Jumat, 10 Oktober 2014

22 Jump Street 2014 blu-ray + sub indo

Review:
Ketimbang menyebutnya sebagai penerus
kesuksesan film pertama yang rilis dua tahun
lalu, 22 Jump Street mungkin terasa lebih layak
menyandang status sebagai silliness recycle
yang berhasil menjalankan tugas beratnya tanpa
harus mengorbankan “image” yang ia punya.
Dengan budget hampir dua kali lebih besar
tidak ada hal baru yang menonjol disini, tapi
apakah itu sebuah keharusan dari sebuah
sekuel? Tidak, karena hal tadi mampu ia tutup
dengan sebuah hiburan identik yang masih
sama menyenangkannya. 22 Jump Street, real-
world version of The Lego Movie, random fun.
Setelah gagal menangkap drug dealers yang
dipimpin Ghost (Peter Stormare), Deputy Chief
Hardy (Nick Offerman) menempatkan kembali
duo mispaired police, Morton Schmidt (Jonah
Hill) dan Greg Jenko (Channing Tatum) untuk
melakukan misi yang lebih mudah dan pernah
mereka berhasil laksanakan dengan baik,
melakukan aksi penyamaran untuk memecahkan
sebuah misteri.
Mereka kembali berada di bawah komando
Captain Dickson (Ice Cube), yang kini sudah
memindahkan tempat kerjanya ke 22 Jump
Street, bahkan telah melakukan update pada
Korean Jesus. Schmidt dan Jenko naik level,
masuk ke sebuah college bernama MC State dan
menyamar sebagai saudara, bertugas untuk
mencari WhyPhy, distributor dari narkoba
mematikan yang diduga menjadi penyebab
kematian seorang mahasiswi.
Tapi ternyata aksi membaur mereka dengan
para mahasiswa, Jenko yang langsung menjadi
BFF pria bernama Zook (Wyatt Russell) karena
keahliannya di football, dan Schmidt dengan
wanita muda, Maya (Amber Stevens) lengkap
dengan roommate yang selalu cemberut
bernama Mercedes (Jillian Bell), ternyata
menjadi penghalang bagi misi utama mereka.
Dibuka dengan kilas balik singkat film
pertamanya, ada sebuah adegan menarik di
bagian pembuka yang berasal dari percakapan
antara Hardy, Schmidt,dan Jenko, sebuah
kalimat dengan inti bahwa usaha
mempertahankan lebih sulit dibandingkan
dengan usaha ketika hendak meraih. Ya, terasa
implisit memang tapi bagian tersebut menjadi
menarik kerena disamping sedikit ucapan
syukur atas keberhasilan film pertamanya ia
juga mengatakan bahwa percobaan kedua selalu
lebih sulit dibandingkan dengan percobaan
pertama terlebih jika ia sebelumnya mampu
meraih kesuksesan.
Itu seperti sebuah alarm yang akan membuat
penontonnya secara spontan menarik mundur
ekspektasi yang telah mereka pasang di level
manapun. Cerdik, mereka seperti memberikan
kejutan berupa sedikit rasa pesimis di bagian
awal untuk menjadikan penontonnya “siap”
dengan hal negatif dari sebuah sekuel sebelum
masuk kedalam pesta sesungguhnya, seperti
sedikit mencuci otak kita untuk tidak berharap
terlalu banyak namun kemudian memberikan
kejutan lainnya yang akhirnya membuat kita
keluar dari pesta tersebut dengan rasa puas
yang sama dengan pendahulunya.
Yap, strategi diawal itu ternyata berhasil karena
pengulangan plot pada film pertama yang
muncul pada naskah yang disusun oleh Michael
Bacall, Oren Uziel, dan Rodney Rothman,
begitupula pada cara Phil Lord dan Christopher
Miller memadukan mereka yang juga masih
bermain pada formula default film pertamanya
berhasil bersatu menjadi sebuah komedi bodoh
yang menyenangkan.
Tidak banyak yang berubah disini, Phil Lord
dan Christopher Miller masih menggunakan
rumus yang sama: plot yang ringan, dangkal,
dan standard, alur yang dominan berisikan hal-
hal gimmick disengaja, hal-hal konyol, bodoh,
apapun itu sebutannya yang silih berganti hadir
dengan liar dalam gerak cepat yang terkendali,
hingga sedikit drama pada dua karakter
utamanya dengan tema persahabatan.
Yang menjadikan tumpukan materi tadi bekerja
dengan baik adalah kemampuan dari Phil Lord
dan Christopher Miller memberikan mereka
waktu untuk beraksi dan mencuri atensi tanpa
harus saling merusak satu sama lain, meskipun
banyak diantaranya tampil dengan membawa
kesan klise bahkan beberapa terasa hambar. Ini
yang aneh, kita tahu ini klise, kita tahu ini
bodoh, kita juga tahu ini dangkal, tapi mereka
tidak mengganggu kenikmatan petualangan
yang mencoba tampil sedikit satir dan kini
sedikit menggeser fokusnya itu.
22 Jump Street bukan sekedar berisikan aksi
prosedurial polisi namun kini mencoba untuk
menggambarkan persahabatan diantara dua
senjata utamanya yang kini diputar posisinya
itu, selalu diwarnai dengan aksi ejek baik
menggunakan fisik maupun verbal dengan
mengandalkan perbedaan diantara mereka
dilengkapi dengan penggunaan split-screen
yang kreatif, hadir dengan komposisi yang pas
sehingga tidak terlalu lembek serta tidak
menguras energi sektor fun lainnya, seperti
adegan aksi.
DOWNLOAD

sub indo

Tidak ada komentar: