Jumat, 24 Oktober 2014

Annabelle (2014) WEBRip + Subtitle Indonesia

r Review:
Apakah anda sebelumnya memang tahu
bahwa akan ada film dengan judul Annabelle
yang rilis di bioskop? Atau justru anda tahu
ketika sedang membeli tiket dan melihat poster
bergambarkan boneka yang bisa dibilang
menjadi salah satu andalan sutradara bernama
James Wan? Aneh memang, meskipun
menyandang status sebagai saudara, spin-off,
ataupun prekuel dari The Conjuring , namun
hype yang film ini hasilkan tidak begitu besar.
Upaya setengah hati? Atau hanya
memanfaatkan daya jual sang boneka yang
memang masih besar itu? Annabelle, an
undynamic horror with useless main weapon.
John Gordon (Ward Horton) dan istrinya, Mia
Gordon (Annabelle Wallis) mungkin bisa
dikatakan sebagai pasangan yang aneh jika
tidak ingin disebut unik. Mia meminta sebuah
boneka antik yang telah lama ia inginkan
sebagai hadiah menjelang kelahiran anak
perempuan mereka, Leah, dan John dengan
senang hati memenuhi permintaan istrinya
tersebut.
Masalahnya adalah boneka tersebut bukannya
patung plastik berukuran kecil dengan tampang
menarik yang manis dan cantik layaknya Barbie
dan putri-putri di kartun Disney, melainkan
sebuah boneka dengan ekspresi yang
mengerikan. Berawal dari ekspresi, boneka
bernama Annabelle itu mulai membawa hal-hal
mengerikan bagi keluarga Gordon. Sebuah
peristiwa terkait tetangga mereka yang
merupakan pemuja setan menjadi penyebabnya,
dimana ada sesuatu yang tetangga mereka itu
tinggalkan didalam Annabelle, sebuah kutukan.
John memang telah membuang Annabelle ke
tong sampah atas permintaan Mia, namun
ketika mereka telah berada di apartement baru
Mia dan John harus kembali bertemu dengan
Annabelle, karena ternyata boneka dengan
senyuman dan mata yang creepy itu belum
mendapatkan apa yang inginkan dari Mia dan
John.
Memnag sepakat dengan mereka yang
mengatakan bahwa horor merupakan salah satu
genre yang penuh intrik ketika ia dibangun.
Sulit untuk menemukan sesuatu yang murni
baru dari genre ini, cerita yang familiar dari
rumah hantu hingga kerasukan setan, momen-
momen mengejutkan yang diawali dengan
ketenangan, bunyi-bunyi serta sosok-sosok
aneh yang seolah malu-malu untuk
menunjukkan wujudnya, mereka terasa sempit,
dan pada dasarnya para filmmaker di genre
horor mayoritas melakukan daur ulang dengan
sedikit modifikasi kecil yang bahkan terasa
implisit pada karya terbaru mereka, serta
memanfaatkan formula klasik yang masih
menjadi kegemaran penontonnya.
Ya, kegemaran, penonton datang, takut-takuti
mereka dengan menggunakan elemen-elemen
tadi, mereka takut, filmmaker berhasil. Hal
tersebut yang menjadi masalah dari Annabelle,
bukan hanya skala kecil tapi dalam kuantitas
yang besar dan merusak. Semuanya ada, dari
suasana tenang yang creepy, istri yang lemah,
pengusiran setan, hingga aksi bermain hide and
seek, tapi ketimbang duduk nyaman dan
merasa terombang-ambing bersama cerita
dengan terus memasang mode waspada, waktu
justru sering saya habiskan untuk mencoba
merasa terlibat didalam cerita.
Apakah hal tersebut penting? Ya, itu sebuah trik
ketika anda mendapatkan film horor yang
sudah sangat lemah dari segi cerita. Bukan
mengatakan ia harus tidak klasik dan basi, tapi
cara John R. Leonetti menggunakan kisah yang
ditulis oleh Gary Dauberman untuk menarik
masuk penonton kedalam cerita tidak halus,
anda tahu ada boneka mengerikan, anda tahu
ia akan menghantui karakter manusia, dan
anda tahu bencana akan tiba di akhir cerita,
cukup sampai disitu. Yap, tentu saja kita akan
dengan mudahnya memasang ekspektasi pada
boneka tersebut, yang juga menjadi alasan
lahirnya rasa kecewa ketika pada akhirnya kita
tahu bahwa ia tidak lebih seperti tempelan
tanpa guna dan tanpa makna.
Annabelle adalah alasan utama penonton
datang ke teater, Annabelle adalah senjata
utama, tapi disini ia hanya duduk manis tanpa
pernah menebar sensasi yang mumpuni,
menyibukkan kita dengan berbagai hal-hal aneh
yang terjadi pada karakter lain, bahkan hanya
sebatas menebak dan menanti apakah ia akan
mengedipkan matanya. Ini yang terasa sangat
mengecewakan, karena ketika tahu cerita tidak
lebih dari mix-up dari berbagai materi klasik
film horor, kemudian gagal terjebak didalam
atmosfir cerita, harapan terakhir terletak pada
Annabelle itu sendiri yang sayangnya juga tidak
mampu memberikan terror yang menarik.
Tidak mengharapkan ia bergerak untuk
kemudian membunuh layaknya Chucky, ini
bahkan lebih terasa seperti permainan
psikologis, tapi mengapa menciptakan sebuah
film khusus bagi karakter yang mereka
harapkan dapat menjadi ikonik tapi tidak
menaruh upaya menjadikan karakter itu tampak
menarik sebagai prioritas utama?
Dramatisasi yang terlalu over, kejutan-kejutan
yang terlalu murahan dan tidak efektif, closeup
berantakan, sensasi yang miskin, ini adalah
kemasan yang dipaksakan eksistensinya, lebih
sebagai ajang uji coba sembari memanfaatkan
kesuksesan The Conjuring tahun lalu, copy
paste sana-sini dengan sedikit modifikasi,
kemudian taruh sebuah boneka sebagai fokus
utama yang akan mengalihkan atensi penonton
dari betapa kasar dan tidak menariknya alur
cerita yang ia sajikan.
Apakah Annabelle tidak punya hal positif?
Sepuluh menit pertama ia menarik, dan sebuah
scene dengan menggunakan elevator itu harus
diakui berhasil memberikan paranoia baru yang
kuat, selebihnya adalah petualangan ibarat
sebuah mobil yang bermasalah di sistem
pembakaran, terkadang ia berjalan, berhenti,
berjalan lagi, dan berhenti lagi, terasa kasar
dan tidak mengalir untuk memanfaatkan
permainan suasana yang ia punya, tidak
mampu menggenggam kuat atensi penonton
dan menjauhkan mereka dari rasa monoton,
dan celakanya itu hadir dalam penceritaan yang
seperti mencoba untuk terbakar secara
perlahan.
Hal positif lainnya mungkin penampilan cukup
mumpuni dari Annabelle Wallis, yang memang
faktanya tidak punya saingan yang mumpuni
dalam mendominasi cerita setelah Annabelle
yang menjadi senjata utama ditempatkan
sebagai rest area bagi penonton setelah
disibukkan dengan berbagai masalah yang
menimpa Mia.
Overall, Annabelle adalah film yang tidak
memuaskan. Bukan sesuatu yang salah
mencoba memanfaatkan kesempatan yang
tersedia setelah The Conjuring yang sukses itu,
tapi bukan berarti itu hanya sebatas
melemparkan sebuah boneka dengan tampang
menakutkan untuk menghibur penontonnya
bersama berbagai elemen klasik yang dibentuk
tidak dinamis dan terasa setengah hati sehingga
tidak memberikan sensasi yang menarik akibat
eksekusi yang terasa sangat kasar itu. Jangan
heran ketika telah merasa bosan selama satu
jam lebih anda mungkin akan merasa tertipu
setelah tahu Annabelle ternyata adalah boneka
yang berperan sebagai “boneka” pemanis dalam
cerita. Before The Conjuring might be a better
title.

DOWNLOAD

SUB INDO

Tidak ada komentar: