terjadi antara penduduk dari
kota Zodanga dan kota Helium.
Perang tersebut sebenarnya dapat saja diakhiri
jika puteri dari kota Helium, Dejah Thoris (Lynn
Collins), mau menikahi pangeran dari kota
Zodanga, Sab Than (Dominic West). Tentu saja,
sikap dan kecurigaan Dejah Thoris bahwa
pernikahan dengan Sab Than hanyalah sebuah
kedok untuk menundukkan Helium membuat
sang puteri menolak diadakannya pernikahan
tersebut. Jelas, John Carter kemudian menjadi
faktor pelengkap tersendiri yang menentukan
bagaimana perang antara Zodanga dan Helium
tersebut akan berakhir.
Mereka yang mengharapkan John Carter akan
memiliki kedalaman cerita dan emosional
seperti layaknya film-film yang pernah
ditangani oleh Andrew Stanton sepertinya akan
merasa kecewa dengan naskah cerita yang
direpresentasikan oleh John Carter. Tidak hanya
terkesan dangkal dari segi penggalian cerita dan
dialog yang dihantarkan, John Carter juga
mengandung terlalu banyak plot cerita yang
ingin diajukan dan sayangnya gagal untuk
dikembangkan untuk dapat tampil lugas dan
menarik.
Setelah dibuka dengan adegan aksi yang cukup
memukau, dan diikuti dengan sederetan adegan
perkenalan terhadap karakter John Carter yang
bernuansa komedi, John Carter kemudian
berjalan ke banyak arah dengan fokus yang
tidak menentu. Bahkan, begitu kurang fokusnya
jalan cerita awal yang dihadirkan pada John
Carter, penonton kemungkinan besar masih
akan menemukan diri mereka merasa
kebingungan mengenai apa yang sebenarnya
hendak disampaikan bahkan setelah 90 menit
film ini berjalan.
Kelemahan terbesar kedua dari John Carter
adalah jumlah karakternya yang dihadirkan
dalam jumlah yang cukup banyak, namun gagal
untuk mendapatkan penggalian karakter yang
mendalam. Karakter-karakter seperti Sola
(Samantha Morton), Sab Than (Dominic West),
Matai Shang (Mark Strong) dan beberapa
karakter lainnya muncul di dalam jalan cerita
tanpa pernah mendapatkan motivasi dari
keberadaan maupun peran esensial mereka di
dalam jalan cerita. Bahkan karakter-karakter
utama seperti John Carter dan Dejah Thoris
juga kadang ditampilkan terlalu datar, yang
membuat sebagian penonton akan sulit untuk
merasakan koneksi emosional terhadap apa
yang dijalani oleh para karakter ini di dalam
jalan cerita John Carter.
Berbanding terbalik dengan divisi penulisan
cerita, tampilan visual John Carter adalah
sebuah keunggulan maksimal dari film ini. Di
sepanjang 132 menit film ini berjalan, Andrew
Stanton berhasil merangkai deretan gambar
dengan pewarnaan yang lembut – tidak pernah
terlalu terang maupun sebaliknya – yang
memperkuat sinematografi indah karya Daniel
Mindel. Keunggulan visual John Carter juga
terasa semakin kuat seiring dengan berjalannya
durasi cerita dan meningkatnya intensitas
konflik yang muncul di dalamnya. Harus diakui,
setelah berjalan dengan tempo yang lumayan
sederhana semenjak film ini dimulai, momen-
momen emas John Carter secara perlahan
mulai muncul dan tampil memuaskan selepas
dari bagian pertengahan film ini.
Melirik departemen akting film, John Carter
diisi dengan deretan aktor dan aktris yang
mampu menampilkan penampilan akting
terbaik mereka untuk menghidupkan peran
masing-masing. Taylor Kitsch dan Lynn Collins
yang berada di garda terdepan departemen
akting juga berhasil menghasilkan chemistry
yang sangat meyakinkan satu sama lain dan
semakin kuat dengan dukungan akting dari
Dominic West, Mark Strong, James Purefoy
serta talenta nama-nama seperti Samantha
Morton, Willem Dafoe dan Thomas Hade
Church.
Permasalahan dalam departemen akting John
Carter, sayangnya, muncul dari kurangnya
kharisma Kitsch sebagai bintang utama dari
petualangan ini. Kitsch memang belum
memiliki aura kharisma kepemimpinan yang
besar yang dapat membuat setiap kehadirannya
terasa begitu bermakna. Kekurangan itulah
yang kadang membuat karakter John Carter
kurang begitu mampu untuk tampil manarik.
Dibentuk dari beberapa kelemahan yang
muncul dari segi penceritaan yang kurang
padat dan terfokus membuat banyak momen
dalam John Carter terasa terlalu datar dan
kurang mampu untuk bercerita secara lebih
mendalam. Apakah hal tersebut membuat John
Carter sebagai sebuah film yang
mengecewakan? Mungkin saja.
Pun begitu, dengan kecerdasannya dalam
merangkai tiap adegan dengan tampilan visual
yang kuat, penonton masih akan dapat
merasakan hasrat dan kecintaan Andrew
Stanton yang begitu kuat untuk menampilkan
sebuah jalan cerita yang memikat. Terlalu
fokusnya Stanton pada divisi visual mungkin
telah mengorbankan kekuatan penceritaan dan
emosional John Carter. Namun tetap saja,
sebagai sebuah hasil debut penyutradaraan film
live action, John Carter masih mampu untuk
tampil menarik dan menghibur.
Sumber ,
Download Film John Carter (2012) BluRay
Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 2 Jam - 12 Menit - 01 Detik
Size: 337 mb
SS:
Download Single Link:
Click here...
TUSFILES

ALTERNATIF

SUB INDO

Jumat, 31 Oktober 2014

The Expendables 3 (2014) Quality: BRRip

s The Expendables 3
(2014)
Quality: BRRip & DVDScr
Released 14 August 2014
(Singapore)
Country USA
Language English
Genre Action | Adventure |
Thriller
Director Patrick Hughes
Writers
Sylvester Stallone
(screenplay), Creighton
Rothenberger
(screenplay), 3 more
credits »
Starcast
Sylvester Stallone , Jason
Statham , Jet Li, ,
Antonio Banderas,
Dolph Lundgren, Mel
Gibson , Arnold
Schwarzenegger | See
full cast and crew »
Rating
6.2/10
Ratings: 6,2/10 from
53.352 users
Metascore: 35/100
Reviews: 271 user |
258 critic | 35 from
Metacritic.com
Review:
Film aksi Hollywood berjudul “The
Expendables 3” merupakan fil sekuel ketiga dari
" The Expendables", film ditulis sendiri oleh
Sylvester Stallone yang juga ikut bermain
berperan sebagai tokoh utama bernama Barney,
Christmas ( Jason Statham ) dan sisanya dari
tim datang bertatap muka (face-to-face)
dengan Conrad Stonebanks ( Mel Gibson ), yang
tahun lalu mendirikan The Expendables dengan
Barney.
Dalam sekuel ketiga The Expendables ini, yang
menjadi musuh besar Barney adalah
Stonebanks yang berubah menjadi seorang
pedagang senjata kejam dan yang membuat
Barney terpaksa untuk membunuhnya.
Stonebanks yang menghindari kematian sekali
sebelumnya, sekarang adalah membuat misinya
untuk mengakhiri sekuel film The Expendables.
Cerita demi cerita Barney memiliki rencana
lain. Barney memutuskan bahwa dia harus
melawan darah lama dengan darah baru dan
membawa era baru anggota tim Expendables,
merekrut orang-orang yang lebih muda, lebih
cepat dan lebih tech-savvy. Misi terbaru
menjadi benturan gaya old-school klasik
dibandingkan dengan keahlian teknologi tinggi
dalam pertempuran paling pribadi yang belum
dialami Expendables.
Prekuel:
The Expendables (2010)
The Expendables 2 (2012)
Download Film The Expendables 3(2014 )
BluRay Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 640x272
Durasi: 2 Jam - 06 Menit - 27 Detik
Ukuran: 323 mb
SS:
Download Single Link:
Click here...

DOWNLOAD

SUB INDO

Soekarno: Indonesia Merdeka (2013) Quality: DVDRip

s Soekarno: Indonesia
Merdeka

Released 11 December 2013
(Indonesia)
Country Indonesia
Language Indonesian | English |
Japanese | Dutch
Genre Biography
Director Hanung Bramantyo
Writer Ben Sihombing
Starcast
Ario Bayu , Muhammad
Abbe , Moch. Achir,
Norman R. Akyuwen |
See full cast and crew »
Rating
7.3/10
Ratings: 7,3/10 from
135 users
Reviews: 3 user | 6
critic
Review:
Setelah menggarap Sang Pencerah (2011)
serta membantu proses produksi film Habibie
& Ainun (2012), Hanung Bramantyo kembali
hadir dengan sebuah film biopik yang bercerita
tentang kehidupan presiden pertama Republik
Indonesia, Soekarno. Berbeda dengan sosok
Ahmad Dahlan – yang kisahnya dihadirkan
dalam Sang Pencerah – atau Habibie yang
cenderung memiliki kisah kehidupan yang lebih
sederhana, perjalanan hidup Soekarno – baik
dari sisi pribadi maupun dari kiprahnya di
dunia politik – diwarnai begitu banyak intrik
yang jelas membuat kisahnya cukup menarik
untuk diangkat sebagai sebuah film layar
lebar.
Sayangnya, banyaknya intrik dalam kehidupan
Soekarno itu pula yang kemudian berhasil
menjebak Soekarno. Naskah cerita yang ditulis
oleh Hanung bersama dengan Ben Sihombing
( Cinta di Saku Celana , 2012) seperti terlalu
berusaha untuk merangkum kehidupan
Soekarno dalam tempo sesingkat-singkatnya –
excuse the pun – sehingga membuat Soekarno
seringkali kehilangan fokus penceritaan dan
gagal untuk bercerita serta menyentuh subyek
penceritaannya dengan lebih mendalam.
Penceritaan Soekarno dimulai ketika Soekarno
(Ario Bayu) bersama dengan istrinya, Inggrit
Ganarsih (Maudy Koesnaedi), dibuang oleh
pihak Belanda ke Ende, Pulau Flores, Nusa
Tenggara Timur dan ke Provinsi Bengkulu
akibat pledoinya tentang kemerdekaan
Indonesia yang dikenal dengan sebutan
Indonesia Menggugat dianggap mengancam
keberadaan Belanda di Indonesia. Di Bengkulu,
Soekarno istirahat sejenak dari keriuhan dunia
politik dan menghabiskan waktunya dengan
mengajar para pemuda di provinsi tersebut.
Meskipun telah memiliki istri, Soekarno tidak
dapat menghindarkan hatinya dari rasa suka
terhadap salah satu muridnya, Fatmawati (Tika
Bravani). Hal ini jelas kemudian menghasilkan
kemelut dalam rumah tangga Soekarno dan
istrinya. Di tengah kemelut tersebut, Jepang
kemudian berhasil menggeser posisi Belanda
dan menduduki tanah Indonesia. Oleh Jepang,
Soekarno kemudian dibebaskan dari masa
pembuangannya. Ia lantas memilih untuk
kembali ke dunia politik dan secara perlahan
menyusun rencana untuk mengejar
kemerdekaan dari negara yang begitu
dicintainya.
Pada awalnya, Soekarno bersikap sangat
permisif terhadap kedatangan pihak Jepang di
Indonesia – sebuah sikap yang ditentang oleh
dua lawan politiknya, Mohammad Hatta
(Lukman Sardi) dan Sutan Syahrir (Tanta
Ginting). Hatta dan Syahrir bahkan
mengingatkan Soekarno bahwa pendudukan
Jepang tidak akan kalah bengisnya dengan
penjajahan Belanda.
Namun, Soekarno sendiri beragumen bahwa
Indonesia harus mampu memanfaatkan
keberadaan Jepang untuk merebut
kemerdekaan mereka sendiri – sebuah argumen
yang kemudian berhasil memenangkan hati
Hatta. Meskipun banyak dicemooh oleh
kelompok pemuda progresif karena dinilai
terlalu lemah terhadap Jepang, keyakinan
Soekarno dan Hatta tidaklah goyah. Bersama
Hatta, Soekarno berupaya mewujudkan cita-
citanya mewujudkan kemeredekaan Indonesia.
Seandainya Hanung Bramantyo dan Ben
Sihombing mau memilih beberapa konflik
dalam kehidupan Soekarno dan
mengembangkannya lebih dalam lagi sebagai
sebuah presentasi cerita, mungkin alur
penceritaan Soekarno akan dapat berjalan lebih
efektif. Kehadiran banyaknya konflik dalam
penceritaan Soekarno jelas membuat film ini
tidak mampu memberikan penggalian yang
lebih kuat pada masing-masing konflik.
Hasilnya, banyak diantara konflik tersebut yang
terkesan tumpang tindih, tersaji dengan kurang
matang dan akhirnya membuat Soekarno gagal
dalam menjalin hubungan emosional dengan
penontonnya.
Penonton seperti hanya datang untuk
menyaksikan deretan reka ulang berbagai
peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sang
karakter utama tanpa pernah benar-benar
dilibatkan untuk dapat merasakan bagaimana
perjalanan emosi yang dirasakan sang karakter
utama ketika melewati deretan peristiwa
tersebut. Hadirnya banyak konflik dalam jalan
penceritaan Soekarno yang dipaparkan dalam
durasi 150 menit ini jelas juga menumbuhkan
banyaknya kehadiran karakter-karakter dalam
jumlah yang cukup besar.
Sayangnya, sama dengan kondisi penceritaan
yang gagal untuk tersaji secara matang dengan
sempurna, karakter-karakter yang muncul
dalam alur penceritaan Soekarno juga
seringkali hadir tanpa porsi maupun peran
penceritaan yang berarti, termasuk beberapa
karakter dengan bagian penceritaan yang
sebenarnya cukup potensial untuk
dikembangkan dengan lebih baik seperti
karakter Muhammad Hatta maupun dua
karakter istri Soekarno, Inggrit Ganarsih dan
Fatmawati.
Jika saja naskah cerita Soekarno dapat tertata
dengan lebih sederhana dan efektif, mungkin
banyak pemeran film ini yang akan dapat
memberikan penampilan yang lebih kuat – dan,
tentunya, durasi film juga akan hadir jauh lebih
singkat. Hanung Bramantyo juga sepertinya
mengalami kesulitan dalam membagi porsi
kisah kehidupan pribadi karakter Soekarno
dengan kisah perjuangannya di dunia politik.
Seringkali, porsi penceritaan kehidupan pribadi
dari karakter Soekarno hadir dalam pengisahan
yang terbatas sehingga justru mengganggu
keseimbangan alur kisah mengenai perjuangan
politik dari karakter Soekarno.
Sejujurnya, tidak seperti Habibie & Ainun yang
mampu memanfaatkan kisah asmara sang
karakter utama untuk mengembangkan potensi
drama romansa dari jalan cerita secara
keseluruhan, kisah romansa dari karakter
Soekarno dalam film ini sama sekali tidak
pernah memberikan daya tarik yang kuat.
Dipaparkan dengan terlalu sederhana dan sama
sekali tidak begitu berarti sehingga dapat
dihilangkan begitu saja.
Meskipun dengan kelemahan-kelemahan
tersebut, Hanung Bramantyo masih mampu
menghadirkan Soekarno dengan kualitas
departemen akting dan tata produksi yang
jempolan. Ario Bayu cukup mampu
menghidupkan karakter Soekarno yang ikonik
tersebut dengan baik. Bukan sebuah
penampilan yang sangat istimewa dan
mengesankan namun jelas bukanlah suatu hal
yang mengecewakan. Departemen akting
Soekarno juga didukung dengan penampilan-
penampilan apik dari Maudy Koesnaedi,
Lukman Sardi, Tika Bravani, Emir Mahira,
Mathias Muchus, Tanta Ginting dan banyak
nama pemeran lainnya.
Tata produksi Soekarno hadir dengan kualitas
yang begitu berkelas. Berkat sokongan
departemen kamera dan artistik yang solid,
Hanung Bramantyo dapat menghadirkan
atmosfer masa-masa perjuangan kemerdekaan
Indonesia denga sangat meyakinkan. Tata musik
arahan Tya Subiakto Satrio masih saja
terdengar terlalu berlebihan pada beberapa
bagian, namun sama sekali bukanlah sebuah
masalah yang berarti bagi kualitas presentasi
film secara keseluruhan.
Hadir dengan dukungan penampilan akting dan
tata produksi yang cukup solid, Soekarno yang
diarahkan oleh Hanung Bramantyo sayangnya
gagal untuk tampil dengan penceritaan yang
kuat. Kehadiran banyaknya konflik tanpa
pengembangan yang mendalam membuat
Soekarno seakan hanya hadir bercerita tanpa
pernah benar-benar mau memberikan
penontonnya peluang untuk memahami
maupun menjalin koneksi emosional dengan
jalan cerita. Walaupun tidak sepenuhnya buruk
– 30 menit terakhir yang berisi adegan detik-
detik menjelang pelaksanaan proklamasi benar-
benar mampu dieksekusi dengan baik.
Sumber ,
Download Film Soekarno: Indonesia Merdeka
(2013) DVDRip MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 2 Jam - 27 Menit - 44 Detik
Size: 352 mb
SS:
Download Single Link:
Click here...
TF: http://www.tusfiles.net/ol4c8494gbs4

