s Soekarno: Indonesia
Merdeka
Released 11 December 2013
(Indonesia)
Country Indonesia
Language Indonesian | English |
Japanese | Dutch
Genre Biography
Director Hanung Bramantyo
Writer Ben Sihombing
Starcast
Ario Bayu , Muhammad
Abbe , Moch. Achir,
Norman R. Akyuwen |
See full cast and crew »
Rating
7.3/10
Ratings: 7,3/10 from
135 users
Reviews: 3 user | 6
critic
Review:
Setelah menggarap Sang Pencerah (2011)
serta membantu proses produksi film Habibie
& Ainun (2012), Hanung Bramantyo kembali
hadir dengan sebuah film biopik yang bercerita
tentang kehidupan presiden pertama Republik
Indonesia, Soekarno. Berbeda dengan sosok
Ahmad Dahlan – yang kisahnya dihadirkan
dalam Sang Pencerah – atau Habibie yang
cenderung memiliki kisah kehidupan yang lebih
sederhana, perjalanan hidup Soekarno – baik
dari sisi pribadi maupun dari kiprahnya di
dunia politik – diwarnai begitu banyak intrik
yang jelas membuat kisahnya cukup menarik
untuk diangkat sebagai sebuah film layar
lebar.
Sayangnya, banyaknya intrik dalam kehidupan
Soekarno itu pula yang kemudian berhasil
menjebak Soekarno. Naskah cerita yang ditulis
oleh Hanung bersama dengan Ben Sihombing
( Cinta di Saku Celana , 2012) seperti terlalu
berusaha untuk merangkum kehidupan
Soekarno dalam tempo sesingkat-singkatnya –
excuse the pun – sehingga membuat Soekarno
seringkali kehilangan fokus penceritaan dan
gagal untuk bercerita serta menyentuh subyek
penceritaannya dengan lebih mendalam.
Penceritaan Soekarno dimulai ketika Soekarno
(Ario Bayu) bersama dengan istrinya, Inggrit
Ganarsih (Maudy Koesnaedi), dibuang oleh
pihak Belanda ke Ende, Pulau Flores, Nusa
Tenggara Timur dan ke Provinsi Bengkulu
akibat pledoinya tentang kemerdekaan
Indonesia yang dikenal dengan sebutan
Indonesia Menggugat dianggap mengancam
keberadaan Belanda di Indonesia. Di Bengkulu,
Soekarno istirahat sejenak dari keriuhan dunia
politik dan menghabiskan waktunya dengan
mengajar para pemuda di provinsi tersebut.
Meskipun telah memiliki istri, Soekarno tidak
dapat menghindarkan hatinya dari rasa suka
terhadap salah satu muridnya, Fatmawati (Tika
Bravani). Hal ini jelas kemudian menghasilkan
kemelut dalam rumah tangga Soekarno dan
istrinya. Di tengah kemelut tersebut, Jepang
kemudian berhasil menggeser posisi Belanda
dan menduduki tanah Indonesia. Oleh Jepang,
Soekarno kemudian dibebaskan dari masa
pembuangannya. Ia lantas memilih untuk
kembali ke dunia politik dan secara perlahan
menyusun rencana untuk mengejar
kemerdekaan dari negara yang begitu
dicintainya.
Pada awalnya, Soekarno bersikap sangat
permisif terhadap kedatangan pihak Jepang di
Indonesia – sebuah sikap yang ditentang oleh
dua lawan politiknya, Mohammad Hatta
(Lukman Sardi) dan Sutan Syahrir (Tanta
Ginting). Hatta dan Syahrir bahkan
mengingatkan Soekarno bahwa pendudukan
Jepang tidak akan kalah bengisnya dengan
penjajahan Belanda.
Namun, Soekarno sendiri beragumen bahwa
Indonesia harus mampu memanfaatkan
keberadaan Jepang untuk merebut
kemerdekaan mereka sendiri – sebuah argumen
yang kemudian berhasil memenangkan hati
Hatta. Meskipun banyak dicemooh oleh
kelompok pemuda progresif karena dinilai
terlalu lemah terhadap Jepang, keyakinan
Soekarno dan Hatta tidaklah goyah. Bersama
Hatta, Soekarno berupaya mewujudkan cita-
citanya mewujudkan kemeredekaan Indonesia.
Seandainya Hanung Bramantyo dan Ben
Sihombing mau memilih beberapa konflik
dalam kehidupan Soekarno dan
mengembangkannya lebih dalam lagi sebagai
sebuah presentasi cerita, mungkin alur
penceritaan Soekarno akan dapat berjalan lebih
efektif. Kehadiran banyaknya konflik dalam
penceritaan Soekarno jelas membuat film ini
tidak mampu memberikan penggalian yang
lebih kuat pada masing-masing konflik.
Hasilnya, banyak diantara konflik tersebut yang
terkesan tumpang tindih, tersaji dengan kurang
matang dan akhirnya membuat Soekarno gagal
dalam menjalin hubungan emosional dengan
penontonnya.
Penonton seperti hanya datang untuk
menyaksikan deretan reka ulang berbagai
peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sang
karakter utama tanpa pernah benar-benar
dilibatkan untuk dapat merasakan bagaimana
perjalanan emosi yang dirasakan sang karakter
utama ketika melewati deretan peristiwa
tersebut. Hadirnya banyak konflik dalam jalan
penceritaan Soekarno yang dipaparkan dalam
durasi 150 menit ini jelas juga menumbuhkan
banyaknya kehadiran karakter-karakter dalam
jumlah yang cukup besar.
Sayangnya, sama dengan kondisi penceritaan
yang gagal untuk tersaji secara matang dengan
sempurna, karakter-karakter yang muncul
dalam alur penceritaan Soekarno juga
seringkali hadir tanpa porsi maupun peran
penceritaan yang berarti, termasuk beberapa
karakter dengan bagian penceritaan yang
sebenarnya cukup potensial untuk
dikembangkan dengan lebih baik seperti
karakter Muhammad Hatta maupun dua
karakter istri Soekarno, Inggrit Ganarsih dan
Fatmawati.
Jika saja naskah cerita Soekarno dapat tertata
dengan lebih sederhana dan efektif, mungkin
banyak pemeran film ini yang akan dapat
memberikan penampilan yang lebih kuat – dan,
tentunya, durasi film juga akan hadir jauh lebih
singkat. Hanung Bramantyo juga sepertinya
mengalami kesulitan dalam membagi porsi
kisah kehidupan pribadi karakter Soekarno
dengan kisah perjuangannya di dunia politik.
Seringkali, porsi penceritaan kehidupan pribadi
dari karakter Soekarno hadir dalam pengisahan
yang terbatas sehingga justru mengganggu
keseimbangan alur kisah mengenai perjuangan
politik dari karakter Soekarno.
Sejujurnya, tidak seperti Habibie & Ainun yang
mampu memanfaatkan kisah asmara sang
karakter utama untuk mengembangkan potensi
drama romansa dari jalan cerita secara
keseluruhan, kisah romansa dari karakter
Soekarno dalam film ini sama sekali tidak
pernah memberikan daya tarik yang kuat.
Dipaparkan dengan terlalu sederhana dan sama
sekali tidak begitu berarti sehingga dapat
dihilangkan begitu saja.
Meskipun dengan kelemahan-kelemahan
tersebut, Hanung Bramantyo masih mampu
menghadirkan Soekarno dengan kualitas
departemen akting dan tata produksi yang
jempolan. Ario Bayu cukup mampu
menghidupkan karakter Soekarno yang ikonik
tersebut dengan baik. Bukan sebuah
penampilan yang sangat istimewa dan
mengesankan namun jelas bukanlah suatu hal
yang mengecewakan. Departemen akting
Soekarno juga didukung dengan penampilan-
penampilan apik dari Maudy Koesnaedi,
Lukman Sardi, Tika Bravani, Emir Mahira,
Mathias Muchus, Tanta Ginting dan banyak
nama pemeran lainnya.
Tata produksi Soekarno hadir dengan kualitas
yang begitu berkelas. Berkat sokongan
departemen kamera dan artistik yang solid,
Hanung Bramantyo dapat menghadirkan
atmosfer masa-masa perjuangan kemerdekaan
Indonesia denga sangat meyakinkan. Tata musik
arahan Tya Subiakto Satrio masih saja
terdengar terlalu berlebihan pada beberapa
bagian, namun sama sekali bukanlah sebuah
masalah yang berarti bagi kualitas presentasi
film secara keseluruhan.
Hadir dengan dukungan penampilan akting dan
tata produksi yang cukup solid, Soekarno yang
diarahkan oleh Hanung Bramantyo sayangnya
gagal untuk tampil dengan penceritaan yang
kuat. Kehadiran banyaknya konflik tanpa
pengembangan yang mendalam membuat
Soekarno seakan hanya hadir bercerita tanpa
pernah benar-benar mau memberikan
penontonnya peluang untuk memahami
maupun menjalin koneksi emosional dengan
jalan cerita. Walaupun tidak sepenuhnya buruk
– 30 menit terakhir yang berisi adegan detik-
detik menjelang pelaksanaan proklamasi benar-
benar mampu dieksekusi dengan baik.
Sumber ,
Download Film Soekarno: Indonesia Merdeka
(2013) DVDRip MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 2 Jam - 27 Menit - 44 Detik
Size: 352 mb
SS:
Download Single Link:
Click here...
TF: http://www.tusfiles.net/ol4c8494gbs4
Tidak ada komentar:
Posting Komentar