Jumat, 31 Oktober 2014

The Expendables 3 (2014) Quality: BRRip

s The Expendables 3
(2014)
Quality: BRRip & DVDScr
Released 14 August 2014
(Singapore)
Country USA
Language English
Genre Action | Adventure |
Thriller
Director Patrick Hughes
Writers
Sylvester Stallone
(screenplay), Creighton
Rothenberger
(screenplay), 3 more
credits »
Starcast
Sylvester Stallone , Jason
Statham , Jet Li, ,
Antonio Banderas,
Dolph Lundgren, Mel
Gibson , Arnold
Schwarzenegger | See
full cast and crew »
Rating
6.2/10
Ratings: 6,2/10 from
53.352 users
Metascore: 35/100
Reviews: 271 user |
258 critic | 35 from
Metacritic.com
Review:
Film aksi Hollywood berjudul “The
Expendables 3” merupakan fil sekuel ketiga dari
" The Expendables", film ditulis sendiri oleh
Sylvester Stallone yang juga ikut bermain
berperan sebagai tokoh utama bernama Barney,
Christmas ( Jason Statham ) dan sisanya dari
tim datang bertatap muka (face-to-face)
dengan Conrad Stonebanks ( Mel Gibson ), yang
tahun lalu mendirikan The Expendables dengan
Barney.
Dalam sekuel ketiga The Expendables ini, yang
menjadi musuh besar Barney adalah
Stonebanks yang berubah menjadi seorang
pedagang senjata kejam dan yang membuat
Barney terpaksa untuk membunuhnya.
Stonebanks yang menghindari kematian sekali
sebelumnya, sekarang adalah membuat misinya
untuk mengakhiri sekuel film The Expendables.
Cerita demi cerita Barney memiliki rencana
lain. Barney memutuskan bahwa dia harus
melawan darah lama dengan darah baru dan
membawa era baru anggota tim Expendables,
merekrut orang-orang yang lebih muda, lebih
cepat dan lebih tech-savvy. Misi terbaru
menjadi benturan gaya old-school klasik
dibandingkan dengan keahlian teknologi tinggi
dalam pertempuran paling pribadi yang belum
dialami Expendables.
Prekuel:
The Expendables (2010)
The Expendables 2 (2012)
Download Film The Expendables 3(2014 )
BluRay Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 640x272
Durasi: 2 Jam - 06 Menit - 27 Detik
Ukuran: 323 mb
SS:
Download Single Link:
Click here...

DOWNLOAD

SUB INDO

Soekarno: Indonesia Merdeka (2013) Quality: DVDRip

s Soekarno: Indonesia
Merdeka

Released 11 December 2013
(Indonesia)
Country Indonesia
Language Indonesian | English |
Japanese | Dutch
Genre Biography
Director Hanung Bramantyo
Writer Ben Sihombing
Starcast
Ario Bayu , Muhammad
Abbe , Moch. Achir,
Norman R. Akyuwen |
See full cast and crew »
Rating
7.3/10
Ratings: 7,3/10 from
135 users
Reviews: 3 user | 6
critic
Review:
Setelah menggarap Sang Pencerah (2011)
serta membantu proses produksi film Habibie
& Ainun (2012), Hanung Bramantyo kembali
hadir dengan sebuah film biopik yang bercerita
tentang kehidupan presiden pertama Republik
Indonesia, Soekarno. Berbeda dengan sosok
Ahmad Dahlan – yang kisahnya dihadirkan
dalam Sang Pencerah – atau Habibie yang
cenderung memiliki kisah kehidupan yang lebih
sederhana, perjalanan hidup Soekarno – baik
dari sisi pribadi maupun dari kiprahnya di
dunia politik – diwarnai begitu banyak intrik
yang jelas membuat kisahnya cukup menarik
untuk diangkat sebagai sebuah film layar
lebar.
Sayangnya, banyaknya intrik dalam kehidupan
Soekarno itu pula yang kemudian berhasil
menjebak Soekarno. Naskah cerita yang ditulis
oleh Hanung bersama dengan Ben Sihombing
( Cinta di Saku Celana , 2012) seperti terlalu
berusaha untuk merangkum kehidupan
Soekarno dalam tempo sesingkat-singkatnya –
excuse the pun – sehingga membuat Soekarno
seringkali kehilangan fokus penceritaan dan
gagal untuk bercerita serta menyentuh subyek
penceritaannya dengan lebih mendalam.
Penceritaan Soekarno dimulai ketika Soekarno
(Ario Bayu) bersama dengan istrinya, Inggrit
Ganarsih (Maudy Koesnaedi), dibuang oleh
pihak Belanda ke Ende, Pulau Flores, Nusa
Tenggara Timur dan ke Provinsi Bengkulu
akibat pledoinya tentang kemerdekaan
Indonesia yang dikenal dengan sebutan
Indonesia Menggugat dianggap mengancam
keberadaan Belanda di Indonesia. Di Bengkulu,
Soekarno istirahat sejenak dari keriuhan dunia
politik dan menghabiskan waktunya dengan
mengajar para pemuda di provinsi tersebut.
Meskipun telah memiliki istri, Soekarno tidak
dapat menghindarkan hatinya dari rasa suka
terhadap salah satu muridnya, Fatmawati (Tika
Bravani). Hal ini jelas kemudian menghasilkan
kemelut dalam rumah tangga Soekarno dan
istrinya. Di tengah kemelut tersebut, Jepang
kemudian berhasil menggeser posisi Belanda
dan menduduki tanah Indonesia. Oleh Jepang,
Soekarno kemudian dibebaskan dari masa
pembuangannya. Ia lantas memilih untuk
kembali ke dunia politik dan secara perlahan
menyusun rencana untuk mengejar
kemerdekaan dari negara yang begitu
dicintainya.
Pada awalnya, Soekarno bersikap sangat
permisif terhadap kedatangan pihak Jepang di
Indonesia – sebuah sikap yang ditentang oleh
dua lawan politiknya, Mohammad Hatta
(Lukman Sardi) dan Sutan Syahrir (Tanta
Ginting). Hatta dan Syahrir bahkan
mengingatkan Soekarno bahwa pendudukan
Jepang tidak akan kalah bengisnya dengan
penjajahan Belanda.
Namun, Soekarno sendiri beragumen bahwa
Indonesia harus mampu memanfaatkan
keberadaan Jepang untuk merebut
kemerdekaan mereka sendiri – sebuah argumen
yang kemudian berhasil memenangkan hati
Hatta. Meskipun banyak dicemooh oleh
kelompok pemuda progresif karena dinilai
terlalu lemah terhadap Jepang, keyakinan
Soekarno dan Hatta tidaklah goyah. Bersama
Hatta, Soekarno berupaya mewujudkan cita-
citanya mewujudkan kemeredekaan Indonesia.
Seandainya Hanung Bramantyo dan Ben
Sihombing mau memilih beberapa konflik
dalam kehidupan Soekarno dan
mengembangkannya lebih dalam lagi sebagai
sebuah presentasi cerita, mungkin alur
penceritaan Soekarno akan dapat berjalan lebih
efektif. Kehadiran banyaknya konflik dalam
penceritaan Soekarno jelas membuat film ini
tidak mampu memberikan penggalian yang
lebih kuat pada masing-masing konflik.
Hasilnya, banyak diantara konflik tersebut yang
terkesan tumpang tindih, tersaji dengan kurang
matang dan akhirnya membuat Soekarno gagal
dalam menjalin hubungan emosional dengan
penontonnya.
Penonton seperti hanya datang untuk
menyaksikan deretan reka ulang berbagai
peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sang
karakter utama tanpa pernah benar-benar
dilibatkan untuk dapat merasakan bagaimana
perjalanan emosi yang dirasakan sang karakter
utama ketika melewati deretan peristiwa
tersebut. Hadirnya banyak konflik dalam jalan
penceritaan Soekarno yang dipaparkan dalam
durasi 150 menit ini jelas juga menumbuhkan
banyaknya kehadiran karakter-karakter dalam
jumlah yang cukup besar.
Sayangnya, sama dengan kondisi penceritaan
yang gagal untuk tersaji secara matang dengan
sempurna, karakter-karakter yang muncul
dalam alur penceritaan Soekarno juga
seringkali hadir tanpa porsi maupun peran
penceritaan yang berarti, termasuk beberapa
karakter dengan bagian penceritaan yang
sebenarnya cukup potensial untuk
dikembangkan dengan lebih baik seperti
karakter Muhammad Hatta maupun dua
karakter istri Soekarno, Inggrit Ganarsih dan
Fatmawati.
Jika saja naskah cerita Soekarno dapat tertata
dengan lebih sederhana dan efektif, mungkin
banyak pemeran film ini yang akan dapat
memberikan penampilan yang lebih kuat – dan,
tentunya, durasi film juga akan hadir jauh lebih
singkat. Hanung Bramantyo juga sepertinya
mengalami kesulitan dalam membagi porsi
kisah kehidupan pribadi karakter Soekarno
dengan kisah perjuangannya di dunia politik.
Seringkali, porsi penceritaan kehidupan pribadi
dari karakter Soekarno hadir dalam pengisahan
yang terbatas sehingga justru mengganggu
keseimbangan alur kisah mengenai perjuangan
politik dari karakter Soekarno.
Sejujurnya, tidak seperti Habibie & Ainun yang
mampu memanfaatkan kisah asmara sang
karakter utama untuk mengembangkan potensi
drama romansa dari jalan cerita secara
keseluruhan, kisah romansa dari karakter
Soekarno dalam film ini sama sekali tidak
pernah memberikan daya tarik yang kuat.
Dipaparkan dengan terlalu sederhana dan sama
sekali tidak begitu berarti sehingga dapat
dihilangkan begitu saja.
Meskipun dengan kelemahan-kelemahan
tersebut, Hanung Bramantyo masih mampu
menghadirkan Soekarno dengan kualitas
departemen akting dan tata produksi yang
jempolan. Ario Bayu cukup mampu
menghidupkan karakter Soekarno yang ikonik
tersebut dengan baik. Bukan sebuah
penampilan yang sangat istimewa dan
mengesankan namun jelas bukanlah suatu hal
yang mengecewakan. Departemen akting
Soekarno juga didukung dengan penampilan-
penampilan apik dari Maudy Koesnaedi,
Lukman Sardi, Tika Bravani, Emir Mahira,
Mathias Muchus, Tanta Ginting dan banyak
nama pemeran lainnya.
Tata produksi Soekarno hadir dengan kualitas
yang begitu berkelas. Berkat sokongan
departemen kamera dan artistik yang solid,
Hanung Bramantyo dapat menghadirkan
atmosfer masa-masa perjuangan kemerdekaan
Indonesia denga sangat meyakinkan. Tata musik
arahan Tya Subiakto Satrio masih saja
terdengar terlalu berlebihan pada beberapa
bagian, namun sama sekali bukanlah sebuah
masalah yang berarti bagi kualitas presentasi
film secara keseluruhan.
Hadir dengan dukungan penampilan akting dan
tata produksi yang cukup solid, Soekarno yang
diarahkan oleh Hanung Bramantyo sayangnya
gagal untuk tampil dengan penceritaan yang
kuat. Kehadiran banyaknya konflik tanpa
pengembangan yang mendalam membuat
Soekarno seakan hanya hadir bercerita tanpa
pernah benar-benar mau memberikan
penontonnya peluang untuk memahami
maupun menjalin koneksi emosional dengan
jalan cerita. Walaupun tidak sepenuhnya buruk
– 30 menit terakhir yang berisi adegan detik-
detik menjelang pelaksanaan proklamasi benar-
benar mampu dieksekusi dengan baik.
Sumber ,
Download Film Soekarno: Indonesia Merdeka
(2013) DVDRip MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 2 Jam - 27 Menit - 44 Detik
Size: 352 mb
SS:
Download Single Link:
Click here...
TF: http://www.tusfiles.net/ol4c8494gbs4

ALTERNATIF

Rabu, 29 Oktober 2014

Dawn of the Planet of the Apes (2014) Quality: WEB-DL + sub indo

. Dawn of the Planet of
the Apes
(2014)
Quality: WEB-DL & TS
Released 10 July 2014
(Singapore)
Country USA
Language English
Genre Action | Drama | Sci Fi
Director Matt Reeves
Writers Mark Bomback , Rick
Jaffa , 4 more credits »
Starcast
Gary Oldman , Keri
Russell , Andy Serkis |
See full cast and crew »
Rating
8.1/10
Ratings: 8,1/10 from
122.485 users
Metascore: 79/100
Reviews: 477 user |
417 critic | 48 from
Metacritic.com
Review:
Dawn of the Planet of the Apes menjadi bukti
terbaru bagaimana sebuah film dengan status
blockbuster yang hadir di periode summertime
tetap mampu atau dapat memberikan hiburan
yang menyenangkan tanpa harus secara total
mengesampingkan substance demi style, tanpa
perlu mengorbankan dirinya untuk tampil
kelewat “bodoh” agar dapat menyenangkan
penontonnya. Tidak perlu penjelasan panjang
lebar di paragraf pembuka ini, it’s surely this
year one of the best so far. Welcome to
“modern” blockbuster era btw. Dawn of the
Planet of the Apes, a very good humanity
message from simple friction between humans
and speaking monkeys. Engaging.
Virus yang dicanangkan oleh boss Will (James
Franco) itu ternyata benar-benar terwujud,
peradaban manusia kemudian rusak akibat
virus ALZ-113 yang juga membawa dampak
buruk yang jauh lebih besar. Kini kekuasaan
manusia mulai digantikan oleh para Apes yang
di kota San Fransisco dibawah komando
simpanse karismatik, Caesar (Andy Serkis),
telah memperkuat habitat dan juga wilayah
kekuasaan mereka di Muir Woods, lokasi yang
celakanya juga menjadi tempat dimana
bendungan yang dapat menjadi sumber daya
bagi jaringan listrik seluruh kota berada.
Hal tersebut yang menjadi kendala bagi
Malcolm (Jason Clarke), yang bersama Ellie
(Keri Russell), Alexander (Kodi Smit-McPhee)
serta beberapa rekan lainnya ditugaskan oleh
pria bernama Dreyfus (Gary Oldman) untuk
masuk kedalam hutan dan kemudian
mengaktifkan kembali bendungan tersebut.
Caesar, Koba (Toby Kebbell), dan beberapa
sosok penting kawanan Apes lainnya pada
dasarnya juga ingin menjaga perdamaian,
namun sayangnya hadirnya faksi lain dengan
tujuan yang berbeda membawa cobaan bagi
komitmen terhadap perdamaian yang mereka
ciptakan sebelumnya itu.
Dawn of the Planet of the Apes adalah film
bunglon, ia punya berbagai warna cerita yang
berhasil ditampikan dengan baik dan seimbang
di dalam satu kemasan, dan kombinasi diantara
mereka terasa variatif serta menyegarkan. Ini
pada dasarnya masih merupakan sebuah film
tentang perang dimana cerita yang ditulis oleh
Mark Bomback, Rick Jaffa, dan Amanda Silver
tetap mengacu pada tujuan utama karakter
untuk menyelamatkan dunia, tapi yang menarik
adalah ia tidak serta merta dengan frontal
menunjukkan misinya tersebut dengan berbagai
ledakan dan aksi heroik yang menyesakkan
layar.
Matt Reeves menjadikan film ini lebih kepada
permainan perasaan bagi para penontonnya,
bercerita tentang kehancuran tanpa harus
menghancurkan sejenak kerja otak dari para
penontonnya. Ini yang terasa berani karena
dengan budget yang terhitung besar sejak awal
hingga menjelang showdown di bagian akhir
yang kelak akan terasa seperti sebuah
grandprize itu kesan sederhana tidak pernah
lepas dari Dawn of the Planet of the Apes.
Tanpa rasa takut penonton lebih sering di buat
untuk menunggu disini tapi dalam situasi yang
positif, tidak membawa mereka kedalam
petualangan yang bergerak cepat dengan oktan
tinggi, secara perlahan dan tidak terburu-buru
membangun kembali karakter disertai masalah
yang mereka punya (karakter manusia
berkembang dengan baik disini), memberikan
kedalaman di dua bagian tadi sehingga ketika ia
mulai masuk kedalam bagian yang bertugas
untuk mengeksploitasi adrenalin para penonton
akan memperoleh keseimbangan yang
menyenangkan.
Dawn of the Planet of the Apes ternyata ikut
menerapkan apa yang pada tahun ini sedang
marak dilakukan oleh film-film blockbuster,
menyandingkan style dan substance dengan
manis. Tetap ada elemen otot tapi juga ada otak
yang bermain disini, pesan terkait coexist itu
tidak hanya digambarkan dengan hadirnya
masalah, kehancuran disana-sini, dan
kemenangan, tapi telah di set untuk dibangun
agar dapat menyerap kedalam emosi dan
empati penontonnya, hal yang pada akhirnya
turut menjadikan pesan miliknya semakin kuat.
Anda bahkan akan dibuat bingung, siapa yang
harus didukung karena tercipta hubungan yang
menarik serta kepedulian yang sama besar
pada dua sisi perjuangan yang secara cerdas di
perlakukan dengan sangat bijaksana oleh Matt
Reeves itu.
Tapi tenang, Dawn of the Planet of the Apes
tidak serumit yang anda bayangkan setelah
membaca bagian di atas tadi. Memang tidak
ada ledakan penuh kesibukan skala super besar,
cenderung tenang malah, tapi penonton tetap
akan memperoleh pengalaman sinematik yang
mengesankan disini, sebuah seni CGI yang
sangat rinci sehingga menjadikan karakter
terasa sangat nyata. Ya, sangat nyata, bahkan
ini juga berpotensi sedikit mengganggu mereka
yang terlibat terlalu dalam dan intim pada
cerita, karakter yang believeable serta
relationship yang kuat dibalik teknik bercerita
yang terkesan sederhana itu menyebabkan
masalah yang bertumpu pada persoalan moral
tadi tidak pernah berhenti memanfaatkan script
kuat yang menopangnya untuk terus bermain-
main di layar dan juga pikiran penonton.
Apakah tidak ada nilai minus? Ada, Dawn of the
Planet of the Apes adalah film segmented.
Tidak ekstrim, tapi mereka yang tidak suka
dengan film yang menuntut kesabaran dan
investasi sambil menantikan datangnya babak
akhir, ini akan terasa membosankan. Apalagi
dinamika yang ia punya juga bukan tipe
rollercoaster, lebih kepada tight dalam level
stabil sejak awal hingga akhir, berpotensi
menjemukan meskipun tetap ditemani dengan
visual menarik, berisikan realisme pada
kebencian, konfrontasi, ketakutan, ketegangan,
kegembiraan, hingga drama yang manis, intim
namun tetap intens dengan keseimbangan yang
pas pada bagian besar dan bagian kecil cerita
yang oleh Matt Reeves terus dijaga untuk tidak
melewati batas sehingga tidak menimbulkan
kesan yang berlebihan.
Dua jempol tentu layak diberikan pada kinerja
tim visual efek, tapi tanpa kinerja yang baik
dari Andy Serkis serta pemeran Apes lainnya,
Dawn of the Planet of the Apes mungkin tidak
akan sekuat ini. Para Apes yang memegang
kendali utama di film ini berhasil menyajikan
sebuah kehidupan dan gejolak yang charming
dan manis, menjadikan karakter mereka berdiri
sejajar dengan karakter manusia.
Apakah akting pada motion capture dapat
berpartisipasi di Oscar? Dan disisi lainnya film
ini juga berhasil memperbaiki hal minus pada
karakter manusia yang dimiliki oleh Rise of the
Planet of the Apes, berkembang tapi dalam
kadar yang pas dimana Gary Oldman menjadi
scene stealer. Overall, Dawn of the Planet of
the Apes adalah film yang memuaskan. Dimulai
dan diakhiri dengan sepasang mata yang
konstan menatap tajam kearah penontonnya,
Dawn of the Planet of the Apes bukan hanya
berhasil menjalankan tugasnya sebagai film
blockbuster dengan sajian visual yang
memuaskan tapi disisi lain ia juga mampu
bercerita dengan sama baiknya.
Dari perang, hadir gesekan, terus bertumpu
pada pesan moral dan perdamaian, ini adalah
sebuah kritik atau mungkin tamparan tajam
yang dikemas dengan cerdas ditujukan kepada
mereka yang masih menganggap perang sebagai
sesuatu yang biasa, dan moral bukan hal
penting lagi dalam dunia modern sekarang ini.
So, dimana posisi anda, berada dibawah
perilaku para monyet ini, atau berada
diatasnya? Jika anda saat ini masih melihat
kearah atas, I hope someday you'll join us.
Sumber ,
Download Film Dawn of the Planet of the Apes
(2014) WEB-DL Subtitle Indonesia MP4 High
Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 2 Jam - 10 Menit - 25 Detik
Ukuran: 335 mb
SS:K
Download Single Link:
TUSFILES

ALTERNATIF

SUB INDO

Guardians of the Galaxy (2014) + sub indo

Guardians of the
Galaxy
(2014)
Quality: R6
Released 1 August 2014 (USA)
Country USA | UK
Language English
Genre Action | Adventure |
Sci Fi | Fantasy
Director James Gunn
Writers
James Gunn, Nicole
Perlman , 2 more
credits »
Starcast
Chris Pratt , Vin Diesel ,
Bradley Cooper | See
full cast and crew »
Rating
8.5/10
Ratings: 8,5/10 from
228.686 users
Metascore: 76/100
Reviews: 718 user |
468 critic | 46 from
Metacritic.com
Review:
Saat pertama kali Marvel mengumumkan
akan hadirnya Guardians of the Galaxy
mungkin yang terlintas di pikiran adalah
pertanyaan “untuk apa?” Mereka sudah punya
The Avengers, empat diantara anggota tim itu
bahkan sudah punya film mandiri masing-
masing. Mungkin terasa pesimis pada film ini
dengan penilaian ini hanya upaya Marvel untuk
meraih keuntungan semata, tapi kalau kamu
punya pemikiran yang sama segera buang jauh-
jauh hal itu, karena dengan konsep yang jauh
lebih ringan Guardians of the Galaxy berhasil
menjadi film terbaik Marvel setelah The
Avengers , bahkan nearly side by side.
Peter Quill (Chris Pratt), pria dengan panggilan
Star-Lord yang dibesarkan oleh kelompok
pencuri bernama The Ravagers sejak ia masih
kecil harus masuk kedalam sebuah masalah.
Sebuah bola bernama Orb yang ia curi ternyata
menjadi incaran Ronan (Lee Pace), anggota
Kree yang hendak menghancur musuh-
musuhnya. Hal itu yang memaksa Quill untuk
bergabung bersama dengan Gamora (Zoe
Saldana), Dax (David Bautista), Rocket (Bradley
Cooper), dan Groot (Vin Diesel), membentuk
sebuah tim aneh untuk berusaha menggagalkan
usaha Ronan.
Kalau anda mengikuti Marvel Cinematic
Universe beberapa diantara mereka tampak
mulai di set untuk sedikit merubah gaya
mereka menjadi sedikit lebih serius dalam
bercerita meskipun tidak begitu ekstrim. Hal
itu yang menjadikan cerita yang ditulis oleh
James Gunn dan Nicole Perlman ini terasa
menyenangkan, karena Guardians of the Galaxy
seperti ingin menjadi film superhero yang
murni ingin agar kehadiran mereka sebagai
tempat bersenang-senang, tentu saja tetap
dengan mengemban tugas sebagai sumber
waralaba serta membuka potensi untuk
semakin memperluas Marvel Cinematic
Universe sendiri.
Pola yang dipakai sama, beberapa bahkan
hafalan, tapi Marvel kembali berhasil
memberikan pukulan kepada mereka yang telah
pesimis sejak awal. Benar, termasuk saya
pastinya, dan ketika ekspektasi kamu tidak
begitu tinggi rasa puas yang kamu dapatkan
akan menjadi sebuah kejutan yang tak
terlupakan. Guardians of the Galaxy masuk
kedalam kategori itu, sinopsis berisikan orang
buangan, tanaman, hewan, bersatu untuk
berjalan dalam pola yang klasik, melarikan diri,
kemudian mencari target, dan dibumbui
dengan sedikit hal personal, bukan hanya
tampak tapi memang ceritanya itu sendiri
terasa standard bahkan mungkin akan terasa
murahan, tapi keputusan untuk tidak
menjadikan ini terlalu serius berhasil
menghapus kemampuan hal tadi untuk
mengganggu penontonnya bersenang-senang.
Tapi tunggu dulu, itu memang telah di set oleh
Marvel, menjadi menyenangkan tanpa harus
tampil terlalu serius. Ya, sangat mudah untuk
menilai bahwa Guardians of the Galaxy tidak
memberikan petualangan yang terlalu serius,
plot murahan dan sedikit kurang konsisten,
karakter yang tidak begitu kuat ketika berdiri
sendiri dan seolah murni mengandalkan ciri
khas yang mereka punya untuk menarik
perhatian, beberapa karakter dan tujuan
bahkan terasa terbuang akibat kesan terburu-
buru yang hadir.
Tapi Guardians of the Galaxy punya nyawa,
punya pesona yang mereka bentuk dari
chemistry antar karakter, tik-tok yang mereka
punya baik, dialog berisikan banyak humor juga
mayoritas mampu bekerja, memang akan
terkesan dangkal tapi Guardians of the Galaxy
berhasil membuktikan bahwa sebuah film
superhero bisa menjadi hiburan yang
menyenangkan hanya dengan mengandalkan
keunikan yang mereka punya.
Para aktor juga layak mendapatkan kredit.
Chris Pratt yang menjadi pemimpin sangat
berhasil tampil seimbang, bisa lucu dengan hal-
hal sarkasme, tapi juga mampu menciptakan
kesan tangguh dari karakternya. Tim antagonis
seperti Lee Pace dan Karen Gillan juga tidak
begitu buruk, bisa memberikan tekanan dari
sisi lain pada cerita. Yang menarik disini adalah
pengisi suara, Vin Diesel yang monoton tapi
menjadikan momen karakternya termanfaatkan
dengan baik, serta Bradley Cooper dengan
suaranya yang terasa sangat hidup terutama
pada momen humor.
Guardians of the Galaxy dalam sebuah kalimat,
sangat menyenangkan. Chemistry dari ensemble
cast yang berkembang dengan baik berhasil
menutup nilai minus yang dimiliki aksi mondar-
mandir cerita yang sesungguhnya tidak begitu
buruk, ditemani dengan beberapa
pemandangan dan sinematografi berkat kinerja
CGI yang oke, keseimbangan sisi roman, drama,
dan komedi dengan humor-humor miliknya
yang lezat, terima kasih layak diberikan kepada
Marvel karena sikap mereka untuk tidak
menerapkan aturan yang begitu ketat pada
kemasan ini kita dapat memperoleh
petualangan luar angkasa yang seru, lucu, dan
sangat menyenangkan.
Sumber ,
Download Film Guardians of the Galaxy (2014)
R6 Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 53 Menit - 07 Detik
Size: 235 mb
SS:
Download Single Link:

TUSFILES

SHAREBEST

SUB INDO

The White Haired Witch of Lunar Kingdom (白髮魔女傳之明月天國 / Báifà Mónǚ Zhuàn Zhī Míngyuè Tiānguó) (2014) Quality: BRRip + sub indo

The White Haired
Witch of Lunar
Kingdom
(白髮魔女傳之明月天國 /
Báifà Mónǚ Zhuàn Zhī
Míngyuè Tiānguó)
(2014)
Quality: BRRip
Released 25 April 2014 (China)
Country China
Language Chinese
Genre Action | Fantasy |
Romance
Director Zhang Zhiliang
Writer Yusheng Liang
Starcast
Bingbing Fan, Xiaoming
Huang , Wenzhuo Zhao
| See full cast and
crew »
Rating
4.5/10
Ratings: 4,5/10 from
162 users
Reviews: 1 user | 5
critic
Sinosps:
Film ini bersumber pada novel klasik
mengenai seni bela diri karya Liang Yusheng.
Menceritakan pasangan kekasih yang berasal
dari latar belakang yang berbeda. Lian Nishang
salah satu penjahat wanita yang jatuh cinta
terhadap seorang pemimpin Tao, Zhuo Yihang.
Rasa cinta nya yang kuat bakal membawa
perubahan untuk bangsa mereka yang lagi
tertimpa masalah.
Download Film The White Haired Witch of
Lunar Kingdom (2014) BluRay Subtitle
Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 43 Menit - 47 Detik
Size: 245 mb
SS:
Download Single Link:

TUSFILES

SHAREBEST

SUB INDO

The Four 3: Final Battle (四大名捕/Si Da Ming Bu) (2014) Quality: WEB-DL + sub indo

The Four 3: Final
Battle
(四大名捕/Si Da Ming
Bu)
(2014)
Quality: WEB-DL
Released 28 August 2014 (Hong
Kong)
Country China | Hong Kong
Language Mandarin | Cantonese
Genre Action | Drama |
Fantasy
Director Gordon Chan
Writer n/a
Starcast
Ronald Cheng , Collin
Chou , Chao Deng | See
full cast and crew »
Rating
5.2/10
Ratings: 5,2/10 from
58 users
Reviews: 1 user | 3
critic
Sinosps:
The Four 3 (Final Battle) - The Four III akan
menjadi kisah akhir dari trilogi film The Four.
Film yang diangkat dari novel seri karya Woon
Swee Oan ini akan melanjutkan kisah empat
polisi.
Kini pasca kepergian Emotionless (Liu Yifei) ada
yang berubah dari Iron Hands (Collin Chou),
Life Snatcher (Ronald Cheng) dan ColdBlood
(Deng Chao). Ketiganya mendapat misi baru
saat harus pergi menyelamatkan Zhuge
Zhengwo (Anthony Wong) dari Yunshan di
sebuah benteng yang terletak di gunung.
Namun Yushan tidak mudah untuk ditaklukan,
karena ditempat itu keahlian kung fu seseorang
tidak akan bisa digunakan..
Download Film The Four 3: Final Battle (2014)
WEB-DL Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 42 Menit - 19 Detik
Size: 226 mb
SS:
Download Single Link:

TUSFILES

SHAREBEST

SUB INDO

Selasa, 28 Oktober 2014

CARA INSTALL POWERAMP FULL VERSION UNLOCKER v 2.0.9 BUILD 534

Sudah lumayan lama juga ga nglongok blog sendiri yang sangat sepi pengunjung. Iseng saja nih kepingin nulis tutorial aplikasi android yang sudah lumayan jadul, namun buat saya masih yang terbaik sampai saat ini.Tentu saja buat yang penggemar music sudah ga asing lagi dengan Power Amp, tapi masih banyak juga kok yang belum tau cara install secara gratis dan cara customUntuk Poweramp Trial versi 2.0.9-build-534 bisa anda dapat diPlaystore, begitu juga untuk Poweramp Full Version Unlocker nya download langsung dariPlaystoredan tentu saja bisa langsung menikmatinya.Namun bagi yang tidak bisa membelinya karena alasan tertentu bisa install dengansedikit perjuangan dan tentunya perangkat sudah rooted.Link downloadnya:1.Poweramp Trial2.Poweramp Full Version Unlocker3.Lucky PathcerCara pemasanganya mudah saja namun perlu langkah yang tepat untuk menghilangkan verifikasi licensinya.1. Install Poweramp Trial, jangan dibuka dulu.2. Install Poweramp Full Version Unlockernya, jangan dibuka.3. Install Lucky Patchernya juga ga usah dibuka dulu.4. Jalankan Poweramp Trial, ketika ada pesan terimakasih telah bla bla bla, segera tutup aplikasinya.5. Buka Luckypatch dan cari poweramp trial kemudian klik menu patch, seterusnya pilih custom patch dan klik OK.Setelah selesai langsung saja pilih jalankan.6. Bila anda membuka menu pengaturan tidak menjumpai segitiga kuning tanda belum di verifikasi berarti anda berhasil, namun bila ada segitiga kuning anda perlumengulangi langkah instalasi dari awal.Catatan:❖ Jika menemui masalah memory internalpenuh ketika reinstal, hapus file odex poweramp di root sdcard/data/app.❖ Untuk langkah ke 4 sebaiknya dengan menekan tombol multitask, tekan dan tahan aplikasi poweramp sampai muncul opsi, klik app info, selanjutnya tutup paksa(force close). atau bisa juga melalui Task Manager (Samsung).

Minggu, 26 Oktober 2014

Teenage Mutant Ninja Turtles (2014) Quality: WEB-DL + sub indo

Teenage Mutant Ninja
Turtles
(2014)
Quality: WEB-DL & HDCAM
Released 7 August 2014
(Singapore)
Country USA
Language English
Genre
Action | Adventure |
Comedy | Fantasy | Sci
Fi
Director Jonathan Liebesman
Writers
Josh Appelbaum, André
Nemec , 3 more
credits »
Starcast
Megan Fox, Will Arnett,
William Fichtner | See
full cast and crew »
Rating
6.4/10
Ratings: 6,4/10 from
47.165 users
Metascore: 31/100
Reviews: 267 user |
245 critic | 33 from
Metacritic.com
Review:
Teenage Mutant Ninja Turtles yang diciptakan
oleh Peter Laird dan Kevin Eastman di tahun
1983 telah berulang kali hadir dalam medium
yang berbeda-beda, terutama film, kartun, dan
komik. Tahun ini, “Teenage Mutant Ninja
Turtles” (2014) sebagai film reboot berusaha
untuk mengembalikan sosok para kura-kura
ninja ini ke permukaan dengan kisah awalan
baru. Dengan rating PG-13 dan humor yang
melimpah, “Teenage Mutant Ninja Turtles” ingin
mencoba untuk memenuhi ekspektasi penonton
dari rentang usia yang luas.
Sayangnya, dalam usahanya untuk mengemas
diri sebagai tontonan untuk seluruh anggota
keluarga, film ini justru berakhir sebagai
tontonan yang tanggung. Tidak cukup cerdas
untuk memuaskan penonton dewasa yang
sebagian juga merupakan penggemar para
karakter ini sejak kanak-kanak, tetapi juga tidak
cukup mudah dipahami oleh penonton yang
masih kecil. Hasil akhirnya, “Teenage Mutant
Ninja Turtles” menjadi tontonan tanggung
dengan kisah derivatif yang mudah dilupakan.
Dalam film baru ini, diceritakan bahwa New
York yang dirongrong tingkat kejahatan tinggi
berada di bawah teror Shredder dan organisasi
kriminal Foot Clan. Seorang reporter bernama
April O’Neil mencoba untuk menguak berita
besar yang melibatkan Foot Clan dan pencurian
bahan-bahan kimia berbahaya.
Ketika April menyaksikan aksi Foot Clan
digagalkan oleh sosok-sosok misterius, ia pun
mengikuti petunjuk yang ada dan menemukan
bahwa empat kura-kura mutan bernama
Leonardo, Raphael, Michelangelo, dan
Donatello, bersama guru mereka, seekor tikus
mutan bernama Splinter, merupakan pahlawan
yang selama ini diam-diam membantu
menghentikan tindak kejahatan di kota New
York.
Menyadari bahwa Shredder dan Foot Clan
memiliki rencana keji yang akan mengancam
kehidupan warga kota, April dan para kura-
kura ninja ini kemudian harus melawan
Shredder sebelum semuanya terlambat.
Keempat sosok kura-kura ninja yang sudah
sangat dikenal oleh banyak penggemarnya ini
mengalami sedikit pembaruan sesusai dengan
kemajuan jaman, seperti Donatello yang dalam
film ini menjadi tech geek dan mampu
melakukan banyak hal dengan mengandalkan
berbagai gadget canggih. Selera humor yang
selalu melekat dengan para pahlawan mutan ini
tidak dilupakan, disampaikan melalui dialog-
dialog yang diluncurkan oleh Michelangelo
sebagai comic relief. Tak lupa, para kura-kura
pecinta pizza ini juga banyak melontarkan
humor referensi yang berasal dari budaya pop,
sesuatu yang lumayan lucu bagi mereka yang
memahaminya.
Untuk menghidupkan keempat pahlawan ini
dan juga Splinter dalam versi live action,
Industrial Light & Magic menggunakan
teknologi motion capture untuk membuat
gerakan mereka terlihat natural. Dengan
menggunakan koreografi perkelahian dari para
penampil yang ahli bela diri dan bisa parkour,
gerakan yang dihasilkan memang terlihat lebih
halus. Secara visual, penampakan para karakter
ini juga terlihat lebih organik, meski teksturnya
yang photo realistic mungkin bisa membuat
penonton yang masih terlalu kecil takut untuk
menyaksikan kura-kura dan tikus mutan
berukuran besar ini.
Poin yang membuat “Teenage Mutant Ninja
Turtles” masih cukup menghibur untuk
sebagian orang adalah adegan aksinya. Bagi
mereka yang suka aksi bertempo cepat dan
dinamis, adegan perkelahian para kura-kura
ninja ini cukup seru untuk disimak. Set piece
besar yang ada di pertengahan film juga
memberikan poin plus karena tingkat
perencanaannya yang nampak rumit. Meski
demikian, dengan editing yang cepat, kadang-
kadang detail yang ada tidak sepenuhnya dapat
dinikmati karena adegan yang ada begitu cepat
berganti.
Secara keseluruhan, bila Anda tidak
mengharapkan sebuah tontonan serius dan
hanya ingin bernostalgia, “Teenage Mutant
Ninja Turtles” bisa dijadikan pilihan. Tetapi,
ceritanya yang biasa saja dan terkadang
mengingatkan Anda pada film-film terkenal lain
membuat aksi para kura-kura ninja ini jadi
mudah dilupakan. Untungnya, dengan durasi
yang hanya 101 menit, “Teenage Mutant Ninja
Turtles” hadir dalam porsi pas sehingga
ceritanya tidak bertele-tele. Tentu saja,
keputusan untuk menontonnya atau tidak
berada sepenuhnya di tangan Anda. Kalau Anda
memilih untuk tinggal di rumah saja sambil
makan pizza dan menonton kartun lawasnya,
itu pun tidak apa-apa.

DOWNLOAD

SUB INDO

Jumat, 24 Oktober 2014

Annabelle (2014) WEBRip + Subtitle Indonesia

r Review:
Apakah anda sebelumnya memang tahu
bahwa akan ada film dengan judul Annabelle
yang rilis di bioskop? Atau justru anda tahu
ketika sedang membeli tiket dan melihat poster
bergambarkan boneka yang bisa dibilang
menjadi salah satu andalan sutradara bernama
James Wan? Aneh memang, meskipun
menyandang status sebagai saudara, spin-off,
ataupun prekuel dari The Conjuring , namun
hype yang film ini hasilkan tidak begitu besar.
Upaya setengah hati? Atau hanya
memanfaatkan daya jual sang boneka yang
memang masih besar itu? Annabelle, an
undynamic horror with useless main weapon.
John Gordon (Ward Horton) dan istrinya, Mia
Gordon (Annabelle Wallis) mungkin bisa
dikatakan sebagai pasangan yang aneh jika
tidak ingin disebut unik. Mia meminta sebuah
boneka antik yang telah lama ia inginkan
sebagai hadiah menjelang kelahiran anak
perempuan mereka, Leah, dan John dengan
senang hati memenuhi permintaan istrinya
tersebut.
Masalahnya adalah boneka tersebut bukannya
patung plastik berukuran kecil dengan tampang
menarik yang manis dan cantik layaknya Barbie
dan putri-putri di kartun Disney, melainkan
sebuah boneka dengan ekspresi yang
mengerikan. Berawal dari ekspresi, boneka
bernama Annabelle itu mulai membawa hal-hal
mengerikan bagi keluarga Gordon. Sebuah
peristiwa terkait tetangga mereka yang
merupakan pemuja setan menjadi penyebabnya,
dimana ada sesuatu yang tetangga mereka itu
tinggalkan didalam Annabelle, sebuah kutukan.
John memang telah membuang Annabelle ke
tong sampah atas permintaan Mia, namun
ketika mereka telah berada di apartement baru
Mia dan John harus kembali bertemu dengan
Annabelle, karena ternyata boneka dengan
senyuman dan mata yang creepy itu belum
mendapatkan apa yang inginkan dari Mia dan
John.
Memnag sepakat dengan mereka yang
mengatakan bahwa horor merupakan salah satu
genre yang penuh intrik ketika ia dibangun.
Sulit untuk menemukan sesuatu yang murni
baru dari genre ini, cerita yang familiar dari
rumah hantu hingga kerasukan setan, momen-
momen mengejutkan yang diawali dengan
ketenangan, bunyi-bunyi serta sosok-sosok
aneh yang seolah malu-malu untuk
menunjukkan wujudnya, mereka terasa sempit,
dan pada dasarnya para filmmaker di genre
horor mayoritas melakukan daur ulang dengan
sedikit modifikasi kecil yang bahkan terasa
implisit pada karya terbaru mereka, serta
memanfaatkan formula klasik yang masih
menjadi kegemaran penontonnya.
Ya, kegemaran, penonton datang, takut-takuti
mereka dengan menggunakan elemen-elemen
tadi, mereka takut, filmmaker berhasil. Hal
tersebut yang menjadi masalah dari Annabelle,
bukan hanya skala kecil tapi dalam kuantitas
yang besar dan merusak. Semuanya ada, dari
suasana tenang yang creepy, istri yang lemah,
pengusiran setan, hingga aksi bermain hide and
seek, tapi ketimbang duduk nyaman dan
merasa terombang-ambing bersama cerita
dengan terus memasang mode waspada, waktu
justru sering saya habiskan untuk mencoba
merasa terlibat didalam cerita.
Apakah hal tersebut penting? Ya, itu sebuah trik
ketika anda mendapatkan film horor yang
sudah sangat lemah dari segi cerita. Bukan
mengatakan ia harus tidak klasik dan basi, tapi
cara John R. Leonetti menggunakan kisah yang
ditulis oleh Gary Dauberman untuk menarik
masuk penonton kedalam cerita tidak halus,
anda tahu ada boneka mengerikan, anda tahu
ia akan menghantui karakter manusia, dan
anda tahu bencana akan tiba di akhir cerita,
cukup sampai disitu. Yap, tentu saja kita akan
dengan mudahnya memasang ekspektasi pada
boneka tersebut, yang juga menjadi alasan
lahirnya rasa kecewa ketika pada akhirnya kita
tahu bahwa ia tidak lebih seperti tempelan
tanpa guna dan tanpa makna.
Annabelle adalah alasan utama penonton
datang ke teater, Annabelle adalah senjata
utama, tapi disini ia hanya duduk manis tanpa
pernah menebar sensasi yang mumpuni,
menyibukkan kita dengan berbagai hal-hal aneh
yang terjadi pada karakter lain, bahkan hanya
sebatas menebak dan menanti apakah ia akan
mengedipkan matanya. Ini yang terasa sangat
mengecewakan, karena ketika tahu cerita tidak
lebih dari mix-up dari berbagai materi klasik
film horor, kemudian gagal terjebak didalam
atmosfir cerita, harapan terakhir terletak pada
Annabelle itu sendiri yang sayangnya juga tidak
mampu memberikan terror yang menarik.
Tidak mengharapkan ia bergerak untuk
kemudian membunuh layaknya Chucky, ini
bahkan lebih terasa seperti permainan
psikologis, tapi mengapa menciptakan sebuah
film khusus bagi karakter yang mereka
harapkan dapat menjadi ikonik tapi tidak
menaruh upaya menjadikan karakter itu tampak
menarik sebagai prioritas utama?
Dramatisasi yang terlalu over, kejutan-kejutan
yang terlalu murahan dan tidak efektif, closeup
berantakan, sensasi yang miskin, ini adalah
kemasan yang dipaksakan eksistensinya, lebih
sebagai ajang uji coba sembari memanfaatkan
kesuksesan The Conjuring tahun lalu, copy
paste sana-sini dengan sedikit modifikasi,
kemudian taruh sebuah boneka sebagai fokus
utama yang akan mengalihkan atensi penonton
dari betapa kasar dan tidak menariknya alur
cerita yang ia sajikan.
Apakah Annabelle tidak punya hal positif?
Sepuluh menit pertama ia menarik, dan sebuah
scene dengan menggunakan elevator itu harus
diakui berhasil memberikan paranoia baru yang
kuat, selebihnya adalah petualangan ibarat
sebuah mobil yang bermasalah di sistem
pembakaran, terkadang ia berjalan, berhenti,
berjalan lagi, dan berhenti lagi, terasa kasar
dan tidak mengalir untuk memanfaatkan
permainan suasana yang ia punya, tidak
mampu menggenggam kuat atensi penonton
dan menjauhkan mereka dari rasa monoton,
dan celakanya itu hadir dalam penceritaan yang
seperti mencoba untuk terbakar secara
perlahan.
Hal positif lainnya mungkin penampilan cukup
mumpuni dari Annabelle Wallis, yang memang
faktanya tidak punya saingan yang mumpuni
dalam mendominasi cerita setelah Annabelle
yang menjadi senjata utama ditempatkan
sebagai rest area bagi penonton setelah
disibukkan dengan berbagai masalah yang
menimpa Mia.
Overall, Annabelle adalah film yang tidak
memuaskan. Bukan sesuatu yang salah
mencoba memanfaatkan kesempatan yang
tersedia setelah The Conjuring yang sukses itu,
tapi bukan berarti itu hanya sebatas
melemparkan sebuah boneka dengan tampang
menakutkan untuk menghibur penontonnya
bersama berbagai elemen klasik yang dibentuk
tidak dinamis dan terasa setengah hati sehingga
tidak memberikan sensasi yang menarik akibat
eksekusi yang terasa sangat kasar itu. Jangan
heran ketika telah merasa bosan selama satu
jam lebih anda mungkin akan merasa tertipu
setelah tahu Annabelle ternyata adalah boneka
yang berperan sebagai “boneka” pemanis dalam
cerita. Before The Conjuring might be a better
title.

DOWNLOAD

SUB INDO

Wolves (2014) WEB-DL + Subtitle Indonesia

langsung comot...

DOWNLOAD

SUB INDO

Kite (2014) BluRay + Subtitle Indonesia

langsung download aja bro, link download ada di bawaH

DOWNLOAD

SUB INDO

Crows Zero 3: Crows Explode (クローズ EXPLODE, Kurozu Explode) (2014) + sub indo

Review:

Crows Zero 3: Crows Explode adalah sebuah
film action jepang yang di sutradarai oleh
Toshiaki Toyoda,i ni adalah film ketiga yang di
adaptasi dari versi komiknya Crows manga oleh
Hiroshi Takahashi dan sekuel dari crow zero 2
tahun 2009,sebulan setelah peritiwa Crows
zero 2 dan satu semester sebelum event Crows,
film ini semuanya menggunakan pemain dan
karakter baru.
Cerita Crows Explode ini diawali setelah
kelulusan Takiya Genji, nanti dalam Film ini
anda tidak dapat menemukan kehadiran Takiya
Genji atau Tamao Serizawa, tapi jangan
khawatir ada beberapa pemain lawas yang
masih tetap akan bermain seperti Megumi
Hayashida/Rindaman (Motoki Fukami),Katagiri
(Kyosuke Yabe) dan Takashi Makise (Tsutomu
Takahashi).
Pertempuran supremasi untuk mencapai
tingkat kekuasaan tertinggi di sekolah Suzuran ,
seorang murid pindahan Kaburagi Kazeo
(Masahiro Higashide) akan bertarung dengan
Kagami Ryohei (Taichi Saotome) dan juga
konflik antara suzuran dengan Kurosaki
Industrial High Scholl.

DOWNLOAD

SUB INDO

Rabu, 22 Oktober 2014

HERCULES 2014 + sub indo

sinopsis:

Mereka yang menginginkan Hercules dalam
tampilan epik mungkin akan sedikit kecewa,
karena setelah ada sedikit percikan harapan di
bagian awal yang berantakan itu pada akhirnya
Brett Ratner menjadikan ini sebagai sebuah
film action kelas standard. Segala mitologi
Yunani kuno itu perannya cukup minim disini,
begitupula dampaknya, mereka seperti hanya
meminjam sosok Hercules kemudian
memasukkannya kedalam formula klasik film
action modern. Nah, disini anehnya, keputusan
licik untuk tidak mau tampil terlalu rumit dan
terlalu serius itu pula yang menjadikan
Hercules terasa mudah untuk dinikmati.
Cukup mengejutkan memang karena dengan
plot yang mengalir dengan lancar itu Brett
Ratner seperti paham bagaimana
memanfaatkan dengan baik budget besar yang
ia punya. Cerita tumpul, tapi dengan menekan
hingga PG-13 dan kemudian mengimbangi nilai
minus tadi dengan kemeriahan bersenang-
senang, Hercules ia bentuk menjadi kombinasi
aksi, humor, dan tragedi ditemani dengan
visual yang selalu berusaha tampil sibuk untuk
membuat lelah penontonnya. Uniknya ketika
bersatu ada kesan charming dari film ini, dan
bagi mereka yang tidak memasang ekspektasi
tinggi otot, ledakan, dan berbagai aksi
pertempuran itu akan terasa menyenangkan
bersama sedikit drama yang intensitasnya
cukup baik.
Tentu saja tidak megah apalagi jika
membandingkan Hercules dengan film yang rilis
berdekatan dengannya, Guardians of the
Galaxy, tapi dengan penggunaan trik yang licik
Brett Ratner berhasil membuat penontonnya
merasa kesal tapi juga tidak tega untuk
menjatuhkannya terlalu dalam, karena dengan
tidak memilih untuk tampil serius, tidak
mencoba untuk tampil epic, Hercules berhasil
menjadi sebuah film laga yang cukup
menghibur.
DOWNLOAD

SUB INDO

Selasa, 14 Oktober 2014

STRECTH 2014 web-dl + sub indo

Sinopsis:

Supir limo yang sedang berpikir menemukan
cara untuk bisa membayar hutangnya
mendapatkan tawaran untuk menjemput
seorang miliader muda (Chris Pine), tanpa
butuh waktu lama dia mengambil tawaran itu.
Miliader muda itu adalah tipe pria penyendiri
dan memiliki selera yang gila, sopir itu
bersumpah dia akan mengikuti seluruh
kemauan dari pria itu demi mendapatkan tip
yang besar untuk membayar seluruh
hutangnya.
Tapi semakin malam permintaan pria itu bukan
hanya aneh tapi mulai berbahaya, sopir itu
akhirnya khawatir bahwa tarif yang akan dia
dapatkan dari pria kaya di kursi belakangnya
akan menjadi tarif terakhir untuknya.

DOWNLOAD

SUB INDO

Jumat, 10 Oktober 2014

22 Jump Street 2014 blu-ray + sub indo

Review:
Ketimbang menyebutnya sebagai penerus
kesuksesan film pertama yang rilis dua tahun
lalu, 22 Jump Street mungkin terasa lebih layak
menyandang status sebagai silliness recycle
yang berhasil menjalankan tugas beratnya tanpa
harus mengorbankan “image” yang ia punya.
Dengan budget hampir dua kali lebih besar
tidak ada hal baru yang menonjol disini, tapi
apakah itu sebuah keharusan dari sebuah
sekuel? Tidak, karena hal tadi mampu ia tutup
dengan sebuah hiburan identik yang masih
sama menyenangkannya. 22 Jump Street, real-
world version of The Lego Movie, random fun.
Setelah gagal menangkap drug dealers yang
dipimpin Ghost (Peter Stormare), Deputy Chief
Hardy (Nick Offerman) menempatkan kembali
duo mispaired police, Morton Schmidt (Jonah
Hill) dan Greg Jenko (Channing Tatum) untuk
melakukan misi yang lebih mudah dan pernah
mereka berhasil laksanakan dengan baik,
melakukan aksi penyamaran untuk memecahkan
sebuah misteri.
Mereka kembali berada di bawah komando
Captain Dickson (Ice Cube), yang kini sudah
memindahkan tempat kerjanya ke 22 Jump
Street, bahkan telah melakukan update pada
Korean Jesus. Schmidt dan Jenko naik level,
masuk ke sebuah college bernama MC State dan
menyamar sebagai saudara, bertugas untuk
mencari WhyPhy, distributor dari narkoba
mematikan yang diduga menjadi penyebab
kematian seorang mahasiswi.
Tapi ternyata aksi membaur mereka dengan
para mahasiswa, Jenko yang langsung menjadi
BFF pria bernama Zook (Wyatt Russell) karena
keahliannya di football, dan Schmidt dengan
wanita muda, Maya (Amber Stevens) lengkap
dengan roommate yang selalu cemberut
bernama Mercedes (Jillian Bell), ternyata
menjadi penghalang bagi misi utama mereka.
Dibuka dengan kilas balik singkat film
pertamanya, ada sebuah adegan menarik di
bagian pembuka yang berasal dari percakapan
antara Hardy, Schmidt,dan Jenko, sebuah
kalimat dengan inti bahwa usaha
mempertahankan lebih sulit dibandingkan
dengan usaha ketika hendak meraih. Ya, terasa
implisit memang tapi bagian tersebut menjadi
menarik kerena disamping sedikit ucapan
syukur atas keberhasilan film pertamanya ia
juga mengatakan bahwa percobaan kedua selalu
lebih sulit dibandingkan dengan percobaan
pertama terlebih jika ia sebelumnya mampu
meraih kesuksesan.
Itu seperti sebuah alarm yang akan membuat
penontonnya secara spontan menarik mundur
ekspektasi yang telah mereka pasang di level
manapun. Cerdik, mereka seperti memberikan
kejutan berupa sedikit rasa pesimis di bagian
awal untuk menjadikan penontonnya “siap”
dengan hal negatif dari sebuah sekuel sebelum
masuk kedalam pesta sesungguhnya, seperti
sedikit mencuci otak kita untuk tidak berharap
terlalu banyak namun kemudian memberikan
kejutan lainnya yang akhirnya membuat kita
keluar dari pesta tersebut dengan rasa puas
yang sama dengan pendahulunya.
Yap, strategi diawal itu ternyata berhasil karena
pengulangan plot pada film pertama yang
muncul pada naskah yang disusun oleh Michael
Bacall, Oren Uziel, dan Rodney Rothman,
begitupula pada cara Phil Lord dan Christopher
Miller memadukan mereka yang juga masih
bermain pada formula default film pertamanya
berhasil bersatu menjadi sebuah komedi bodoh
yang menyenangkan.
Tidak banyak yang berubah disini, Phil Lord
dan Christopher Miller masih menggunakan
rumus yang sama: plot yang ringan, dangkal,
dan standard, alur yang dominan berisikan hal-
hal gimmick disengaja, hal-hal konyol, bodoh,
apapun itu sebutannya yang silih berganti hadir
dengan liar dalam gerak cepat yang terkendali,
hingga sedikit drama pada dua karakter
utamanya dengan tema persahabatan.
Yang menjadikan tumpukan materi tadi bekerja
dengan baik adalah kemampuan dari Phil Lord
dan Christopher Miller memberikan mereka
waktu untuk beraksi dan mencuri atensi tanpa
harus saling merusak satu sama lain, meskipun
banyak diantaranya tampil dengan membawa
kesan klise bahkan beberapa terasa hambar. Ini
yang aneh, kita tahu ini klise, kita tahu ini
bodoh, kita juga tahu ini dangkal, tapi mereka
tidak mengganggu kenikmatan petualangan
yang mencoba tampil sedikit satir dan kini
sedikit menggeser fokusnya itu.
22 Jump Street bukan sekedar berisikan aksi
prosedurial polisi namun kini mencoba untuk
menggambarkan persahabatan diantara dua
senjata utamanya yang kini diputar posisinya
itu, selalu diwarnai dengan aksi ejek baik
menggunakan fisik maupun verbal dengan
mengandalkan perbedaan diantara mereka
dilengkapi dengan penggunaan split-screen
yang kreatif, hadir dengan komposisi yang pas
sehingga tidak terlalu lembek serta tidak
menguras energi sektor fun lainnya, seperti
adegan aksi.
DOWNLOAD

sub indo

Deliver Us from Evil + sub indo hight quality

Review:

Mungkin manusia akan lebih mudah untuk
berteman dengan kebahagiaan dalam hidupnya
andai saja ada pilihan delete dimana kita dapat
menghapus berbagai kenangan kelam yang
tidak kita inginkan secara permanen, karena
terkadang peristiwa hitam itu yang kerap
menjadi momok “menjengkelkan”. Film ini
berupaya membawa hal tadi dengan
menciptakan kombinasi antara horror, thriller,
dan juga crime, Deliver Us from Evil, a flat
mash-up between crime and exorcism.
Seorang veteran di NYPD bernama Sersan Ralph
Sarchie (Eric Bana) terpaksa harus sering
meninggalkan putrinya, Christina (Lulu Wilson),
dan istrinya, Jen Sarchie (Olivia Munn), karena
tuntutan pekerjaannya untuk menyelesaikan
berbagai kasus kriminal. Pria yang oleh
rekannya Butler (Joel McHale) dijuluki sebagai
“radar” ini pada akhirnya mulai kehilangan
kontrol pada dirinya pada sebuah kasus yang
berawal di kebun binatang, kasus yang
membawa sebuah masalah besar kedalam
hidupnya.
Sumbernya adalah seorang wanita yang dengan
tingkah seperti sedang kerasukan membuat
kehebohan dengan mencoba membunuh anak
laki-lakinya. Namun masalahnya ternyata tidak
sederhana karena apa yang terjadi pada wanita
tersebut punya kaitan dengan peristiwa yang
menimpa pasukan Amerika pada operasi di
sebuah goa di Irak, membawa Ralph menuju
seorang prajurit yang ikut serta dalam operasi
tersebut bernama Santino (Sean Harris), serta
bantuan dari seorang pastor, Mendoza (Edgar
Ramirez).
Jika anda datang dengan harapan utama untuk
memperoleh sebuah film horror yang mampu
menakut-nakuti anda, maka bersiaplah untuk
kecewa karena Deliver Us from Evil memang
punya kemampuan namun tidak mampu
melakukan hal itu. Sangat jauh malah, kita tahu
ada iblis di tengah cerita sebagai fokus utama
masalah yang diciptakan oleh sutradara Scott
Derrickson bersama dengan Paul Harris
Boardman, tapi bagaimana cara ia berjalan
menuju titik akhir exorcism yang telah di set
sejak awal itu tidak punya kesan horror yang
kuat, sering terputus-putus dan melompat
sesuka hati lengkap dengan perputaran yang
monoton.
Imo Deliver Us from Evil lebih layak disebut
sebagai sebuah film thriller dengan balutan
crime lewat aksi prosedurial polisi yang
meminjam topeng horror sebagai jualan utama
tidak lupa dengan pernyataan “berdasarkan
kisah nyata”. Akan menjadi sebuah kekecewaan
bagi mereka yang punya ekspektasi untuk
ditakuti-takuti oleh Scott Derrickson dengan
cara yang sama sederhana seperti yang ia
lakukan di Sinister , meskipun disini ia masih
mampu bermain-main dengan baik bersama
atmosfir tenang yang kemudian disusul oleh
jump scare yang tidak begitu buruk.
Masalahnya ia tidak mampu melakukan hal
yang sama pada cerita, narasi penuh ambisi
yang harus berakhir menjadi satu kesatuan
yang berantakan.
Campur aduk, kekuatan iblis memang menjadi
dasar utama tapi disamping itu hadir pula
beberapa konflik kecil yang celakanya tidak
mampu disatukan dengan baik. Terkesan
dipaksakan, kasar, tindakan kriminal yang
dimaksudkan untuk membawa penonton masuk
kedalam masalah utama tidak dibentuk dengan
menarik, sedikit sentuhan drama dengan unsur
keluarga di dalamnya juga terkesan asal tempel
dan mematikan potensinya, padahal ia dapat
memberikan pengaruh yang cukup besar.
Andai Scott Derrickson mau untuk menjadikan
salah satu diantara mereka menjadi untuk
memiliki kekuatan yang sedikit saja lebih besar
ini dapat menjadi sebuah film crime, atau
thriller, atau horror yang menarik. Yap, atau,
bukan ketiganya dalam kuantitas dan peran
yang sama besar. Hasilnya tidak ada yang
outstanding disini, anda sudah tahu dengan
tema exorcism akan hadir konflik dan sebuah
resolusi dengan formula yang sama, dan dalam
perjalanan menuju bagian akhir anda akan
ditemani dengan perputaran penuh sesak dalam
susunan yang cukup berantakan.
Ambisi besar tadi menyebabkan tiap elemen
cerita tidak punya kesempatan untuk
memperkuat perannya, kerasukan setan,
gangguan yang diperoleh dari stres pasca
trauma, berbagai ide menarik itu terkubur mati
dalam alur yang seolah tidak peduli bahwa
mereka gagal memberikan suguhan yang
mumpuni untuk menjadikan penonton merasa
peduli. Tidak begitu menjadi masalah dengan
materi yang standard dan terkesan “murahan”,
tapi cara ia dibentuk dengan sama murahannya
jelas terasa menjengkelkan.
Kesannya ini hanya jualan momen jump scare,
tanpa urgensi, tidak ada obsesi dan rasa takut
pada karakter dari apa yang terjadi
disekitarnya, penonton lebih sering dibuat
menunggu bersama dengan karakter dan itu
menjengkelkan ketika ia hadir bersama
dinamika yang monoton serta durasi yang
besar, 118 menit.
Hasilnya sekuat apapun Eric Bana, Edgar
Ramirez, dan Olivia Munn membentuk karakter
mereka tidak adanya treat yang baik kepada
penonton yang terkesan terus dipaksa takut
dengan kejutan bersama musik yang keras,
semua terasa kaku dan palsu. Overall, Deliver
Us from Evil adalah film yang kurang
memuaskan. Ambisi yang ia miliki sangat besar,
tapi sejak awal Scott Derrickson tidak mampu
untuk mempertahankan identitas utama film ini
sebagai film horror, dan ketika berbagai
elemen cerita lain mulai menjalankan peran
mereka dalam sebuah kesatuan yang juga
tersusun dengan kurang baik, berbagai hal klise
itu tidak mampu tampil menyenangkan dan
menjadikan Deliver Us from Evil sebagai sebuah
mash-up yang monoton dan membosankan.
langsung comot aja gan
DOWNLOAD
sub indo

Kamis, 09 Oktober 2014

TRICK CELCOM live internet gratis terbaru 2014

ASSALAMUALAIKUM...KETEMU LAGI KITA POST KALI NIH KITA GK USAH STORY PANJANG LEBAR ... KITA TERUS KN, UCWEB ANDROID UNTUK CELCOM LIVE N DEAD... YANG PASTI UC NI BISA DOWNLOAD UNLIMITED MENARIK KN HAHAHA.. SY MEMANH SUDAH TES DI HP SY DAN HASILNYA WORK %100.. BUAT KALIAN YG PENASARAN PENGEN NYOBA LANGSUNG AJA... DOWNLOAD FILE NYA DI BAWAH INI
UCWEB CELCOM LIVE
ATAU
UCWEB CELCOM DEAD
☞SETTING IP PORT CELCOM 3G WAP☜

PROXY ADDRESS: BIAR KOSONG
PORT: BIAR KOSONG
OK LAH GENG SEMOGA TRIK DI ATAS DAPAT MEMBANTU KALIAN..
SEKIAN DAN SALAM

Download Naruto Shippuden 381 Subtitle IndonesiaNaruto Shippuden Episode 381 Subtitle Indonesiaini Berjudul: Pohon Dewa.

Download Naruto Shippuden 381 Subtitle IndonesiaNaruto Shippuden Episode 381 Subtitle Indonesiaini Berjudul: Pohon Dewa. Bercerita tentang munculnya bentuk terakhir dari Juubi dan pertarungan Senju Hashirama melawan Uchiha Madara.

DOWNLOAD

A Walk Among the Tombstones (2014) Quality: HDRip+sub indo

Review:
Apa yang pertama kali melintas di pikiran
anda ketika melihat poster diatas mungkin
adalah sebuah film yang mencoba memberikan
sensasi misteri kejahatan dengan menebar
ketegangan menggunakan adegan aksi bersama
limpahan peluru yang mendominasi. Pistol dan
peluru itu memang ada, namun ternyata hanya
sebagai pemanis dari sebuah action drama yang
bergerak tenang untuk mempermainkan
penontonnya. A Walk Among the Tombstones,
an effective thriller package, which seriously
like walking among the tombstones.
Di awal tahun 90-an seorang officer NYPD
bernama Matthew Scudder (Liam Neeson)
masuk kedalam sebuah kedai untuk menikmati
paket minuman favoritnya. Tidak lama
berselang muncul dua orang pria kedalam kedai
tersebut dan melepaskan tembakan kepada
sang pemilik, situasi yang menciptakan aksi
kejar diantara mereka dengan Scudder yang
langsung bergerak cepat.
Semua pada akhirnya memang berhasil
teratasi, namun sebuah peristiwa tragis
meninggalkan memori kelam bagi Scudder yang
juga menjadi alasan ia melepas statusnya
sebagai aparat keamanan. Tapi ternyata kasus
kriminal belum mau menjauh dari Scudder,
dimana delapan tahun kemudian dengan
statusnya sebagai detektif swasta ia bertemu
dengan Kenny Kristo (Dan Stevens), seorang
pengedar narkoba yang sedang berhadapan
dengan kasus pembunuhan berantai.
Kenny mendapati sang istri diculik, dan setelah
melakukan aksi tawar menawar ia memang
berhasil mendapatkan kembali sang istri,
namun sayangnya dalam kondisi yang
mengenaskan. Kenny ingin Scudder
menemukan penjahat tersebut agar ia dapat
melakukan apa yang mereka lakukan kepada
istrinya.

DOWNLOAD

subtitle

Open Windows (2014) WEB-DL + Subtitle Indonesia

Review:
Nama Sasha Grey memang terlanjur melekat
dengan hal-hal berbau sensual. Hal itu wajar,
mengingat Sasha merupakan mantan bintang
film porno yang banting stir jadi artis
Hollywood. Kemolekan tubuh Sasha juga
sepertinya masih menjadi aset berharga di
setiap filmnya. Tak terkecuali akting Sasha di
film Open Windows. Film besutan sutradara
Nacho Vigalondo ini semakin bernyawa setelah
kemunculan cewek kelahiran 14 Maret 1988
tersebut memerankan tokoh Jill Goddard.
Di luar penampilan panasnya, akting Sasha
rupanya juga menuai banyak pujian. Sorot mata
yang seakan berbicara, serta gestur tubuh
Sasha yang menggairahkan mampu
menyampaikan pesan nakal di film ini tanpa
terlihat vulgar.
Film `Open Windows` bercerita tentang
pemuda bernama Nick Chamber yang
mengagumi sosok Jill Goddard. Ia bahkan
mengikuti sebuah lomba dan memenangkan
hadiah untuk makan malam bersama Jill.
Namun harapan itu kandas setelah seorang pria
bernama Chord menelepon dan mengabarkan
jika hadiah itu akan dibatalkan oleh Jill.
Keseruan dimulai ketika Chord yang mengklaim
sebagai hacker ulung memberi tawaran
menggiurkan kepada Nick. Chord memberikan
tautan yang dapat meretas akses pribadi Jill.
Dengan mudah, Nick dapat menyadap aktivitas
Jill mulai dari ponsel hingga webcam. Hingga
akhirnya, nyawa Jill terancam oleh kehadiran
Chord sendiri.
`Open Windows` mampu menyentil penonton
agar lebih waspada terhadap internet yang
memiliki kemampuan menakutkan. Segala
aktivitas dan keberadaan orang tertentu,
rupanya dapat dipantau para hackers yang
telah menguasai perangkat tertentu.

DOWNLOAD

subtitle

Download Film Horns (2013) WEB-DL

e Review:
Film Horns merupakan adaptasi dari novel
fantasi dengan judul yang sama karya dari Joe
Hill. Film ini menceritakan mengenai Ignatius
Perrish yang diperankan oleh Daniel Radcliffe,
seorang pria yang menjadi tersangka
pemerkosaan dan membunuh kekasihnya,
Merrin yang diperankan oleh Juno Temple.
Dia menyadari kematian sang kekasih setelah
mabuk semalaman. Dilanda depresi berat
karena kehilangan sang kekasih, kejadian aneh
kembali dialaminya, Ignatius menyadari kalau
sesuatu tumbuh di bagian kepalanya yakni
tanduk.
Ternyata tanduk tersebut dapat memberikannya
kekuatan untuk mengetahui dan memaksa
orang-orang mengakui dosa terhadapnya.
Dibawah pengaruh iblis, dia mencari orang-
orang yang bertanggung jawab atas kematian
kekasihnya dan membalas dendam.
Film ini digarap oleh Alexandre Aja yang
terkenal sebagai sutradara spesialis horror
yang pernah menggarap film Piranha 3D dan
The Hills Have Eyes , selain itu ada Keith Bunin
sebagai penulis naskahnya. Selain Daniel
Radcliffe dan Juno Temple, film ini turut
dibintangi oleh Max Minghella, James Remar,
Joe Anderson, dan Kelli Garner.

DOWNLOAD

alternatif

Iron Man and Captain America: Heroes United (2014) WEB-DL

gk usah banyak bacot!! langsung comot aja bro.

EMBAT

Man of Steel (2013) BluRay

sinopsis:
Dikisahkan, Superman, yang oleh orangtua kandungnya,
Jor-El (Russell Crowe) dan Lara Lor-Van (Ayelet Zurer),
diberi nama Kal-El, terlahir di sebuah planet bernama
Krypton di masa-masa planet tersebut sedang
menghadapi dua masalah besar: Krypton berada di
ambang kehancuran dan pimpinan militer planet
tersebut, General Zod (Michael Shannon), sedang
melakukan kudeta terhadap para pemimpin planet –
yang kemudian berusaha digagalkan Jor-El. Jor-El dan
Lara Lor-Van sendiri kemudian mengirimkan Kal-El ke
Bumi demi keselamatan sang anak.
General Zod yang mengetahui rencana tersebut
kemudian bersumpah untuk mencari Kal-El dan
membalaskan dendamnya. Sesampainya di Bumi, Kal-El
kemudian diadopsi oleh pasangan petani, Jonathan
(Kevin Costner) dan Martha Kent (Diane Lane), dan
memberinya nama Clark Kent (Cooper Timberline/Dylan
Sprayberry/Henry Cavill).
Meskipun Pa Kent berusaha sekuat mungkin untuk
menyembunyikan identitas Clark Kent yang
sesungguhnya, namun secara perlahan, Clark Kent mulai
menyadari bahwa dirinya memiliki sebuah kekuatan
berbeda dari manusia biasa yang sekaligus membuatnya
terasing dari pergaulan luas. Dari titik tersebut, Clark
Kent memulai perjalanan untuk mulai mencari siapa jati
dirinya yang sesungguhnya.
Di saat yang bersamaan, General Zod akhirnya bisa
mengendus lokasi keberadaan sosok yang paling
dicarinya selama ini dan mulai mengerahkan
pasukannya untuk menangkap Kal-El/Clark Kent.
Momen-momen keemasan Man of Steel jelas berada di
bagian awal dan akhir film – plot yang bercerita
mengenai kondisi planet Krypton serta momen ketika
Superman akhirnya berhadapan dengan General Zod.
Sementara itu, bagian pertengahan film, yang
seharusnya menjadi elemen krusial bagi pembangunan
ikatan emosional jalan cerita film ini kepada para
penontonnya, hadir dengan penceritaan yang kurang
mampu tertata dengan baik.
Bagian tersebut memang dihadirkan sebagai alat untuk
penyampaian kisah mengenai bagaimana karakter Clark
Kent menjalani masa pertumbuhannya sebagai warga
Bumi serta perkembangan psikologis sang pahlawan
dalam menemukan kekuatannya. Sayangnya, Man of
Steel seperti berusaha untuk merangkum banyak kisah
kehidupan sang karakter namun gagal untuk
dipresentasikan dengan memuaskan – lebih sering
terasa sebagai kilasan kehidupan karakter Clark Kent
daripada sebagai sebagai sebuah narasi lengkap.
Sebuah keterburu-buruan yang menghilangkan
kesempatan penonton untuk mengenal karakter
Superman secara lebih mendalam sekaligus
meminimalisir keterlibatan Kevin Costner dan Diane
Lane yang sebenarnya tampil cukup emosional di dalam
jalan cerita. Jalan cerita Man of Steel mulai terasa
kembali terorganisir dengan cukup baik ketika film ini
beralih pada paruh ketiga penceritaan dimana karakter
Superman dan General Zod akhirnya saling berhadapan.
Meskipun terdapat beberapa inkonsistensi – karakter
Superman menyarankan seorang penduduk untuk
masuk ke rumahnya agar lebih aman namun di saat
yang sama kemudian dengan leluasa menghancurkan
berbagai gedung yang pastinya berisi banyak umat
manusia saat ia sedang bertarung dengan General Zod,
namun Snyder mampu menggambarkan berbagai
kekacauan yang hadir di sepanjang adegan pertarungan
tersebut dengan baik sekaligus meningkatkan intensitas
jalan cerita yang terlanjur melempem di paruh kedua.
Dukungan tata sinematografi arahan Amir Mokri dan
tata musik Hans Zimmer – yang terdengar begitu
familiar – juga semakin mendukung kepadatan intensitas
film ini. Berbicara mengenai pengarahan Snyder…
well… rasanya sangat jelas bahwa Snyder dalam Man of
Steel terkesan hanyalah sebagai boneka bagi Christopher
Nolan: ia cukup bertugas sebagai pengeksekusi dari
berbagai langkah penceritaan yang telah disediakan
Nolan dan David S. Goyer untuknya – yang sebenarnya
juga mengikuti deretan pola penceritaan mereka pada
trilogi The Dark Knight terdahulu. Mereka yang
mengikuti karir Snyder pasti dapat merasakan bahwa
Snyder meninggalkan seluruh gaya khas pengarahan
filmnya.
Di sisi lain, melihat kehadiran Snyder tanpa berbagai ciri
khas visual pengarahannya, bukankah adalah sangat
miris untuk menyadari bahwa Snyder adalah seorang
sutradara dengan visi serta kemampuan pengarahan
cerita yang… dangkal?
Henry Cavill sendiri memberikan penampilan yang
sangat memuaskan sebagai Clark Kent/Superman. Tidak
hanya memiliki penampilan fisik yang tampan sekaligus
gagah, Cavill juga mampu menghadirkan kharisma
seorang good old fashioned boy next door yang
memang telah menjadi karakteristik seorang Clark Kent/
Superman secara alami. Kemampuan akting Cavill juga
jelas tidak mengecewakan – ia mampu menghidupkan
karakter yang ia perankan dengan baik tanpa pernah
terasa berlebihan dalam menginterpretasikan sosok
pahlawan super yang ia bawakan. Kombinasi kualitas
tersebut secara mudah menjadikan Cavill sebagai
pemeran Clark Kent/Superman yang paling berkharisma
setelah Christopher Reeve.

DOWNLOAD

terbaru X-Men: Days of Future Past (2014)

Review:
Mungkin berlebihan jika mengatakan bahwa X-Men:
The Last Stand dan X-Men Origins: Wolverine hampir
menamatkan riwayat franchise X-Men di layar lebar.
Tapi yang jelas kedua film tersebut memang layak
disebut sebagai yang terburuk dalam franchise ini.
Setelah Brett Ratner merusak segala hal bagus yang
diciptakan Bryan Singer dalam dua film pertama X-Men,
para mutan ini memang baru mendapatkan film yang
layak lagi lima tahun kemudian lewat sebuah reboot/
prequel X-Men: First Class garapan Matthew Vaughn
yang sukses memperkenalkan masa lalu dari Charles
Xavier (Professor X) dan Erik Lensherr (Magneto).
Wolverine pun pada akhirnya mendapat film solo yang
lebih layak lewat The Wolverine .
Sampai pada akhirnya Bryan Singer kembali
menyutradari film X-Men setelah 11 tahun "pergi". Tapi
dia tidak hanya kembali karena film yang ia sutradarai
bisa dibilang merupakan yang terbesar baik dari segi
skala cerita, jumlah karakter, sampai bujet yang
digelontorkan. Ya, Singer kembali dengan membawa
sebuah ambisi besar tidak hanya untuk menciptakan
film X-Men terbesar tapi juga mungkin film superhero
terbesar yang bisa menandingi The Avengers.
Filmnya sendiri mengambil cerita dari komik Days of
Future Past yang terbit tahun 1981 dan dianggap
sebagai salah satu storyline terbaik dalam komik X-Men.
Pada awalnya kita akan dibawa pada era masa depan
yang begitu kelam dimana dunia dikuasai oleh robot-
robot raksasa bernama Sentinel. Pada awalnya Sentinel
diciptakan untuk membunuh mutan, dan itu berhasil
dimana banyak mutan yang akhirnya tewas di tangan
Sentinel.
Tapi lambat laun robot ini juga mulai membunuh
manusia yang dari gen mereka berpotensi mempunyai
keturunan mutan. Dunia pun menjadi tempat yang
begitu mengerikan khususnya bagi para mutan. Para
mutan yang bertahan hidup mulai menyusun rencana
dibawah pimpinan Profesor X (Patrick Stewart). Mereka
pun akhirnya memutuskan untuk mengirim Wolverine
(Hugh Jackman) ke masa lalu tepatnya tahun 1973
dengan bantuan Kitty Pride (Ellen Page) guna
memperingatkan Xavier muda (James McAvoy) tentang
masa depan yang porak poranda tersebut.
Hal itu dilakukan dengan harapan mereka bisa
menghentikan Bolivar Trask (Peter Dinklage) yang pada
tahun 1973 sedang berencana untuk membuat Sentinel.
Tapi tentu saja hal itu tidak mudah dilakukan karena
pada masa itu Xavier tengah dirundung banyak duka,
kehilangan kekuatannya, dan masih bersitegang luar
biasa dengan Erik (Michael Fassbender) yang saat itu
tengah di penjara atas tuduhan pembunuhan terhadap
Presiden JFK.
Days of Future Past sudah dibuka dengan begitu luar
biasa lewat gambaran masa depan yang kelam, penuh
kesengsaraan dan kematian. Bahkan action sequence
pembukanya pun begitu luar biasa meski sama sekali
tidak menampilkan deretan mutan yang sudah punya
nama besar dalam film-film sebelumnya. Tidak hanya
itu, adegan tersebut juga dibalut dengan kebrutalan yang
diatas rata-rata film superhero pada umumnya.
Disinilah kehebatan Bryan Singer benar-benar terlihat.
Disinilah pembeda nyata antara Singer dan Ratner
terpampang jelas.
Disaat Brett Ratner menciptakan kekacauan saat
menumpahkan banyak mutan ke dalam satu film serta
banyak membunuh potensi masing-masing dari
mereka, Singer justru sebaliknya. Meski banyak mutan
baik lama maupun baru yang hadir, masing-masing dari
mereka diberi kesempatan yang sama untuk bersinar
meski kemunculannya tidak banyak seperti Storm atau
Magneto-nya Ian McKellen.
Singer tahu benar potensi tiap-tiap mutan dan
menggunakan itu untuk mengkoreografikan adegan aksi
dengan begitu spektakuler. Hal ini membuat mutan-
mutan yang memang sudah dicintai seperti Wolverine
sampai Magneto-nya Fassbender tetap bersinar tapi
disisi lain mutan baru seperti Blink dan Quicksilver
sanggup mencuri perhatian. Dua nama yang disebut
terakhir memang diluar dugaan sanggup mencuri
perhatian. Sedangkan Quicksilver yang sebelum perilisan
filmnya terlihat kurang meyakinkan ternyata bisa
menjadi mutan yang super keren lewat rambut abu-
abu, walkman, serta tingkah semaunya sendiri itu.
Kini menjadi tugas berat bagi Joss Whedon untuk
menciptakan Quicksilver yang setidaknya tidak kalah
keren dalam Avengers: Age of Ultron. Kabar baiknya,
Days of Future Past bukanlah kemunculan pertama dan
terakhir mereka, karena keduanya akan kembali lagi
dalam sekuel-sekuel berikutnya. Film ini juga masih
punya love/hate relationship dengan chemistry kuat
yang dimiliki McAvoy dan Fassbender.
Hugh Jackman masih memikat seperti biasa lewat
mulutnya yang kadang masih susah dikontrol dan
sering melontarkan lelucon demi lelucon. Jenffier
Lawrence dan Peter Dinklage makin melengkapi jajaran
cast yang bermain luar biasa dalam film ini. J-Law
membuktikan bahwa Mystique bukan hanya sosok
bersisik biru tapi juga dengan kedalaman emosi.
Sedangkan Dinklage sebagai Bolivar mungkin bukan
villain yang mengancam lewat kemampuan fisiknya, tapi
sosoknya tetap bisa menebar ancaman dalam tiap
kemunculannya.
Singer pun berhasil memaksimalkan kapasitas akting
para pemainnya yang seabrek itu dengan
keberhasilannya merangkum aspek drama dalam film
ini. Singer tidak melupakan aspek penting yang sering
ditinggalkan banyak sutradara film aksi, yakni
memberikan karakter yang dipedulikan penonton.
Dengan memberikan hal itu, ketegangan yang tersaji
dalam tiap adegan aksinya pun makin bertambah
karena penonton merasakan kepedulian dan simpati
pada karakter yang ada.
Pada akhirnya, klimaks yang menampilkan pertempuran
di masa lalu dan masa depan sama-sama terasa begitu
luar biasa, lebih cepat, lebih intens, lebih brutal dan
terasa cukup tragis. Begitulah, Singer sukses
menciptakan sebuah film X-Men yang luar biasa. Tapi
keberhasilan Singer bukan hanya itu. Tidak hanya sukses
menciptakan sebuah film X-Men yang bagus, dia juga
sanggup memperbaiki banyak hal yang kacau dalam
universe film X-Men selama ini. X-Men: The Last Stand
memang banyak "mengacaukan" dunia X-Men, dan
Singer memanfaatkan dengan baik tema time travel
yang ada untuk memperbaiki segala kekacauan tersebut.
Dan di akhir credit scene akan menampilkan calon
villain bagi sekuelnya, X-Men: Apocalypse yang akan rilis
tahun 2016. Kabarnya sekuel yang bakal menampilkan
Apocalypse sang mutan tertua di muka bumi tersebut
akan lebih besar dan lebih masif dari Days of Future
Past.
LANGSUNG COMOT

Download Film Singham Returns (2014) DVDRip

sinopsis nya gk usah kali yah :-P langsung download aja deh, nih film lumayan seru loh ;-)

GOROK BRO

subtitle cari sendiri di subscene.com

KICK 2014 dvd.rip

i

Sinopsis:Dalam perjalanan kereta ke Warsawa, psikiater bernama Shaina bertemu dengan Himanshu, seorang perwira polisi dari India dan membahas tentang pernikahan. Keduanya semakin akrab sampai kemudian Shaina mengungkapkan hubungan terdahulunyadengan pria eksentrik bernama Devil yang hidup hanya untuk mencari kegiatan yang menantang adrenalinnya.Setelah sesaat menjalani hubungan asmara, Devil memutuskan Shaina untukmencari kegiatan menantang yang baru dan tak pernah kembali lagi sejak itu. Sementara Himashu menceritakan tentang pengalamannya dalam menangani kejahatan sebagai polisi dan menyebutkan bahwa ia pernah punya tandingan, seorang pencuri yang sangat cerdas.Satu hal yang tak mereka sadari adalah kedua kisah yang mereka ceritakan punya satu kesamaan, Devil. Devil lantaskembali ke kehidupan mereka dengan dalih kehilangan ingatannya. Dibalik itu semua, Devil masih menyimpan misteri dan misi rahasia yang siap membahayakan nyawanya.

DOWNLOAD NOW

klo ada link yg error, segera lapor ke kakek yaa cu :-P

ABCs of Death 2 (2014)

sinopsis:
Terlepas dari banyaknya segmen yang terasa ‘meh‘ ketimbang ‘wah’, tidak bisa dipungkiriThe ABCs of Deathadalah sebuah proyek omnibus ambisius paling sinting yang belum pernah dibuat sebelumnya bahkan pesonanya masih belum bisa ditandingi oleh koleganya macam dwilogiV/H/Syang ironisnya lebih bagus.Seperti pendahulunya, sekuelnya ini masih berisi 26 film pendek bergenre horor fantastic yang dibuat oleh rombongan sineas ‘gila’ dari seluruh penjuru dunia di mana setiap filmaker mendapat satu huruf dari masing-masingalfabet untuk dibuatkan horor pendeknya. Berita gembiranya, secara keseluruhan The ABCs of Death 2 mengalami peningkatan kualitas ketimbang predesesornya.Tidak lagi banyak menghadirkan segmenabusrd dari horor-horor gila Jepang yang menjijikan, meskipun di sisi lain ia juga tidak benar-benar memilik segmen menohok macam “L for Libido” Dibuka dengan salah satu opening credit paling keren tahun ini lengkap , pelajaran mengeja paling berdarah kali ini dimulai oleh “A is for Amateur” dari E. L Katz yang sepertinya tahu benar bagaimana mengimplementasikan premis tentang ekpektasi bisa berbeda sama sekali dengan kenyataan. Segmen yang dimulaidengan keren dan berakhir dengan kekonyolan ber-twist mengejutkan, samasekali tidak buruk untuk bab pembuka meskipun kandungan gore-nya tidak sebanyak A is for Apocalypse milik Nacho Vigalondo dua tahun lalu.Huruf B buat “Badger” milik Julian Barrattdikemas dengan format mokumentari sederhana tentang mahluk penghuni lubang yang tidak pernah terlihat wujudnya jelas harus mengakui kekalahannya dari “C is for Capital Punishment”-nya Julian Gilbey yang punya premis simpel dengan tingkat goreyang membuatmu bergidik, menonton segmen ini seperti sedang menonton proses pemegalan kepala oleh para teroris yang sering beredar di dunia maya.“Deloted” dari Robert Morgan mewakili alfabet “D” mungkin adalah animasi stop-motion paling mengerikan sekaliguspaling sinting yang pernah dibuat, plotnya terasa abusrd tetapi sulit untuk menolak pesonanya yang menjijikan, salah satu favorit di The ABCs of Death 2.Tidak banyak mengumbar horor dan kekejaman, “E is for Equilibrium” dari Aljandro Brugues menjadi tontonan ringan dan kocak tanpa dialog yang menghibur ketika dua sahabat yang tengah terdampar di sebuah pulau terpencil kedatangan teman baru, seorang wanita yang kemudian menghadirkan konflik.“F is for Falling” garapan duo Aharon Keshales dan Navot Papushado adalah segmen terlemah pertama. Bukan tidak menawarkan premis yang bagus, tetapi tanpa memunculkan kesan horor sama sekali mungkin idenya lebih cocok jika dibuat dalam durasi drama yang lebih panjang.Melanjutkan tren yang mulai terasa mengecewakan adalah besutan Jim Hosking, “G is for Grandad” cerita kakek-cucu yang kurang menarik, mesum dan berakhir dengan pemandangan ‘semak belukar’ yang menjijikan. Satu lagi segmen absurd diwakili oleh animasi aneh buatan Bill Plympton dalam “H is for Head Games”.Sineas Filipina Erik Matta unjuk gigi dalam chapter “I is for Invincible” yang jenaka, tentang sekelompok anak-cucu yang tengah berusaha membunuh nenekmereka untuk mendapat warisan. Aromaexorcism dan horor spritual menegangkan mewarnai segmen ke-10, “Jesus” mewakili huruf J dari Dennison Ramalho yang pantas dibuat film panjangnya, sama pantasnya dengan idesci-fi thriller dari “K is for Kneel”-nya Kristina Buozyte dan Bruno Samper yang terasa nanggung karena hanya tampil dalam durasi yang terlewat singkat.Jika tahun lalu segmen “L for Libido” adalah juara dan menjadi salah satu alasan mengapa kamu harus menonton antologi horor ini, maka bersiaplah kecewa karena untuk sekulenya, segmenL harus tampil mengecewakan ketika “L is for Legacy” milik Lancelot Imausen yang membawa cerita ‘Gendurowo’ dari Afrika yang buruk.“M is for Masticate” sedikit banyak sudahmengingatkan kita pada segmen “D is forDogfight” di seri pertamanya yang dipenuhi dengan efek slowmotion, tidak terlalu istimewa meskipun juga tidak buruk. Sementara ada premis menarik tentang sebab-akibat yang kurang digali di “N is for Nexus” milik Larry Fessenden yang dilanjutkan dengan wakil Jepang dalam “O is for Ochlocracy (Mob Rule)” bersama premis zombie yang menyegarkan dari Hajime Ohata.Tod Rohall dengan “P is for P-P-P-P Scary!” mencoba mencairkan suasana dengan komedi horor anehnya yang jujursaja, tidak bekerja, beruntug “Q is for Questionanaire” memberi obat kekecewaan dengan premis tentang tanya jawab berujung ekperimen maut dengan plot tumpang tindih yang menarik.“R is for Roulette” dari Marvin Kren menawarkan plot simpel tentang permaian roulette maut Rusia yang menegangkan dengan twist lumayan di ujungnya. Ada home invasion thriller brutal di “S is for Split” yang efektif memberi kesenangan tersendiri dengan kejutannya.“T is for Torturen Porn” dari si kembar Jendan Sylvia Soska menghadirkan sub-genre body horor yang simpel dan berdarah-darah dari sebuah casting yangdilanjutkan dengan segmen sci-fi “U is forUtopia”-nya Vicenzo Natali yang mungkinlebih cocok dibuatkan versi lebih panjangnya. “V is for Vaction” membawa kembali horor mokumentari, jauh lebih baik dari Deloted dan jauh lebih berdarah-darah. Segmen horor fantasi yang tidak terlalu bagus hadir dalam “W is for Wish” milik Steven Konstanski.Ungkapan “save the best for the last” sepertinya patut disematkan buat The ABCs of Death 2 ketika ia menyimpan tiga segmen terbaiknya di akhir durasi. Dimulai dengan “X is for Xyolophone” dengan kandungan plot simpel dan gore maksimal yang dengan mudah menjadi segmen favorit.Lalu ada “Y is for Youth” lagi-lagi dari sineas Jepang yang dipenuhi dengan kreatifitas sinting yang melibatkan hamburger dan penis rakasasa sebagai simbolisasi dari gejolak kaum muda yangmuak dengan aturan para orangtua mereka. Dan pemungkasnya ada “Z is forZygote”, segmen terbaik dari The ABCs ofDeath 2 milik Chris Nash yang punya premis yang sama sintingnya dengan presentasinya. Sebuah sajian yang akan memaksa penontonnya menjerit puas.
slmt menikmati :-)

langsung comot

Kamis, 02 Oktober 2014

MAKNA AJAL DARI KACA MATA ISLAM

Secara bahasa kata ajal berasal dari kata: ajila–
ya‘jalu–ajal[an]. Menurut al-Khalil al-Farahidi
dalam Kitâb al-‘Ayn dan ash-Shahib ibn ‘Abad
di dalam Al-Muhîth fî al-Lughah, dikatakan
ajila asy-syay‘u ya‘jalu wahuwa âjilun artinya
naqîdu al-‘âjil (lawan dari segera). Dengan
demikian, al-ajal (bentuk pluralnya al-âjalu)
secara bahasa artinya terlambat atau tertunda.
Selain itu, secara bahasa, kata ajal juga
memiliki beberapa makna sebagai berikut:
Ghâyah al-waqti fî al-mawti wa mahalu ad-
dayn wa nahwuhu (akhir waktu pada
kematian dan jatuh tempo utang dan
semacamnya) (Al-Azhari, Tahdzîb al-
Lughah).
Muddah asy-syay‘i (jangka waktu sesuatu)
(Ibn Manzhur, Lisân al-‘Arab; al-Jauhari,
Ash-Shihah fî al-Lughah).
Muddatuhu wa waqtuhu al-ladzî yahillu fîhi
(jangka waktunya dan waktu saat sesuatu
itu berlalu) (Al-Fayumi, Mishbâh al-Munîr).
Jangka waktu yang ditetapkan untuk sesuatu
atau perbuatan (Rawas Qal’ahji, Mu’jam
Lughah al-Fuqahâ’).
Waktu yang ditetapkan untuk habisnya
sesuatu (Abu Hilal al-‘Askari, al-Furûq al-
Lughawiyah).
Dari sini ajal al-insân (ajal manusia) adalah
akhir kehidupan seseorang atau habisnya umur
seseorang. Artinya, saat ajal seseorang itu tiba,
saat itu pulalah kematian datang
menjemputnya.
Di dalam al-Quran kata ajal dan bentukannya
disebutkan sekitar 55 kali. Di antaranya dalam
arti jangka waktu (misal: QS al-Baqarah [2]:
231, 232, 234, 235; al-A’raf [7]: 135); umur
(misal; QS al-A’raf [7]: 34; Yunus [10]: 11, 49);
akhir umur/akhir kehidupan (misal: QS an-
Nahl [16]: 61; Fathir [35]: 45).
Sebab Kematian: Berakhirnya Ajal
Ayat-ayat al-Quran yang qath’i tsubut dan
qath’i dilalah menyatakan secara pasti bahwa
Allah SWT sajalah Zat Yang menghidupkan dan
mematikan. Allah SWT berfirman:
ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻳُﺤْﻴِﻲ ﻭَﻳُﻤِﻴﺖُ
Allah menghidupkan dan mematikan (QS. Ali
Imran [3]: 156).
Al-Quran juga menegaskan hal ini pada banyak
ayat lainnya (lihat QS. al-Baqarah [2]: 73, at-
Tawbah [9]: 116, Yunus [10]: 56, al-Hajj [22]:
6, al-Mu’minun [23]: 80, al-Hadid [57]: 2).
Allah SWT telah menetapkan ajal bagi tiap-tiap
umat maupun individu. Kematian, yaitu
datangnya ajal, telah ditentukan waktunya
sebagai suatu ketetapan dari Allah yang tidak
bisa dimajukan maupun dimundurkan. Allah
SWT berfirman:
ﻭَﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻟِﻨَﻔْﺲٍ ﺃَﻥْ ﺗَﻤُﻮﺕَ ﺇِﻻ ﺑِﺈِﺫْﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻛِﺘَﺎﺑًﺎ ﻣُﺆَﺟَّﻼ
Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati
melainkan dengan izin Allah sebagai ketetapan
yang telah ditentukan waktunya. (QS. Ali Imran
[3]: 145).
ﻣَﺎ ﺗَﺴْﺒِﻖُ ﻣِﻦْ ﺃُﻣَّﺔٍ ﺃَﺟَﻠَﻬَﺎ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺴْﺘَﺄْﺧِﺮُﻭﻥَ
Tidak ada suatu umat pun yang dapat
mendahului ajalnya dan tidak pula dapat
memundurkannya (QS. al-Hijr [15]: 5; al-
Mu’minun [23]: 43)
Pernyataan senada antara lain terdapat dalam
QS. Yunus [10]: 49; an-Nahl [16]: 61 dan QS
al-Munafiqun [63]: 11. Jadi, habisnya ajal atau
datangnya kematian adalah sesuatu yang pasti
(QS al-‘Ankabut [29]: 5). Karena kematian
adalah pasti datangnya maka manusia tidak
akan bisa lari menghindar darinya. Allah SWT
menegaskan:
ﻗُﻞْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺗَﻔِﺮُّﻭﻥَ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻣُﻼﻗِﻴﻜُﻢْ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang
kalian lari darinya tetp akan menemui
kalian.” (QS. al-Jumu’ah [62]: 8).
Allah SWT juga menegaskan:
ﺃَﻳْﻨَﻤَﺎ ﺗَﻜُﻮﻧُﻮﺍ ﻳُﺪْﺭِﻛُﻜُﻢُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕُ ﻭَﻟَﻮْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻓِﻲ ﺑُﺮُﻭﺝٍ
ﻣُﺸَﻴَّﺪَﺓٍ
Di mana saja kalian berada, kematian akan
menjumpai kalian kendati kalian berada dalam
benteng yang tinggi lagi kokoh. (QS. an-
Nisa’ [4]: 78).
Ayat ini menegaskan, jika orang berupaya
menghindar dari kematian—dengan jalan
membentengi diri dari apa saja yang dia
sangka menjadi sebab datangnya kematian
seakan dia berlindung dalam benteng yang
tinggi lagi sangat kokoh sekalipun—maka hal
itu tidak akan bisa menghindarkannya dari
kematian. Sebab, semua yang disangka sebagai
sebab maut itu baik berupa sakit, perang, dsb,
sejatinya bukanlah sebab maut. Semua itu
hanyalah kondisi yang didalamnya kadang
terjadi kematian, namun kadang juga tidak.
Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa satu-
satunya sebab kematian adalah habisnya ajal,
yaitu habisnya jangka waktu yang ditetapkan
untuk manusia; atau datangnya ajal, yaitu
datangnya batas akhir umur manusia. Ketika
itulah, Allah SWT mematikannya dengan
mengutus Malaikat Maut untuk mencabut ruh
dari jasad. (QS. as-Sajdah [32]: 11).
Masalah ajal ini persis seperti masalah rezeki.
Ajal dan umur tiap orang telah ditetapkan oleh
Allah. Allah SWT juga menegaskan tidak akan
memajukan atau menangguhkan ajal
seseorang. Allah tidak akan menambah atau
mengurangi jatah umur seseorang. Dalam QS
al-Munafiqun [63]: 11, Allah mengungkapkan
dengan kata lan yang merupakan penafian
selama-lamanya (Lihat pula QS. Fathir [35]:
11).
Datangnya ajal adalah pasti, tidak bisa
dimajukan ataupun dimundurkan. Berjihad,
berdakwah, amar makruf nahi mungkar,
mengoreksi penguasa, dsb, tidak akan
menyegerakan ajal atau mengurangi umur.
Begitu pula berdiam diri, tidak berjihad, tidak
berdakwah, tidak mengoreksi penguasa, tidak
beramar makruf nahi mungkar, dan tidak
melakukan perbuatan yang disangka berisiko
mendatangkan kematian, sesungguhnya tidak
akan bisa memundurkan kematian dan tidak
akan memperpanjang umur. Semua itu jelas
dan tegas dinyatakan oleh ayat-ayat al-Quran
seperti di atas.
Memang, ada sabda Nabi saw. sebagai berikut:
ﻣَﻦْ ﺳَﺮَّﻩُ ﺃَﻥْ ﻳُﺒْﺴَﻂَ ﻟَﻪُ ﺭِﺯْﻗُﻪُ ﺃَﻭْ ﻳُﻨْﺴَﺄَ ﻟَﻪُ ﻓِﻰ ﺃَﺛَﺮِﻩِ
ﻓَﻠْﻴَﺼِﻞْ ﺭَﺣِﻤَﻪُ
Siapa saja yang suka dilapangkan rezekinya dan
ditambah umurnya hendaklah ia
bersilaturahmi. (HR al-Bukhari, Muslim, Abu
dan Ahmad).
Juga ada beberapa hadis semisalnya. Dalam hal
ini, yang dimaksud dengan pertambahan umur
bukanlah penundaan ajal. Yang bertambah
tidak lain adalah keberkahan umurnya dalam
ketaatan kepada Allah. Bisa juga maknanya
adalah bukan pertambahan umur biologis,
tetapi umur sosiologis, yakni peninggalan,
jejak atau atsar al-‘umri-nya yang terus
mendatangkan manfaat dan pahala setelah
kematian biologisnya. Abu Darda menuturkan
bahwa Rasul saw. pernah bersabda:
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻻَ ﻳُﺆَﺧِﺮُ ﻧَﻔْﺴًﺎ ﺇِﺫَﺍ ﺟَﺎﺀَ ﺃَﺟَﻠُﻬَﺎ، ﻭَﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺯِﻳَﺎﺩَﺓُ
ﺍﻟْﻌُﻤْﺮِ ﺑِﺎﻟﺬُّﺭِﻳَّﺔِ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺔِ ﻳَﺮْﺯُﻗُﻬَﺎ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪَ، ﻓَﻴَﺪْﻋُﻮْﻥَ ﻟَﻪُ ﻣِﻦْ
ﺑَﻌْﺪِﻩِ، ﻓَﻴَﻠْﺤِﻘَﻪُ ﺩُﻋَﺎﺅُﻫُﻢْ ﻓِﻲْ ﻗَﺒْﺮِﻩِ، ﻓَﺬَﻟِﻚَ ﺯِﻳَﺎﺩَﺓُ ﺍﻟْﻌُﻤْﺮِ
Sesungguhnya Allah tidak akan mengakhirkan
(kematian) seseorang jika telah datang ajalnya.
Sesungguhnya bertambahnya umur itu dengan
keturunan salih yang Allah karuniakan kepada
seorang hamba, lalu mereka mendoakannya
sesudah kematiannya sehingga doa mereka
menyusulinya di kuburnya. Itulah
pertambahan umur. (HR Ibn Abi Hatim dikutip
oleh al-Hafizh Ibn Katsir di dalam tafsirnya
QS. Fathir [35] : 11).
Selain anak salih, hadis lain menyatakan bahwa
ilmu yang bermanfaat, sedekah jariah dan
sunnah hasanah juga akan memperpanjang
umur sosiologis seseorang. Pelakunya, meski
telah mati secara biologis, seakan ia tetap
hidup dan beramal dengan semua itu serta
mendapat pahala karenanya.
Dengan demikian, tidak ada gunanya lari dari
maut. Maut juga tidak selayaknya ditakuti
karena pasti datangnya. Sikap takut akan mati
dan berupaya lari dari maut yang pasti datang
bisa dikatakan sebagai sikap bodoh dan upaya
yang sia-sia.
Yang harus dilakukan adalah mempersiapkan
diri menyongsong datangnya maut dan
memelihara diri supaya maut itu datang dalam
kondisi kita sedang menunaikan ketaatan
sehingga kita mendapatkan husnul khatimah.
Inilah sikap cerdas dan upaya yang berdaya
guna. Orang yang paling cerdas adalah orang
yang paling banyak dan paling baik
persiapannya dalam menyongsong datangnya
maut.
Ibnu Umar meriwayatkan, Rasul saw. pernah
ditanya, siapakah Mukmin yang paling cerdas?
Beliau menjawab:
ﺃَﻛْﺜَﺮُﻫُﻢْ ﻟِﻠْﻤَﻮْﺕِ ﺫِﻛْﺮًﺍ ﻭَﺃَﺣْﺴَﻨُﻬُﻢْ ﻟَﻪُ ﺍِﺳْﺘِﻌْﺪَﺍﺩًﺍ ﻗَﺒْﻞَ ﺃَﻥْ
ﻳَﻨْﺰِﻝَ ﺑِﻬِﻢْ ﺃُﻭْﻟَﺌِﻚَ ﻣِﻦْ ﺍْﻷَﻛْﻴَﺎﺱِ
Mereka yang paling banyak mengingat maut
dan paling baik persiapannya untuk
menghadapi maut itu sebelum turun kepada
mereka. Mereka itulah yang termasuk Mukmin
yang paling cerdas. (HR Ibn Majah, al-Hakim,
al-Baihaqi, Abu Nu’aim dan ath-Thabrani).

kesimpulan:
Ajal atau Kematian merupakan suatu
ketetapan yang telah Allah takdirkan kapan
waktunya, tidak bisa dimundurkan dan tidak
bisa dimajukan. Masalah ajal ini persis seperti
masalah rezeki.
Wallahu A’lam bishowab .