ALTERNATIF

Rabu, 29 Oktober 2014

Dawn of the Planet of the Apes (2014) Quality: WEB-DL + sub indo

. Dawn of the Planet of
the Apes
(2014)
Quality: WEB-DL & TS
Released 10 July 2014
(Singapore)
Country USA
Language English
Genre Action | Drama | Sci Fi
Director Matt Reeves
Writers Mark Bomback , Rick
Jaffa , 4 more credits »
Starcast
Gary Oldman , Keri
Russell , Andy Serkis |
See full cast and crew »
Rating
8.1/10
Ratings: 8,1/10 from
122.485 users
Metascore: 79/100
Reviews: 477 user |
417 critic | 48 from
Metacritic.com
Review:
Dawn of the Planet of the Apes menjadi bukti
terbaru bagaimana sebuah film dengan status
blockbuster yang hadir di periode summertime
tetap mampu atau dapat memberikan hiburan
yang menyenangkan tanpa harus secara total
mengesampingkan substance demi style, tanpa
perlu mengorbankan dirinya untuk tampil
kelewat “bodoh” agar dapat menyenangkan
penontonnya. Tidak perlu penjelasan panjang
lebar di paragraf pembuka ini, it’s surely this
year one of the best so far. Welcome to
“modern” blockbuster era btw. Dawn of the
Planet of the Apes, a very good humanity
message from simple friction between humans
and speaking monkeys. Engaging.
Virus yang dicanangkan oleh boss Will (James
Franco) itu ternyata benar-benar terwujud,
peradaban manusia kemudian rusak akibat
virus ALZ-113 yang juga membawa dampak
buruk yang jauh lebih besar. Kini kekuasaan
manusia mulai digantikan oleh para Apes yang
di kota San Fransisco dibawah komando
simpanse karismatik, Caesar (Andy Serkis),
telah memperkuat habitat dan juga wilayah
kekuasaan mereka di Muir Woods, lokasi yang
celakanya juga menjadi tempat dimana
bendungan yang dapat menjadi sumber daya
bagi jaringan listrik seluruh kota berada.
Hal tersebut yang menjadi kendala bagi
Malcolm (Jason Clarke), yang bersama Ellie
(Keri Russell), Alexander (Kodi Smit-McPhee)
serta beberapa rekan lainnya ditugaskan oleh
pria bernama Dreyfus (Gary Oldman) untuk
masuk kedalam hutan dan kemudian
mengaktifkan kembali bendungan tersebut.
Caesar, Koba (Toby Kebbell), dan beberapa
sosok penting kawanan Apes lainnya pada
dasarnya juga ingin menjaga perdamaian,
namun sayangnya hadirnya faksi lain dengan
tujuan yang berbeda membawa cobaan bagi
komitmen terhadap perdamaian yang mereka
ciptakan sebelumnya itu.
Dawn of the Planet of the Apes adalah film
bunglon, ia punya berbagai warna cerita yang
berhasil ditampikan dengan baik dan seimbang
di dalam satu kemasan, dan kombinasi diantara
mereka terasa variatif serta menyegarkan. Ini
pada dasarnya masih merupakan sebuah film
tentang perang dimana cerita yang ditulis oleh
Mark Bomback, Rick Jaffa, dan Amanda Silver
tetap mengacu pada tujuan utama karakter
untuk menyelamatkan dunia, tapi yang menarik
adalah ia tidak serta merta dengan frontal
menunjukkan misinya tersebut dengan berbagai
ledakan dan aksi heroik yang menyesakkan
layar.
Matt Reeves menjadikan film ini lebih kepada
permainan perasaan bagi para penontonnya,
bercerita tentang kehancuran tanpa harus
menghancurkan sejenak kerja otak dari para
penontonnya. Ini yang terasa berani karena
dengan budget yang terhitung besar sejak awal
hingga menjelang showdown di bagian akhir
yang kelak akan terasa seperti sebuah
grandprize itu kesan sederhana tidak pernah
lepas dari Dawn of the Planet of the Apes.
Tanpa rasa takut penonton lebih sering di buat
untuk menunggu disini tapi dalam situasi yang
positif, tidak membawa mereka kedalam
petualangan yang bergerak cepat dengan oktan
tinggi, secara perlahan dan tidak terburu-buru
membangun kembali karakter disertai masalah
yang mereka punya (karakter manusia
berkembang dengan baik disini), memberikan
kedalaman di dua bagian tadi sehingga ketika ia
mulai masuk kedalam bagian yang bertugas
untuk mengeksploitasi adrenalin para penonton
akan memperoleh keseimbangan yang
menyenangkan.
Dawn of the Planet of the Apes ternyata ikut
menerapkan apa yang pada tahun ini sedang
marak dilakukan oleh film-film blockbuster,
menyandingkan style dan substance dengan
manis. Tetap ada elemen otot tapi juga ada otak
yang bermain disini, pesan terkait coexist itu
tidak hanya digambarkan dengan hadirnya
masalah, kehancuran disana-sini, dan
kemenangan, tapi telah di set untuk dibangun
agar dapat menyerap kedalam emosi dan
empati penontonnya, hal yang pada akhirnya
turut menjadikan pesan miliknya semakin kuat.
Anda bahkan akan dibuat bingung, siapa yang
harus didukung karena tercipta hubungan yang
menarik serta kepedulian yang sama besar
pada dua sisi perjuangan yang secara cerdas di
perlakukan dengan sangat bijaksana oleh Matt
Reeves itu.
Tapi tenang, Dawn of the Planet of the Apes
tidak serumit yang anda bayangkan setelah
membaca bagian di atas tadi. Memang tidak
ada ledakan penuh kesibukan skala super besar,
cenderung tenang malah, tapi penonton tetap
akan memperoleh pengalaman sinematik yang
mengesankan disini, sebuah seni CGI yang
sangat rinci sehingga menjadikan karakter
terasa sangat nyata. Ya, sangat nyata, bahkan
ini juga berpotensi sedikit mengganggu mereka
yang terlibat terlalu dalam dan intim pada
cerita, karakter yang believeable serta
relationship yang kuat dibalik teknik bercerita
yang terkesan sederhana itu menyebabkan
masalah yang bertumpu pada persoalan moral
tadi tidak pernah berhenti memanfaatkan script
kuat yang menopangnya untuk terus bermain-
main di layar dan juga pikiran penonton.
Apakah tidak ada nilai minus? Ada, Dawn of the
Planet of the Apes adalah film segmented.
Tidak ekstrim, tapi mereka yang tidak suka
dengan film yang menuntut kesabaran dan
investasi sambil menantikan datangnya babak
akhir, ini akan terasa membosankan. Apalagi
dinamika yang ia punya juga bukan tipe
rollercoaster, lebih kepada tight dalam level
stabil sejak awal hingga akhir, berpotensi
menjemukan meskipun tetap ditemani dengan
visual menarik, berisikan realisme pada
kebencian, konfrontasi, ketakutan, ketegangan,
kegembiraan, hingga drama yang manis, intim
namun tetap intens dengan keseimbangan yang
pas pada bagian besar dan bagian kecil cerita
yang oleh Matt Reeves terus dijaga untuk tidak
melewati batas sehingga tidak menimbulkan
kesan yang berlebihan.
Dua jempol tentu layak diberikan pada kinerja
tim visual efek, tapi tanpa kinerja yang baik
dari Andy Serkis serta pemeran Apes lainnya,
Dawn of the Planet of the Apes mungkin tidak
akan sekuat ini. Para Apes yang memegang
kendali utama di film ini berhasil menyajikan
sebuah kehidupan dan gejolak yang charming
dan manis, menjadikan karakter mereka berdiri
sejajar dengan karakter manusia.
Apakah akting pada motion capture dapat
berpartisipasi di Oscar? Dan disisi lainnya film
ini juga berhasil memperbaiki hal minus pada
karakter manusia yang dimiliki oleh Rise of the
Planet of the Apes, berkembang tapi dalam
kadar yang pas dimana Gary Oldman menjadi
scene stealer. Overall, Dawn of the Planet of
the Apes adalah film yang memuaskan. Dimulai
dan diakhiri dengan sepasang mata yang
konstan menatap tajam kearah penontonnya,
Dawn of the Planet of the Apes bukan hanya
berhasil menjalankan tugasnya sebagai film
blockbuster dengan sajian visual yang
memuaskan tapi disisi lain ia juga mampu
bercerita dengan sama baiknya.
Dari perang, hadir gesekan, terus bertumpu
pada pesan moral dan perdamaian, ini adalah
sebuah kritik atau mungkin tamparan tajam
yang dikemas dengan cerdas ditujukan kepada
mereka yang masih menganggap perang sebagai
sesuatu yang biasa, dan moral bukan hal
penting lagi dalam dunia modern sekarang ini.
So, dimana posisi anda, berada dibawah
perilaku para monyet ini, atau berada
diatasnya? Jika anda saat ini masih melihat
kearah atas, I hope someday you'll join us.
Sumber ,
Download Film Dawn of the Planet of the Apes
(2014) WEB-DL Subtitle Indonesia MP4 High
Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 2 Jam - 10 Menit - 25 Detik
Ukuran: 335 mb
SS:K
Download Single Link:
TUSFILES

ALTERNATIF

SUB INDO

Guardians of the Galaxy (2014) + sub indo

Guardians of the
Galaxy
(2014)
Quality: R6
Released 1 August 2014 (USA)
Country USA | UK
Language English
Genre Action | Adventure |
Sci Fi | Fantasy
Director James Gunn
Writers
James Gunn, Nicole
Perlman , 2 more
credits »
Starcast
Chris Pratt , Vin Diesel ,
Bradley Cooper | See
full cast and crew »
Rating
8.5/10
Ratings: 8,5/10 from
228.686 users
Metascore: 76/100
Reviews: 718 user |
468 critic | 46 from
Metacritic.com
Review:
Saat pertama kali Marvel mengumumkan
akan hadirnya Guardians of the Galaxy
mungkin yang terlintas di pikiran adalah
pertanyaan “untuk apa?” Mereka sudah punya
The Avengers, empat diantara anggota tim itu
bahkan sudah punya film mandiri masing-
masing. Mungkin terasa pesimis pada film ini
dengan penilaian ini hanya upaya Marvel untuk
meraih keuntungan semata, tapi kalau kamu
punya pemikiran yang sama segera buang jauh-
jauh hal itu, karena dengan konsep yang jauh
lebih ringan Guardians of the Galaxy berhasil
menjadi film terbaik Marvel setelah The
Avengers , bahkan nearly side by side.
Peter Quill (Chris Pratt), pria dengan panggilan
Star-Lord yang dibesarkan oleh kelompok
pencuri bernama The Ravagers sejak ia masih
kecil harus masuk kedalam sebuah masalah.
Sebuah bola bernama Orb yang ia curi ternyata
menjadi incaran Ronan (Lee Pace), anggota
Kree yang hendak menghancur musuh-
musuhnya. Hal itu yang memaksa Quill untuk
bergabung bersama dengan Gamora (Zoe
Saldana), Dax (David Bautista), Rocket (Bradley
Cooper), dan Groot (Vin Diesel), membentuk
sebuah tim aneh untuk berusaha menggagalkan
usaha Ronan.
Kalau anda mengikuti Marvel Cinematic
Universe beberapa diantara mereka tampak
mulai di set untuk sedikit merubah gaya
mereka menjadi sedikit lebih serius dalam
bercerita meskipun tidak begitu ekstrim. Hal
itu yang menjadikan cerita yang ditulis oleh
James Gunn dan Nicole Perlman ini terasa
menyenangkan, karena Guardians of the Galaxy
seperti ingin menjadi film superhero yang
murni ingin agar kehadiran mereka sebagai
tempat bersenang-senang, tentu saja tetap
dengan mengemban tugas sebagai sumber
waralaba serta membuka potensi untuk
semakin memperluas Marvel Cinematic
Universe sendiri.
Pola yang dipakai sama, beberapa bahkan
hafalan, tapi Marvel kembali berhasil
memberikan pukulan kepada mereka yang telah
pesimis sejak awal. Benar, termasuk saya
pastinya, dan ketika ekspektasi kamu tidak
begitu tinggi rasa puas yang kamu dapatkan
akan menjadi sebuah kejutan yang tak
terlupakan. Guardians of the Galaxy masuk
kedalam kategori itu, sinopsis berisikan orang
buangan, tanaman, hewan, bersatu untuk
berjalan dalam pola yang klasik, melarikan diri,
kemudian mencari target, dan dibumbui
dengan sedikit hal personal, bukan hanya
tampak tapi memang ceritanya itu sendiri
terasa standard bahkan mungkin akan terasa
murahan, tapi keputusan untuk tidak
menjadikan ini terlalu serius berhasil
menghapus kemampuan hal tadi untuk
mengganggu penontonnya bersenang-senang.
Tapi tunggu dulu, itu memang telah di set oleh
Marvel, menjadi menyenangkan tanpa harus
tampil terlalu serius. Ya, sangat mudah untuk
menilai bahwa Guardians of the Galaxy tidak
memberikan petualangan yang terlalu serius,
plot murahan dan sedikit kurang konsisten,
karakter yang tidak begitu kuat ketika berdiri
sendiri dan seolah murni mengandalkan ciri
khas yang mereka punya untuk menarik
perhatian, beberapa karakter dan tujuan
bahkan terasa terbuang akibat kesan terburu-
buru yang hadir.
Tapi Guardians of the Galaxy punya nyawa,
punya pesona yang mereka bentuk dari
chemistry antar karakter, tik-tok yang mereka
punya baik, dialog berisikan banyak humor juga
mayoritas mampu bekerja, memang akan
terkesan dangkal tapi Guardians of the Galaxy
berhasil membuktikan bahwa sebuah film
superhero bisa menjadi hiburan yang
menyenangkan hanya dengan mengandalkan
keunikan yang mereka punya.
Para aktor juga layak mendapatkan kredit.
Chris Pratt yang menjadi pemimpin sangat
berhasil tampil seimbang, bisa lucu dengan hal-
hal sarkasme, tapi juga mampu menciptakan
kesan tangguh dari karakternya. Tim antagonis
seperti Lee Pace dan Karen Gillan juga tidak
begitu buruk, bisa memberikan tekanan dari
sisi lain pada cerita. Yang menarik disini adalah
pengisi suara, Vin Diesel yang monoton tapi
menjadikan momen karakternya termanfaatkan
dengan baik, serta Bradley Cooper dengan
suaranya yang terasa sangat hidup terutama
pada momen humor.
Guardians of the Galaxy dalam sebuah kalimat,
sangat menyenangkan. Chemistry dari ensemble
cast yang berkembang dengan baik berhasil
menutup nilai minus yang dimiliki aksi mondar-
mandir cerita yang sesungguhnya tidak begitu
buruk, ditemani dengan beberapa
pemandangan dan sinematografi berkat kinerja
CGI yang oke, keseimbangan sisi roman, drama,
dan komedi dengan humor-humor miliknya
yang lezat, terima kasih layak diberikan kepada
Marvel karena sikap mereka untuk tidak
menerapkan aturan yang begitu ketat pada
kemasan ini kita dapat memperoleh
petualangan luar angkasa yang seru, lucu, dan
sangat menyenangkan.
Sumber ,
Download Film Guardians of the Galaxy (2014)
R6 Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 53 Menit - 07 Detik
Size: 235 mb
SS:
Download Single Link:

TUSFILES

SHAREBEST

SUB INDO