Kamis, 09 Oktober 2014

ABCs of Death 2 (2014)

sinopsis:
Terlepas dari banyaknya segmen yang terasa ‘meh‘ ketimbang ‘wah’, tidak bisa dipungkiriThe ABCs of Deathadalah sebuah proyek omnibus ambisius paling sinting yang belum pernah dibuat sebelumnya bahkan pesonanya masih belum bisa ditandingi oleh koleganya macam dwilogiV/H/Syang ironisnya lebih bagus.Seperti pendahulunya, sekuelnya ini masih berisi 26 film pendek bergenre horor fantastic yang dibuat oleh rombongan sineas ‘gila’ dari seluruh penjuru dunia di mana setiap filmaker mendapat satu huruf dari masing-masingalfabet untuk dibuatkan horor pendeknya. Berita gembiranya, secara keseluruhan The ABCs of Death 2 mengalami peningkatan kualitas ketimbang predesesornya.Tidak lagi banyak menghadirkan segmenabusrd dari horor-horor gila Jepang yang menjijikan, meskipun di sisi lain ia juga tidak benar-benar memilik segmen menohok macam “L for Libido” Dibuka dengan salah satu opening credit paling keren tahun ini lengkap , pelajaran mengeja paling berdarah kali ini dimulai oleh “A is for Amateur” dari E. L Katz yang sepertinya tahu benar bagaimana mengimplementasikan premis tentang ekpektasi bisa berbeda sama sekali dengan kenyataan. Segmen yang dimulaidengan keren dan berakhir dengan kekonyolan ber-twist mengejutkan, samasekali tidak buruk untuk bab pembuka meskipun kandungan gore-nya tidak sebanyak A is for Apocalypse milik Nacho Vigalondo dua tahun lalu.Huruf B buat “Badger” milik Julian Barrattdikemas dengan format mokumentari sederhana tentang mahluk penghuni lubang yang tidak pernah terlihat wujudnya jelas harus mengakui kekalahannya dari “C is for Capital Punishment”-nya Julian Gilbey yang punya premis simpel dengan tingkat goreyang membuatmu bergidik, menonton segmen ini seperti sedang menonton proses pemegalan kepala oleh para teroris yang sering beredar di dunia maya.“Deloted” dari Robert Morgan mewakili alfabet “D” mungkin adalah animasi stop-motion paling mengerikan sekaliguspaling sinting yang pernah dibuat, plotnya terasa abusrd tetapi sulit untuk menolak pesonanya yang menjijikan, salah satu favorit di The ABCs of Death 2.Tidak banyak mengumbar horor dan kekejaman, “E is for Equilibrium” dari Aljandro Brugues menjadi tontonan ringan dan kocak tanpa dialog yang menghibur ketika dua sahabat yang tengah terdampar di sebuah pulau terpencil kedatangan teman baru, seorang wanita yang kemudian menghadirkan konflik.“F is for Falling” garapan duo Aharon Keshales dan Navot Papushado adalah segmen terlemah pertama. Bukan tidak menawarkan premis yang bagus, tetapi tanpa memunculkan kesan horor sama sekali mungkin idenya lebih cocok jika dibuat dalam durasi drama yang lebih panjang.Melanjutkan tren yang mulai terasa mengecewakan adalah besutan Jim Hosking, “G is for Grandad” cerita kakek-cucu yang kurang menarik, mesum dan berakhir dengan pemandangan ‘semak belukar’ yang menjijikan. Satu lagi segmen absurd diwakili oleh animasi aneh buatan Bill Plympton dalam “H is for Head Games”.Sineas Filipina Erik Matta unjuk gigi dalam chapter “I is for Invincible” yang jenaka, tentang sekelompok anak-cucu yang tengah berusaha membunuh nenekmereka untuk mendapat warisan. Aromaexorcism dan horor spritual menegangkan mewarnai segmen ke-10, “Jesus” mewakili huruf J dari Dennison Ramalho yang pantas dibuat film panjangnya, sama pantasnya dengan idesci-fi thriller dari “K is for Kneel”-nya Kristina Buozyte dan Bruno Samper yang terasa nanggung karena hanya tampil dalam durasi yang terlewat singkat.Jika tahun lalu segmen “L for Libido” adalah juara dan menjadi salah satu alasan mengapa kamu harus menonton antologi horor ini, maka bersiaplah kecewa karena untuk sekulenya, segmenL harus tampil mengecewakan ketika “L is for Legacy” milik Lancelot Imausen yang membawa cerita ‘Gendurowo’ dari Afrika yang buruk.“M is for Masticate” sedikit banyak sudahmengingatkan kita pada segmen “D is forDogfight” di seri pertamanya yang dipenuhi dengan efek slowmotion, tidak terlalu istimewa meskipun juga tidak buruk. Sementara ada premis menarik tentang sebab-akibat yang kurang digali di “N is for Nexus” milik Larry Fessenden yang dilanjutkan dengan wakil Jepang dalam “O is for Ochlocracy (Mob Rule)” bersama premis zombie yang menyegarkan dari Hajime Ohata.Tod Rohall dengan “P is for P-P-P-P Scary!” mencoba mencairkan suasana dengan komedi horor anehnya yang jujursaja, tidak bekerja, beruntug “Q is for Questionanaire” memberi obat kekecewaan dengan premis tentang tanya jawab berujung ekperimen maut dengan plot tumpang tindih yang menarik.“R is for Roulette” dari Marvin Kren menawarkan plot simpel tentang permaian roulette maut Rusia yang menegangkan dengan twist lumayan di ujungnya. Ada home invasion thriller brutal di “S is for Split” yang efektif memberi kesenangan tersendiri dengan kejutannya.“T is for Torturen Porn” dari si kembar Jendan Sylvia Soska menghadirkan sub-genre body horor yang simpel dan berdarah-darah dari sebuah casting yangdilanjutkan dengan segmen sci-fi “U is forUtopia”-nya Vicenzo Natali yang mungkinlebih cocok dibuatkan versi lebih panjangnya. “V is for Vaction” membawa kembali horor mokumentari, jauh lebih baik dari Deloted dan jauh lebih berdarah-darah. Segmen horor fantasi yang tidak terlalu bagus hadir dalam “W is for Wish” milik Steven Konstanski.Ungkapan “save the best for the last” sepertinya patut disematkan buat The ABCs of Death 2 ketika ia menyimpan tiga segmen terbaiknya di akhir durasi. Dimulai dengan “X is for Xyolophone” dengan kandungan plot simpel dan gore maksimal yang dengan mudah menjadi segmen favorit.Lalu ada “Y is for Youth” lagi-lagi dari sineas Jepang yang dipenuhi dengan kreatifitas sinting yang melibatkan hamburger dan penis rakasasa sebagai simbolisasi dari gejolak kaum muda yangmuak dengan aturan para orangtua mereka. Dan pemungkasnya ada “Z is forZygote”, segmen terbaik dari The ABCs ofDeath 2 milik Chris Nash yang punya premis yang sama sintingnya dengan presentasinya. Sebuah sajian yang akan memaksa penontonnya menjerit puas.
slmt menikmati :-)

langsung comot

Tidak ada komentar: